Connect with us

Fix No Debat! Bocil Main Medsos Ternyata Bahaya Buat Mental

Health and Mental Health

Fix No Debat! Bocil Main Medsos Ternyata Bahaya Buat Mental

Ilustrasi anak main media sosial. (Foto: Ilustrasi AI)

IDAI warning soal bahaya media sosial bagi kesehatan mental anak di bawah 16 tahun dan aturan baru pemerintah terkait pembatasan akun digital.

BOGOR, POPERS.ID | Fenomena anak-anak yang makin lengket sama gadget dan media sosial (medsos) sekarang bukan lagi cuma soal tren, tapi sudah masuk level red flag. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) baru saja mengeluarkan peringatan keras kalau paparan medsos yang nggak terkontrol bisa jadi ancaman serius buat kesehatan mental dan tumbuh kembang anak.

Peringatan ini muncul barengan sama berlakunya Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 yang tegas membatasi akses medsos buat anak di bawah usia 16 tahun. Bahkan, Kementerian Komunikasi dan Digital sudah mulai gerak cepat mewajibkan sejumlah platform buat menonaktifkan akun milik anak-anak di bawah umur.

Riset Ilmiah: Medsos Bukan Tempat Bermain yang Aman

Ketua Pengurus Pusat IDAI, dr Piprim Basarah Yanuarso, menjelaskan kalau dampak negatif medsos ke anak itu nyata dan sudah terbukti secara ilmiah. Masalahnya bukan cuma soal mata lelah, tapi lebih ke arah gangguan emosional dan perilaku.

Anak-anak secara psikologis memang belum matang buat mengelola emosi di dunia digital. Efeknya? Mereka jadi gampang merasa cemas, stres, bahkan sampai kecanduan. Secara neurologis, otak anak juga belum siap buat memproses kompleksitas interaksi di medsos, seperti menilai risiko atau mengontrol diri dari pengaruh luar.

Beberapa risiko yang menghantui antara lain:

  • Munculnya kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain (social comparison).
  • Tekanan sosial yang tinggi dari lingkungan digital.
  • Kehilangan skill bersosialisasi di dunia nyata.

Orang Tua Jangan Lepas Tangan

Ketua Unit Kerja Koordinasi Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI, dr Fitri Hartanto, menyebut kalau kondisi ini bisa makin parah kalau orang tua nggak hadir buat mendampingi. Tanpa pengawasan, anak-anak sering menjadikan medsos sebagai pelarian dari masalah, padahal itu justru bikin masalah baru makin numpuk.

Pembatasan usia minimal 16 tahun ini dipandang sebagai langkah preventif. Di usia tersebut, anak dianggap sudah punya kematangan kognitif yang lebih stabil buat memilah mana yang baik dan buruk di internet.

Jaga Masa Depan, Bukan Cuma Jaga Kuota

Meski sudah ada aturan dari pemerintah, IDAI menegaskan kalau kunci utamanya tetap ada di tangan orang tua. Kebijakan pembatasan akses ini bukan buat mengekang, tapi buat melindungi puluhan juta anak Indonesia dari risiko gangguan mental sejak dini.

Dr Fitri menyarankan agar anak-anak diarahkan buat melakukan lebih banyak aktivitas fisik dan interaksi langsung secara tatap muka. Komunikasi yang terbuka dalam keluarga jauh lebih penting daripada membiarkan anak asyik sendiri dengan dunianya di layar ponsel.

Targetnya jelas: kita ingin generasi muda yang tumbuh sehat secara mental, punya skill sosial yang oke, dan nggak terjebak dalam kecanduan digital yang merusak masa depan.

source: inews

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Health and Mental Health

BLACKPINK New Album & World Tour 2025 #blackpink #blinks #worldtourdeadline
RESAH HATI EPS 4 #resahhati #contentreligi #syiar #tebarkebaikan
RASULULLAH & PARA SAHABAT Eps 3

Facebook

Culture

To Top