Jobstreet by SEEK ungkap Indonesia punya jumlah iklan lowongan kerja palsu paling tinggi di Asia Pasifik. Modusnya makin halus, korban makin banyak, dan kerugiannya gak main-main.
JAKARTA | Indonesia lagi-lagi memimpin, tapi sayangnya bukan di bidang yang bikin bangga. Berdasarkan data Jobstreet by SEEK, negeri ini mencatat jumlah iklan lowongan kerja terindikasi penipuan paling tinggi di Asia Pasifik. Bahkan, jumlahnya dua kali lipat lebih banyak dibanding Filipina yang duduk di posisi kedua.
Fenomena ini muncul di tengah pasar kerja yang makin ketat, sementara angka pengangguran masih tinggi banget. Per Oktober 2025, tercatat 7,5–7,6 juta orang di Indonesia masih belum punya kerja sekitar 4,8% dari total tenaga kerja nasional. Tekanan ekonomi bikin banyak orang jadi lebih agresif cari kerja, dan celah itulah yang dimanfaatkan para penipu.
“Semakin tinggi tekanan ekonomi dan pengangguran, semakin besar peluang penipu masuk. Desperate job seekers itu yang paling mudah terjebak modus penawaran kerja palsu,” Willem Najoan, Operations Director Jobstreet by SEEK, ke CNBC Indonesia (27/11/2025)
🔄 Modus Penipuan Loker: Bergeser & Makin Rapi
Kalau dulu modusnya ketahuan dari awal, sekarang pelaku makin canggih dan halus. Jobstreet nemuin tren baru: penipu gak cuma nyasar jenis pekerjaan tertentu, tapi juga mulai menyusup lewat kanal sehari-hari kayak WhatsApp, Instagram, bahkan Telegram.
Dari situ, korban sering dengan santai ngirim CV, KTP, dan data pribadi lain tanpa sadar lagi kasih akses ke informasi sensitif.
Yang lebih ngeselin, modus “diterima tanpa proses” makin sering muncul. Jadi, si pelaku langsung bilang pelamar “lolos seleksi” tapi minta biaya administrasi, seragam, atau ID card yang harus dibayar hari itu juga. Karena diburu waktu dan panik, banyak korban akhirnya nurut.
📉 Korban dan Kerugian: Angka Nyata yang Bikin Ngeri
Data Bareskrim Polri nunjukin dari 2022–2024, udah ada 823 korban penipuan lowongan kerja, dengan total kerugian mencapai Rp 59 miliar!
Selain itu, 3.239 WNI juga teridentifikasi dalam operasi scam online di Asia Tenggara, dan 1.132 orang jadi korban TPPO (Tindak Pidana Perdagangan Orang) berkedok lowongan kerja palsu.
“Angka itu kemungkinan cuma puncak gunung es, karena banyak korban yang gak melapor,” kata Willem.
Kenapa Indonesia Jadi “Hotspot” Penipuan Loker?
Jobstreet nemuin tiga faktor utama kenapa Indonesia jadi sarang empuk buat scam rekrutmen online:
Entry barrier kerja yang rendah. Posisi seperti admin, office support, retail, dan operator pabrik gak butuh skill khusus. Karena pelamarnya banyak, peluang korban juga makin tinggi.
Rekrutmen lewat media sosial. Banyak bisnis kecil pasang loker di WhatsApp atau Instagram tanpa verifikasi. Pelaku gampang banget nyamar jadi “HRD abal-abal”.
Tekanan ekonomi & urgensi palsu. “Modus utama mereka itu urgensi. Harus bayar hari ini, harus daftar sekarang, kalau enggak lowongannya hilang,” jelas Willem. Pelamar yang lagi terdesak finansial paling gampang ketipu.
🛡️ Jobstreet Mulai Bertindak
Biar gak makin parah, Jobstreet mulai bersih-bersih sistem rekrutmen mereka. Dari Juli 2024 sampai Juni 2025, platform ini:
Menolak 3.600 perusahaan yang gagal verifikasi,
Nutup 650 akun berisiko tinggi,
Hapus 2.800 iklan lowongan yang terindikasi penipuan.
“Dari total 4,3 juta iklan yang masuk, semuanya kami pindai 100%,” kata Willem.
💡 Tips Aman Buat Kamu yang Lagi Cari Kerja
Selalu cek ulang perusahaan. Pastikan punya alamat, website, dan email resmi (bukan Gmail/Yahoo).
Jangan pernah bayar apa pun. Lowongan kerja yang minta uang di awal itu red flag besar.
Gunakan platform terpercaya. Jangan kirim CV sembarangan via WhatsApp atau DM Instagram.
Laporkan ke polisi atau Jobstreet kalau nemu iklan mencurigakan.
Kesimpulan: Kasus penipuan lowongan kerja di Indonesia udah masuk level serius. Makin banyak orang yang terdesak, makin besar juga peluang penipu main. Jadi, buat kamu para job seeker, jangan cuma semangat apply, tapi juga wajib waspada dan cek ulang tiap tawaran kerja yang masuk. Better safe than sorry.