Connect with us

AS Bikin Bingung Sendiri! Alasan Trump Serang Iran Jadi Nggak Nyambung

International News

AS Bikin Bingung Sendiri! Alasan Trump Serang Iran Jadi Nggak Nyambung

Sikap AS “Mencla-mencle”, Alasan Trump Serang Iran Makin Tak Jelas. (Foto ilustrasi karikatur: AI)

Setelah serangan gabungan AS–Israel ke Iran, publik AS malah bingung sama alasan di balik keputusan itu. Trump dan Menlu Rubio malah beda omongan.

JAKARTA | AS Serang Iran, Tapi Alasannya “Ganti-Ganti”.

Washington lagi-lagi panas. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, bikin heboh setelah ngasih alasan yang bikin bingung soal keputusan militernya di Timur Tengah. Dalam konferensi pers di Gedung Putih, Trump bilang kalau serangan AS ke Iran bareng Israel itu dilakukan karena “Teheran bakal nyerang duluan.”

Trump ngomong ini saat duduk bareng Kanselir Jerman, Friedrich Merz, di Ruang Oval pada Selasa (3/3/2026). Dia bilang langkah itu semacam aksi preventif buat “menggagalkan rencana musuh.”

“Saya rasa mereka bakal menyerang lebih dulu. Kalau kita nggak bertindak, mereka yang mulai duluan,” kata Trump ke wartawan, dikutip dari Reuters.

Masalahnya, Trump nggak kasih bukti kuat soal ancaman itu. Tapi dia bersikeras kalau keputusan itu “nggak bisa dihindari.” Menurutnya, negosiasi sama Teheran udah mentok setelah pertemuan di Jenewa yang gagal total.

Beda Cerita dari Menlu AS

Nah, yang bikin makin rame, Marco Rubio, Menteri Luar Negeri AS, justru kasih alasan beda sehari sebelumnya. Rubio bilang, alasan AS ikut nyerang Iran karena khawatir Iran bakal balas setelah Israel nyerang duluan.

“Kami tahu akan ada aksi dari Israel, dan itu bisa picu serangan ke pasukan AS. Jadi kami bertindak duluan biar nggak jatuh banyak korban,” jelas Rubio.

Besoknya, pas ditanya media di Capitol Hill soal beda narasi ini, Rubio langsung mengelak dan nyoba nyamain suaranya sama Trump.

“Intinya, Presiden cuma nggak mau kita dipukul duluan. Sesimpel itu,” katanya pendek.

Publik dan Politisi AS: “Ini Perangnya Siapa Sih?”

Pernyataan yang saling bertentangan ini bikin netizen dan politisi AS ngamuk. Banyak yang bilang kebijakan luar negeri AS sekarang kayak dikontrol Israel, bukan demi rakyat Amerika sendiri.

Podcaster konservatif Matt Walsh langsung nyindir keras di platform X, ke empat juta pengikutnya.

“Jadi kita perang karena Israel nyuruh? Itu hal paling buruk yang bisa dia bilang,” tulis Walsh.

Nada yang sama juga datang dari Megyn Kelly, yang bilang keputusan Trump ini terasa lebih kayak perang milik Israel daripada kepentingan nasional AS.

“Tugas pemerintah kita bukan jagain Iran atau Israel, tapi rakyatnya sendiri,” tegas Kelly.

Sementara itu, nilai dolar AS lagi-lagi meroket sampai US$1 setara Rp16.880 dan sebagian ekonom mulai khawatir efek domino ke ekonomi domestik.

Iran: “Kita Nggak Mulai Apa-Apa”

Dari sisi lain, Iran langsung membantah tuduhan AS. Pemerintah Teheran bilang mereka nggak provokasi siapa pun, dan serangan udara AS–Israel itu murni tindakan agresi.

Menurut sumber Iran, pertemuan di Jenewa sebenarnya berjalan positif, tapi laporan utusan AS seperti Steve Witkoff dan Jared Kushner ke Trump justru menggambarkan sebaliknya. Akibatnya, Trump mengira Iran cuma “main waktu” buat ngembangin program nuklirnya.

“Mereka nggak mau menyerahkan bagian penting dari programnya. Itulah kenapa Presiden mutuskan serangan total,” kata salah satu pejabat senior AS dalam konferensi telepon.

Drama politik dan diplomasi ini bikin posisi AS di dunia makin dipertanyakan. Publik di negaranya sendiri bingung sebenarnya, ini perang buat siapa?

Trump bilang buat keamanan Amerika. Rubio bilang buat mencegah serangan Iran. Tapi banyak warga AS yang merasa, kali ini negaranya malah jadi pion dalam permainan yang bukan miliknya.

source: cnbcindonesia

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in International News

BLACKPINK New Album & World Tour 2025 #blackpink #blinks #worldtourdeadline
RESAH HATI EPS 4 #resahhati #contentreligi #syiar #tebarkebaikan
RASULULLAH & PARA SAHABAT Eps 3

Facebook

Culture

To Top