Dea Adi Rangga saat bertanding dalam pertandingan final tunggal putra, kejuaraan ‘Shuttle Time Dubai Open’ tahun 2017. (Courtesy: pribadi)
JAKARTA | Badminton resmi masuk Olimpiade sejak 1992 dan sekarang semakin populer di berbagai negara. Tapi di Amerika Serikat, olahraga ini belum sepopuler basket atau bisbol. Namun, seorang diaspora Indonesia di Dallas, Texas, punya cara unik buat mempererat komunitas lewat badminton.
Ide Budi: Badminton Buat Kumpul Warga Indonesia
Budisetia Yoelioes, pria asal Jakarta yang menetap di Dallas sejak 2017, awalnya kesulitan menemukan komunitas Indonesia di sana. Ia berpikir, apa yang bisa menyatukan orang Indonesia? Makanan? Bazaar? Sayangnya, event seperti itu jarang ada. Lalu terlintas ide: “Orang Indonesia kan suka main badminton dari kecil!”
Budisetia Yoelioes (kaos merah tengah) bersama tim bulutangkis PBISD. (Courtesy: pribadi)
Budi, yang juga Ketua Komunitas Masyarakat Indonesia (KMI) Dallas, mulai mencari tempat latihan. Tahun 2019, ia dan beberapa teman bergabung di lapangan badminton milik gereja China. Tapi hanya ada tiga lapangan dan hanya empat orang Indonesia yang bermain.
Gudang Disulap Jadi Lapangan Badminton
Perlahan, komunitas ini berkembang. Tahun 2021, jumlah pemain Indonesia bertambah jadi 20 orang. Mereka butuh tempat lebih luas, sampai akhirnya seorang warga Indonesia menawarkan gudangnya untuk dijadikan lapangan. Hasilnya? Delapan lapangan badminton berdiri dan lahirlah Persatuan Badminton Indonesia Seluruh Dallas (PBISD).
Kini, setelah empat tahun berjalan, ada sekitar 60 orang yang rutin berlatih, termasuk pemain dari China, India, dan Malaysia. “Senang banget, ada anak-anak, orang dewasa, semua kumpul sambil latihan badminton,” ujar Yani Saputera, salah satu anggota. Bahkan, ada truk makanan Indonesia yang sering mampir ke tempat latihan.
Target Budi: Turnamen Antarnegara Bagian
PBISD kini punya tiga pelatih, termasuk mantan juara dunia Sarwendah. Ke depannya, Budi ingin komunitas ini berkembang hingga bisa bertanding di negara bagian lain, seperti di Los Angeles atau komunitas PERMIAS (Persatuan Mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat).
Dea Adi Rangga: Melatih Warga AS Main Badminton
Dea Adi Rangga, juara dalam Pan-American Masters Games 2024 di Cleveland, Ohio. (Courtesy: pribadi)
Sementara itu, di North Carolina, Dea Adi Rangga, mantan atlet PB Djarum asal Blitar, punya misi berbeda. Ia melatih sekitar 200 murid, mayoritas kelahiran Amerika dengan keturunan India, Malaysia, dan China. “Latihan mereka intensif, prestasinya pun makin bagus,” ujar Dea.
Sebelum melatih di AS, Dea sudah berpengalaman melatih di Filipina, Dubai, dan China. Sejak 2022, ia juga aktif bertanding di berbagai kompetisi, termasuk Pan American Masters Games 2024, di mana ia meraih emas tunggal putra.
Badminton di AS: Masih Kalah Populer
Dea mengakui, badminton di Amerika belum sepopuler basket atau bisbol. “Kalau mau lebih terkenal, perlu lebih banyak turnamen berkualitas, liputan media, dan pembinaan dari sekolah-sekolah,” katanya. Ia sendiri didukung oleh klubnya, Peak Sports North Carolina, serta sponsor dari perusahaan real estat.
Masa Depan Badminton Indonesia dan Dunia
Di Indonesia, badminton sudah jadi jalur karir bagi banyak atlet muda. Mantan pemain nasional Aditya Sindoro alias Coach Yang Yang, yang kini melatih di Klaten, Yogyakarta, dan Medan, senang melihat badminton berkembang di luar negeri. “Kalau badminton makin populer di Amerika, bakal banyak sponsor yang masuk. Itu bagus buat perkembangan olahraga ini,” ujarnya.
Coach Yang Yang (tengah atas) bersama para murid PB Champion yang memenangkan pertandingan. (Courtesy: pribadi)
Di Amerika, klub badminton makin banyak bermunculan di beberapa negara bagian, seperti California, North Carolina, Maryland, dan Texas. Tapi di Dallas, komunitasnya paling banyak diisi warga Indonesia, sedangkan di North Carolina, lebih banyak pemain dari berbagai latar belakang.
Dengan semakin banyaknya orang yang tertarik bermain badminton, siapa tahu suatu hari nanti olahraga ini bisa setenar basket di Amerika!