Socio-Cultural
Gawat! 2026, Cari Kerja Bisa Makin “Toxic”. Perusahaan Udah Enggan Hiring, Ternyata Ini Dalangnya

Pusing cari kerja di 2026? Tenang, kamu nggak sendirian. Tren PHK dan minimnya lowongan baru diprediksi masih panjang. Tapi ada sisi lain buat kamu yang mau bertahan. Simak faktanya!
JAKARTA | Halo, Gen Z dan Millennials yang lagi gebet-gebet ngirim CV! Siap-siap denger kabar yang nggak bikin semangat nih. Prediksi buat cari kerja di tahun 2026 kayaknya bakal makin berat aja. Iya, lebih berat dari sekarang.
Faktanya, banyak perusahaan, terutama yang gede-gede, mulai ngerem buka lowongan. Mereka juga masih terus melakukan PHK. Dan yang jadi “aktor utama” di balik semua ini? Yap, Artificial Intelligence atau AI.
Jadi, ini bukan cuma masalah ekonomi doang. Tapi lebih ke revolusi teknologi yang bikin perusahaan mikir dua kali buat nambah kepala. Kenapa hire banyak orang kalau sebagian kerjaan bisa dikerjain sistem otomatis dan AI?
Perusahaan Raksasa Paling Merasakan Dampaknya
Neel Kashkari, Presiden Federal Reserve Minneapolis, ngasih konfirmasi soal tren ini. Dalam wawancaranya sama CNBC Internasional, Sabtu (17/1/2026), dia bilang, “AI benar-benar berdampak ke perusahaan besar.”
Sejak ChatGPT OpenAI meledak di 2022, dunia bisnis kayak kebagian mainan baru. Mereka berlomba-lomba adoptek teknologi AI buat efisiensi. Mulai dari otomasi tugas administrasi, analisis data, sampai customer service pake chatbot.
Tapi, efek sampingnya, kebutuhan bakal tenaga manusia buat posisi-posisi tertentu jadi berkurang drastis. Alhasil, buka lowongan? Nggak mendesak banget. Malah, yang ada malah efisiensi dengan mengurangi karyawan.
Tapi, Ada Pula Sisi Terangnya Buat Perusahaan Kecil
Nah, kabar baiknya (sedikit), dampak ini nggak terlalu kelihatan di perusahaan kecil dan menengah (UKM). Kenapa? Karena resource buat beli atau bangun teknologi AI masih mahal buat mereka. Jadi, proses rekrutmen di level UKM mungkin masih lebih stabil dibanding korporasi raksasa.
Selain itu, Kashkari juga ngasih secercah harapan. Dia bilang, investasi di AI nggak semuanya sia-sia. Banyak bisnis yang akhirnya merasakan langsung manfaatnya.
“Banyak cerita soal bisnis yang pake ini dan lihat peningkatan produktivitas yang nyata,” jelas Kashkari. Bahkan, perusahaan yang dulu skeptis, sekarang udah berbalik haluan. “Bisnis yang saya ajak bicara, yang dua tahun lalu ragu-ragu, sekarang bilang mereka benar-benar udah pakai AI,” tambahnya.
Lalu, Gimana Strategi Kita Buat Bertahan?
Situasinya emang lagi susah. Tapi bukan berarti nggak ada jalan. Daripada panik, mending kita adaptasi. Skill yang pure manual dan repetitif, pelan-pelan bakal tergantikan. Jadi, fokusnya sekarang adalah upgrade skill.
Cari kemampuan yang sulit diambil alih mesin. Kayak critical thinking, kreativitas, emotional intelligence dalam negosiasi, dan yang pasti, kemampuan buat mengoperasikan atau mengelola teknologi AI itu sendiri. Jadi, kamu yang bisa perintahin AI, bakal lebih dilirik dibanding yang cuma bisa dikasih perintah sama orang.
Intinya, medan perang cari kerja di 2026 emang berubah. Musuhnya bukan cuma kompetitor manusia lain, tapi juga teknologi. Tapi selama kita bisa berkolaborasi sama teknologi dan jadi lebih pintar, peluang itu selalu ada. Mau jadi yang tergantikan, atau jadi yang mengendalikan? Pilihannya, mulai dari sekarang.
source: cnbcindonesia
Tren warga Indonesia pindah kewarganegaraan ke Singapura makin meningkat setiap tahun. Tapi tahu nggak sih, ternyata...
Update titik kemacetan puncak mudik Nataru 2026 di Tol Jasa Marga Transjawa, hindari KM 48 dan...
Lagi asik belanja weekend, tiba-tiba ada ‘tamu tak diundang’ yang bikin semua orang kabur. Kisah beruang...
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) tegaskan: izin ambil foto orang wajib sebelum jepret, bukan setelah diunggah....
Event budaya terbesar tahun ini beneran heboh! Dari anak 5 tahun sampai yang 70 tahun ikutan...
