Connect with us

Sering Curhat ke AI? Hati-Hati, Bisa Jadi Tanda Kamu Lagi Depresi

Health and Mental Health

Sering Curhat ke AI? Hati-Hati, Bisa Jadi Tanda Kamu Lagi Depresi

(Foto ilustrasi: AI)

Penelitian terbaru di Amerika bilang, orang yang ngobrol tiap hari sama chatbot kayak ChatGPT atau Gemini cenderung punya gejala depresi lebih tinggi. Tapi para ahli ingatkan: belum tentu si AI yang bikin depresi.

POPERS.ID | Ngobrol Tiap Hari Sama AI? Hati-Hati, Bisa Jadi Sinyal Depresi.

Di era sekarang, ngobrol sama AI kayak ChatGPT, Google Gemini, atau Copilot udah kayak hal biasa. Ada yang pakai buat kerja, curhat, bahkan sekadar ngobrol biar nggak sepi. Tapi ternyata, menurut riset terbaru di JAMA Network Open, kebiasaan ini bisa jadi sinyal ada yang nggak beres di sisi mental.

Peneliti menemukan bahwa orang yang pakai chatbot AI tiap hari punya kemungkinan 30% lebih tinggi ngalamin gejala depresi tingkat sedang, dibanding yang jarang interaksi sama AI.

Data di Balik Risetnya

Riset ini ngambil data dari hampir 21.000 orang dewasa di Amerika Serikat sepanjang tahun 2025. Pesertanya diminta jawab dua hal: seberapa sering mereka ngobrol sama AI, dan gimana kondisi mental mereka lewat kuesioner standar kesehatan jiwa.

Hasilnya cukup menarik. Sekitar 10% responden bilang mereka ngobrol dengan AI setiap hari, dan 5% lainnya bahkan beberapa kali dalam sehari. Kelompok yang paling sering pakai AI ini dilaporkan lebih banyak menunjukkan gejala depresi, cemas, atau gampang marah dibanding pengguna biasa.

Tapi Jangan Salah Paham: AI Nggak Selalu Jadi Penyebab

Para peneliti hati-hati banget dalam menarik kesimpulan. Mereka bilang, riset ini cuma nemuin hubungan, bukan penyebab langsung. Artinya, belum tentu AI yang bikin orang jadi depresi.

Kemungkinan lain, orang yang udah merasa kesepian atau depresi duluan lebih sering ngobrol sama AI karena ngerasa didengerin, lebih aman, atau nggak dihakimi. Jadi bukan karena AI yang bikin down, tapi karena mereka udah butuh tempat curhat dan chatbot jadi salah satu “teman” yang selalu siap 24 jam.

Menariknya, hasil riset juga nunjukin kalau kelompok usia 45–64 tahun punya hubungan paling kuat antara penggunaan AI dan gejala depresi. Tapi, alasan pastinya masih belum jelas.

Di Sisi Lain, AI Juga Punya Manfaat

Bukan berarti AI sepenuhnya buruk buat kesehatan mental. Dalam beberapa studi sebelumnya, AI yang dirancang untuk terapi misalnya berbasis CBT (Cognitive Behavioral Therapy) atau yang dipandu langsung oleh profesional kesehatan mental bisa bantu ngurangin gejala depresi dan rasa kesepian.

Masalahnya, AI yang dipakai untuk ngobrol santai atau teman sehari-hari punya efek berbeda. Kalau terlalu sering bergantung pada chatbot, orang bisa makin jauh dari interaksi manusia asli, dan akhirnya makin sulit mencari bantuan profesional atau support sosial yang nyata.

Jadi, Apa yang Bisa Kita Pelajari?

Peneliti sepakat: AI bukan musuh, tapi juga bukan solusi utama buat masalah emosional.
Kalau kamu ngerasa makin sering curhat ke AI karena kesepian, stres, atau cemas itu bisa jadi sinyal buat introspeksi.

AI bisa bantu kita berpikir, nyari ide, atau sekadar nemenin ngobrol. Tapi buat urusan perasaan dan hubungan manusia, nggak ada yang bisa gantiin sentuhan nyata dan empati dari sesama manusia.

Kalau kamu merasa mentalmu lagi nggak stabil, jangan ragu buat cari pertolongan ke profesional psikolog, psikiater, atau sekadar ngobrol sama teman dekat. Karena di balik layar monitor, kadang yang paling kita butuhin bukan jawaban pintar dari mesin, tapi pelukan dan perhatian dari manusia beneran.

source: Digitaltrends

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Health and Mental Health

BLACKPINK New Album & World Tour 2025 #blackpink #blinks #worldtourdeadline
RESAH HATI EPS 4 #resahhati #contentreligi #syiar #tebarkebaikan
RASULULLAH & PARA SAHABAT Eps 3

Facebook

Culture

To Top