Presiden AS Donald Trump menjawab pertanyaan saat berbicara dalam konferensi pers di Ruang Briefing Pers James S. Brady di Gedung Putih di Washington, D.C., AS, Senin (6/4/2026). (REUTERS/Evan Vucci)
Ancaman Donald Trump ke Iran picu gelombang pemakzulan di AS. Demokrat hingga sebagian Republik mulai dorong Amandemen ke-25.
BOGOR, POPERS.ID | Gejolak politik di Amerika Serikat makin panas setelah Presiden Donald Trump melontarkan ancaman ekstrem untuk melenyapkan peradaban di Iran. Laporan CNBC International menyebut, desakan pemakzulan lewat Amandemen ke-25 kini makin kencang terdengar di Washington.
Awalnya, keresahan di kalangan Demokrat soal aksi Trump terhadap Nicolás Maduro dan serangan ke Iran tanpa izin Kongres masih tertahan. Tapi semuanya pecah setelah unggahan Trump di Truth Social, Selasa pagi. Ia menyebut “seluruh peradaban akan mati malam ini”, pernyataan yang langsung memicu bayangan perang nuklir.
Meski pada malam harinya AS dan Iran sepakat gencatan senjata dua minggu, kritik tidak mereda. Anggota DPR dari Demokrat, Alexandria Ocasio-Cortez, menilai ucapan itu bukan sekadar retorika, tapi ancaman nyata terhadap kemanusiaan dan alasan kuat untuk pencopotan jabatan.
Ia menyebut kemampuan mental presiden dipertanyakan dan menyerukan agar perintah ilegal ditolak, termasuk ancaman tersebut.
Ultimatum Trump sendiri muncul menjelang tenggat bagi Iran untuk mencapai kesepakatan dan membuka Selat Hormuz—jalur vital distribusi minyak dunia.
Pemimpin Minoritas Senat, Chuck Schumer, mengaku lega atas gencatan senjata, tapi tetap menyindir keras. Ia menilai Trump mundur dan mencari jalan keluar dari gertakannya sendiri.
Namun, jeda konflik ini belum cukup meredam tekanan di Kongres. Puluhan anggota Demokrat dan beberapa Republik tetap mengecam. Melanie Stansbury menegaskan, gencatan senjata tidak otomatis membuat presiden layak memimpin lagi.
Sebelumnya, wacana pemakzulan sudah muncul bahkan sebelum unggahan kontroversial itu. Trump sempat mengancam serangan ke infrastruktur Iran saat Paskah.
Anggota DPR John Larson bahkan sudah memperkenalkan pasal pemakzulan, menuduh Trump menyalahgunakan kekuasaan perang hingga melakukan kejahatan berat.
Dukungan juga datang dari Ilhan Omar yang mempertanyakan keberanian Partai Republik untuk bertindak. Sementara Ro Khanna mendorong jalur cepat lewat Amandemen ke-25.
Mantan Ketua DPR, Nancy Pelosi, ikut angkat suara. Ia meminta kewarasan segera dipulihkan dan mendesak Republik bertindak jika kabinet tidak bergerak.
Di sisi lain, Gedung Putih membalas keras. Juru bicara Davis Ingle menyebut langkah Demokrat sebagai upaya lama yang didorong kebencian politik.
Secara historis, Trump sudah dua kali dimakzulkan saat masa jabatan pertama, tapi tidak pernah dinyatakan bersalah oleh Senat. Upaya baru kali ini pun dinilai sulit karena Demokrat masih minoritas.
Maxine Waters sebelumnya juga mengakui, pemakzulan baru realistis jika Demokrat menguasai DPR.
Republik Mulai Retak?
Peluang pencopotan memang masih kecil karena Partai Republik menguasai Kongres. Selain itu, belum ada tanda pemberontakan di kabinet, termasuk dari Wakil Presiden JD Vance yang justru memuji Trump.
Namun, retakan mulai terlihat. Marjorie Taylor Greene secara mengejutkan menyebut pernyataan Trump sebagai kegilaan dan ikut menyerukan Amandemen ke-25.
Senator Lisa Murkowski juga menolak keras retorika tersebut. Ia menilai ancaman penghancuran peradaban tidak bisa dibenarkan, bahkan sebagai strategi negosiasi.
Kritik serupa datang dari Ron Johnson dan Nathaniel Moran. Mereka menegaskan, kekuatan militer tidak boleh mengarah pada penghancuran peradaban.
Sementara Kevin Kiley menutup dengan penegasan bahwa Amerika tidak menghancurkan peradaban, dan Kongres harus tetap mengawasi operasi militer agar sesuai hukum internasional.
Situasi masih dinamis. Tapi satu hal jelas, isu pemakzulan Trump kembali jadi headline besar dan berpotensi mengubah peta politik AS.