Band metal legendaris Seringai resmi tarik semua lagu dari Spotify. Alasannya? Mereka ogah terlibat, bahkan secara nggak langsung, sama perusahaan yang punya hubungan dengan industri militer.
JAKARTA | Seringai Out dari Spotify: “Kami Nggak Mau Terafiliasi Sama Peperangan”
Langkah berani diambil band metal asal Indonesia, Seringai. Per Selasa (14/10), mereka resmi cabut semua katalog musik dari Spotify. Alasannya cukup tegas: mereka nggak mau punya hubungan langsung maupun nggak langsung dengan dukungan terhadap peperangan.
Menurut sang manajer, Wendi Putranto, keputusan ini muncul setelah CEO Spotify, Daniel Ek, dilaporkan investasi besar-besaran di Helsing, perusahaan teknologi drone dan AI yang digunakan untuk pengembangan militer.
“Band members Seringai dan seluruh karya yang mereka ciptakan menolak terafiliasi dengan kegiatan tersebut maupun mendukung peperangan,” ujar Wendi seperti dikutip dari detikcom.
Tenang, Lagu-Lagu Seringai Masih Bisa Didenger di Platform Lain
Buat lo yang panik karena playlist gym-nya jadi sepi, santai aja. Seringai cuma mundur dari Spotify doang.
“Masih tersedia di streaming platform musik lainnya kok,” lanjut Wendi.
Artinya, lo tetap bisa dengerin Serigala Militia atau Tragedi di platform lain kayak Apple Music, YouTube Music, dan sebagainya.
Bukan Sekadar Aksi, Tapi Pernyataan Sikap
Keputusan ini bukan cuma soal bisnis. Ini bagian dari idealisme dan pesan perdamaian yang udah lama dipegang Seringai.
Band ini dikenal konsisten ngangkat isu sosial, kemanusiaan, dan perlawanan terhadap ketidakadilan. Jadi langkah keluar dari Spotify ini semacam “walk the talk” mereka nggak mau musiknya dipakai di platform yang punya jejak ke bisnis senjata.
Menariknya, bukan cuma Seringai yang bersikap. Band Majelis Lidah Berduri juga ikut cabut dari Spotify karena alasan serupa.
Bukan Cuma di Indonesia, Musisi Dunia Juga Ikut Gerak
Aksi boikot ini ternyata udah jadi gerakan global sejak September 2025. Beberapa musisi internasional kayak Massive Attack juga narik semua musiknya dari Spotify dan gabung gerakan #NoMusicForGenocide, yang diikuti lebih dari 400 artis dan label rekaman.
Dalam pernyataan resminya, Massive Attack bilang:
“Mengingat adanya investasi signifikan CEO Spotify di perusahaan pembuat drone dan teknologi AI militer, kami meminta label kami untuk menghapus musik dari Spotify di seluruh dunia.”
Selain mereka, ada juga:
King Gizzard & The Lizard Wizard (Australia)
Godspeed You! Black Emperor (Kanada)
Hotline TNT (AS)
Deerhoof (AS)
Wu Lyf (Manchester)
Semua punya alasan yang sama: menolak normalisasi perang lewat investasi di industri militer.
Spotify dan Helsing Angkat Bicara
Spotify langsung kasih klarifikasi.
“Spotify dan Helsing adalah dua perusahaan yang benar-benar terpisah,” kata juru bicara Spotify.
Mereka juga bilang Helsing nggak terlibat di Gaza dan cuma fokus “membantu pertahanan Eropa di Ukraina.”
Pihak Helsing pun menegaskan:
“Ada banyak misinformasi soal teknologi kami. Faktanya, teknologi Helsing hanya digunakan untuk pertahanan terhadap agresi Rusia di Ukraina.”
Jadi, Apa Maknanya Buat Industri Musik?
Langkah Seringai ini bisa dibilang langkah berani dan idealis banget di tengah industri musik digital yang serba komersial. Buat mereka, musik bukan cuma hiburan, tapi juga alat untuk menyuarakan sikap dan nilai kemanusiaan.
Dengan aksi ini, Seringai nunjukin bahwa jadi musisi nggak cuma soal panggung dan popularitas—tapi juga soal berani bersikap di tengah dunia yang makin kompleks.
Kesimpulan: Seringai cabut dari Spotify bukan karena drama, tapi karena sikap moral dan tanggung jawab sosial. Mereka nggak mau musik mereka “nyangkut” di sistem yang punya hubungan sama peperangan. Dan mungkin, langkah ini bakal bikin makin banyak musisi lokal maupun global berani nanya hal yang sama: musik kita berdiri di sisi siapa?
Kalau kamu setuju sama langkah Seringai, drop pendapatmu di kolom komentar Popers.id ya.