Connect with us

Gen Z Paling Ngenes di Kantor? Ternyata Ini Penyebabnya Bukan Cuma Gaji!

Socio-Cultural

Gen Z Paling Ngenes di Kantor? Ternyata Ini Penyebabnya Bukan Cuma Gaji!

Ilustrasi. Karyawan Gen Z. (Foto ilustrasi: AI)

Riset Jobstreet ungkap Gen Z paling nggak bahagia kerja di Indonesia. Mereka merasa kaga dihargai & kerjaannya nggak ada arti. Simak penyebab dan solusinya biar nggak makin burnout.

BOGOR, POPERS.ID | GEN Z NGGAK BAHAGIA KERJA? RISET BILANG “GUE BANGET, NIH!”

Lo pernah ngerasa cuma jadi robot di kantor? Ngerjain tugas terus, tapi nggak tau ujung-ujungnya buat apa? Lo nggak sendirian. Riset terbaru Jobstreet by SEEK ngasih bukti: Gen Z adalah generasi paling nggak bahagia di dunia kerja Indonesia. Padahal, pekerja Indonesia secara umum justru dinobatin yang paling bahagia se-Asia Pasifik, lho! Ironis banget, kan?

Nih, angkanya nyebelin: tingkat kebahagiaan Gen Z cuma 76%. Kalah jauh sama Gen X (85%) dan Milenial (84%). Padahal, anak-anak muda kita ini udah mulai membanjiri kantor-kantor. Jadi, apa yang salah?

Bukan Gaji, Tapi “Gue Nggak Dianggap!”

Menurut Wisnu Dharmawan dari Jobstreet by SEEK, masalahnya nggak cuma di duit atau jam kerja yang panjang. Akar masalahnya lebih dalam: perasaan nggak dihargai dan nggak nyambung sama tujuan kerja.

“Gen Z sering merasa cuma ngerjain tugas harian, tapi nggak tau dampaknya ke tujuan besar perusahaan,” kata Wisnu. Bayangin, lo disuruh input data berjam-jam tapi nggak pernah dikasih tau data itu buat apa. Bikin kesel, pasti.

Riset ini nyatain Gen Z paling nggak puas sama dua hal utama: work-life balance dan purpose at work alias kerja yang punya makna. Mereka juga paling jarang ngerasa hasil kerjaannya diapresiasi sama bos.

Mereka Bukan Anti Kerja Keras, Cari Fleksibilitas!

Jangan salah paham dulu. Wisnu ngegas kalo Gen Z itu bukan generasi males-malesan atau anti kerja keras. Stereotip itu salah total. Yang mereka cari sebenernya simpel: fleksibilitas dan kejelasan.

“Work-life balance itu sering disalahartikan jadi kerja lebih sedikit. Padahal enggak. Intinya di fleksibilitas dan integrasi antara kerja dan hidup,” jelas Wisnu.

Buat Gen Z, punya opsi kerja hybrid atau WFH, bisa ngatur ritme kerja sendiri, itu jauh lebih berharga daripada sekadar status karyawan tetap. “Kerja full-time pun bisa kasih work-life balance kalau desain kerjanya bener,” tambahnya.

Ditambah Kondisi Lapangan Kerja yang ‘Toxic’

Masuknya Gen Z ke dunia kerja pas banget sama kondisi yang lagi sulit. Data Jobstreet nunjukkin 43% pekerja Indonesia kena burnout, dan Gen Z termasuk yang paling rentan.

Masih belum cukup, ada juga ancaman AI yang bikin cemas. 42% pekerja Indonesia takut pekerjaannya digantiin sama robot. Bayangin aja buat anak muda yang karirnya baru jalan, tekanan ini bisa bikin makin galau.

“Ketika pilihan kerja terasa terbatas dan masa depan keliatannya nggak pasti, wajar kan kalo Gen Z jadi lebih cemas?” kata Wisnu. Di Indonesia yang jumlah pelamar kerja jauh lebih gede dari lowongannya, banyak anak muda akhirnya milih betah di kerjaan yang bikin nggak bahagia, demi sekadar punya pekerjaan.

Kuncinya: Kasih Konteks & Apresiasi, Dijamin Mereka ‘Go The Extra Mile’

Nah, ini yang penting buat perusahaan. Riset ini buktiin, karyawan yang bahagia itu 90% siap buat kerja extra dan ngasih yang terbaik. Sementara yang nggak bahagia, angkanya jatuh drastis.

Jadi, solusinya apa? Wisnu bilang perusahaan harus ubah cara pandang. “Bukan dengan push lebih keras, tapi dengan kasih konteks, apresiasi, dan ruang buat berkembang.”

Bos-bos disarankan buat lebih sering nge-link-in tugas harian anak buahnya dengan tujuan besar perusahaan. Jangan lupa juga kasih pengakuan atas progres sekecil apapun. “Kalau Gen Z udah ngerasa dihargai dan kerjaannya bermakna, mereka justru bisa kasih lebih buat perusahaan,” pungkas Wisnu.

Intinya: Gen Z nggak cuma cari cuan. Mereka pengen dianggap, pengen kerjaannya berarti, dan pengen hidupnya nggak cuma untuk kerja doang. Simple, tapi dampaknya besar buat masa depan dunia kerja kita.

source: cnbcindonesia

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Socio-Cultural

BLACKPINK New Album & World Tour 2025 #blackpink #blinks #worldtourdeadline
RESAH HATI EPS 4 #resahhati #contentreligi #syiar #tebarkebaikan
RASULULLAH & PARA SAHABAT Eps 3

Facebook

Culture

To Top