Connect with us

Bukan Cuma Programmer! Ini Profesi ‘Kerah Biru’ yang Paling Dicari dan Digaji Tinggi di Era AI

Science and Technology

Bukan Cuma Programmer! Ini Profesi ‘Kerah Biru’ yang Paling Dicari dan Digaji Tinggi di Era AI

Ilustrasi. Kerja di EraArtificial Intelligence (AI). (photo ilustrasi: AI)

Ledakan pusat data AI global ciptakan lowongan kerja masif bagi teknisi listrik, HVAC, dan konstruksi dengan tawaran gaji fantastis mengalahkan profesi kantoran.

BOGOR, POPERS.ID | Dunia lagi heboh soal AI yang katanya bakal gantiin kerjaan manusia. Tapi faktanya, ada sisi lain yang jarang kesorot: AI butuh rumah fisik alias data center yang super gede. Kabar baiknya, pembangunan infrastruktur ini justru buka peluang emas buat lo yang punya skill teknis lapangan, bukan cuma yang jago coding di depan laptop.

Investasi Jumbo Raksasa Teknologi

Empat raksasa teknologi dunia Alphabet, Microsoft, Meta, dan Amazon nggak main-main soal ini. Mereka sudah komitmen kucurin dana hampir US$700 miliar atau sekitar Rp11.000 triliun lebih tahun ini buat bangun pusat data AI.

Amazon contohnya, baru aja investasi US$12 miliar di Louisiana buat bangun pusat data baru yang bakal serap ribuan tenaga kerja. Begitu juga Meta yang bangun proyek raksasa Hyperion. Menariknya, fasilitas ini butuh listrik yang lebih gede dari konsumsi satu kota New Orleans. Di sinilah peran tenaga profesional lapangan jadi sangat krusial.

Daftar Profesi Paling Laku (Bukan IT Sentris)

Berdasarkan data dari perusahaan rekrutmen Randstad, ada pergeseran tren lowongan kerja yang signifikan antara tahun 2022 sampai 2026. Berikut adalah posisi yang permintaannya melonjak tajam:

  • Teknisi Robotika: Naik drastis 107%.
  • Insinyur Sistem Pendingin (HVAC): Tumbuh 67% (karena server AI itu panas banget, butuh pendingin canggih).
  • Teknisi Otomatisasi Industri: Naik 51%.
  • Teknisi Listrik & Pekerja Konstruksi: Meningkat 27%.

Sander van’t Noordende, CEO Randstad, bilang kalau revolusi digital tetap butuh fondasi fisik yang masif. Tanpa orang-orang yang jago instalasi kabel dan sistem pendingin, AI secanggih apa pun nggak bakal bisa jalan.

Gaji ‘Six Figure’ Bukan Mimpi

Karena orang yang punya skill ini langka, hukum ekonomi berlaku: supply dikit, demand tinggi, harga naik. Gaji insinyur HVAC aja sudah naik sekitar 15% dalam empat tahun terakhir. Bahkan, para ahli teknis yang pindah ke sektor pusat data bisa dapet kenaikan gaji instan sekitar 25% sampai 30%.

CEO Nvidia, Jensen Huang, juga sudah prediksi kalau pekerja yang ngebangun “pabrik AI” ini bakal segera dapet gaji enam digit (dalam Dollar AS). Artinya, penghasilan miliaran rupiah per tahun sekarang bukan cuma milik manajer kantoran atau software engineer doang.

Tantangan: Krisis Tenaga Terampil

Masalahnya sekarang adalah dunia lagi krisis tenaga ahli. Di Amerika Serikat aja, diperkirakan bakal kurang 1,9 juta pekerja manufaktur pada 2033. Banyak pekerja senior yang sudah masuk usia pensiun, sementara anak muda yang masuk ke bidang teknis ini belum cukup banyak.

Selain itu, kerja di pusat data punya risiko dan tantangan geografis. Beda sama programmer yang bisa Work From Anywhere (WFA), teknisi listrik atau HVAC harus stand by di lokasi. Belum lagi soal keamanan fisik fasilitas yang sekarang mulai jadi target serangan geopolitik di beberapa wilayah konflik.

Kesimpulannya, kalau lo mau aman di era AI, nggak harus selalu jadi ahli algoritma. Jadi ahli infrastruktur fisik yang menopang AI justru bisa jadi jalan ninja buat dapet cuan maksimal dan karir yang future-proof.

source article: cnbcindonesia

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Science and Technology

BLACKPINK New Album & World Tour 2025 #blackpink #blinks #worldtourdeadline
RESAH HATI EPS 4 #resahhati #contentreligi #syiar #tebarkebaikan
RASULULLAH & PARA SAHABAT Eps 3

Facebook

Culture

To Top