Guru Besar Universitas Trisakti Trubus Rahadiansah (kedua dari kanan) usai pertemuan dengan Wapres ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla (JK). (Foto: Tangguh Yudha)
Guru Besar Universitas Trisakti menilai program magang nasional masih perlu pembenahan pada tata kelola, pengawasan, dan kolaborasi dengan pemerintah daerah serta sektor usaha agar lebih efektif menekan pengangguran sarjana di Indonesia.
BOGOR, POPERS.ID | Program Magang Nasional Dinilai Belum Maksimal.
Program magang nasional yang digagas pemerintah kembali menjadi sorotan. Akademisi menilai program ini punya tujuan bagus, tetapi implementasinya di lapangan masih perlu banyak pembenahan.
Guru Besar dari Universitas Trisakti, Trubus Rahadiansah, mengatakan program tersebut harus diperkuat dari sisi tata kelola dan pengawasan agar benar-benar berdampak pada penurunan angka pengangguran sarjana.
Menurut Trubus, sistem monitoring dan evaluasi program magang nasional masih perlu ditingkatkan. Tanpa pengawasan yang kuat, program ini berpotensi tidak berjalan maksimal.
Ia menyampaikan hal tersebut setelah mengikuti diskusi di kediaman Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla, di Jakarta Selatan pada Minggu (15/3/2026) malam.
“Masih banyak yang perlu diperbaiki dari sisi tata kelola, pengawasan, monitoring, hingga evaluasi pelaksanaannya,” kata Trubus.
Perlu Kolaborasi Pemerintah dan Dunia Usaha
Trubus menilai kebijakan magang nasional selama ini masih bersifat top-down. Artinya, kebijakan lebih banyak datang dari pemerintah pusat tanpa dukungan optimal dari pemerintah daerah dan sektor industri.
Padahal, menurutnya, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar program ini bisa berjalan efektif.
Ia menekankan pentingnya kerja sama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta perusahaan swasta sebagai penerima peserta magang.
Dengan kolaborasi tersebut, peluang bagi lulusan baru untuk mendapatkan pengalaman kerja bisa semakin luas.
UMKM Dinilai Bisa Jadi Solusi
Selain perusahaan besar, Trubus juga mengusulkan agar sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dilibatkan lebih aktif dalam program magang nasional.
Keterlibatan UMKM dinilai bisa memperluas daya serap peserta magang sekaligus memberikan pengalaman kerja yang lebih beragam bagi para lulusan baru.
Menurutnya, banyak fresh graduate yang mengalami culture shock ketika pertama kali masuk dunia kerja karena suasananya berbeda dengan kehidupan kampus.
Program magang, kata dia, bisa menjadi jembatan penting agar lulusan baru lebih siap menghadapi dunia profesional.
“Program magang nasional bisa menjadi jembatan emas bagi sarjana untuk membangun profesionalisme, inovasi, dan kompetensi kerja,” ujarnya.
Pemerintah Siapkan Program Magang Nasional 2026
Pemerintah sendiri berencana kembali membuka program magang nasional pada tahun 2026. Targetnya tidak kecil.
Program ini ditargetkan bisa menjangkau minimal 100.000 peserta.
Informasi tersebut muncul dari unggahan akun Instagram resmi Sekretariat Kabinet Republik Indonesia.
Dalam unggahan tersebut terlihat Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya bersama Menteri Ketenagakerjaan Yassierli meninjau pelaksanaan program magang di perusahaan kosmetik nasional Paragon Technology and Innovation.
Program magang nasional tahun 2025 sendiri telah diikuti sekitar 100.000 peserta dan masih berlangsung hingga pertengahan tahun ini.
Pemerintah berencana membuka kembali pendaftaran program serupa pada pertengahan tahun 2026 dengan jumlah peserta minimal sama.
Program ini diharapkan menjadi salah satu langkah konkret pemerintah untuk membantu lulusan baru mendapatkan pengalaman kerja sekaligus mengurangi angka pengangguran sarjana di Indonesia.