Alfiansyah Komeng ngobrol santai tentang Empat Pilar Kebangsaan dengan PMII Cibinong. (Foto: Ist)
Acara yang digelar oleh Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cibinong ini mengupas pentingnya pemahaman Empat Pilar Kebangsaan Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai fondasi persatuan bangsa di tengah keberagaman Indonesia.
POPERS.ID | Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Bogor kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat nilai-nilai kebangsaan. Melalui kegiatan bertajuk “Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan”, PMII Cibinong menghadirkan Alfiansyah Komeng, anggota DPD RI, sebagai narasumber utama dalam acara yang berlangsung di Café Enthree, Cibinong, pada 14 Desember 2025 pukul 07.00 WIB.
Acara ini dihadiri oleh puluhan mahasiswa dan anggota komunitas PMII dari berbagai kampus di wilayah Bogor. Dengan suasana santai namun sarat makna, kegiatan tersebut menjadi ruang diskusi terbuka mengenai pentingnya memahami Empat Pilar Kebangsaan Indonesia, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.
Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika: Satu Napas untuk Persatuan
Dalam pemaparannya, Alfiansyah Komeng menekankan bahwa empat pilar kebangsaan bukan sekadar slogan, melainkan pedoman hidup dalam menjaga keberagaman dan keutuhan bangsa.
“Pancasila adalah ideologi kita, UUD 1945 konstitusi kita, NKRI bentuk negara kita, dan Bhinneka Tunggal Ika adalah semboyan yang mempersatukan kita. Empat hal ini ibarat tiang penyangga yang membuat rumah besar bernama Indonesia tetap kokoh berdiri,” jelas Komeng di hadapan peserta.
Ia juga menambahkan, generasi muda khususnya mahasiswa memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan agar tidak luntur di era digital yang penuh tantangan.
Interaksi Inspiratif antara Narasumber dan Peserta
(Foto: Ist)
Sesi tanya jawab menjadi bagian paling menarik dari acara ini. Beberapa peserta PMII mengajukan pertanyaan reflektif yang menunjukkan kepedulian mereka terhadap masa depan bangsa.
Penanya pertama, Fauzi, mahasiswa Universitas Djuanda, menanyakan bagaimana cara generasi muda dapat mempertahankan semangat kebangsaan di tengah derasnya pengaruh budaya asing di media sosial.
Komeng menjawab, “Kita tidak bisa menolak arus globalisasi, tapi kita bisa menyaringnya. Gunakan media sosial untuk menyebarkan nilai-nilai Pancasila, bukan untuk membenturkan perbedaan.”
Penanya kedua, Nurul Hidayah, aktivis PMII Cibinong, mengaitkan tema kebangsaan dengan kegiatan sosial komunitas.
“PMII selama ini aktif dalam kegiatan sosial seperti penggalangan dana untuk korban bencana. Apakah ini juga bentuk implementasi dari Empat Pilar?” tanya Nurul. Komeng menegaskan, “Betul sekali. Kepedulian sosial adalah wujud nyata sila kedua Pancasila, ‘Kemanusiaan yang adil dan beradab’. Itulah mengapa aksi sosial mahasiswa punya nilai kebangsaan yang tinggi.”
Sementara itu, penanya ketiga, Ahmad Rifki, menyoroti pentingnya Bhinneka Tunggal Ika dalam menghadapi isu perpecahan di masyarakat.
Komeng menjawab tegas, “Perbedaan bukan alasan untuk berpecah, tapi alasan untuk saling memahami. Kalau mahasiswa tidak bisa mempraktikkan nilai Bhinneka Tunggal Ika di kampus, bagaimana bisa menularkannya ke masyarakat?”
Semangat Kebangsaan dari Generasi Muda
Ketua PMII Cibinong, Rahmat Maulana, mengapresiasi kehadiran Alfiansyah Komeng dan menegaskan bahwa kegiatan semacam ini penting untuk terus dilaksanakan secara berkelanjutan.
“Kami ingin mahasiswa tidak hanya cerdas secara akademik, tapi juga memiliki semangat nasionalisme yang kuat,” ujarnya.
Acara ditutup dengan doa bersama dan foto bersama antara Komeng dan seluruh peserta. Diskusi hangat malam itu meninggalkan pesan mendalam: bahwa menjaga empat pilar kebangsaan bukan sekadar tugas pemerintah, tapi tanggung jawab seluruh rakyat Indonesia terutama generasi muda. [popred]