Hari Kesehatan Dunia 7 April jadi alarm keras: krisis iklim bukan cuma isu lingkungan, tapi ancaman nyata buat kesehatan manusia.
BOGOR, POPERS.ID | Hari Kesehatan Dunia: Bisakah Kita Sehat di Atas Bumi yang Sedang Sekarat?
Dunia memperingati Hari Kesehatan Dunia setiap 7 April. Momen ini seharusnya jadi pengingat bahwa hidup sehat adalah hak semua orang. Tapi sekarang, ngomongin kesehatan nggak bisa dipisahin dari kondisi bumi yang makin “sakit”.
Laporan keenam IPCC menegaskan satu hal: risiko iklim datang lebih cepat dan dampaknya makin parah dari prediksi sebelumnya. Artinya, manusia makin sulit beradaptasi seiring suhu bumi terus naik.
Krisis iklim bukan lagi cerita masa depan. Ini sudah jadi kondisi darurat medis yang sedang terjadi. Saat ini, sekitar 3,6 miliar orang hidup di wilayah yang sangat rentan terhadap perubahan iklim.
Data WHO menunjukkan, negara berpenghasilan rendah dan negara kepulauan kecil justru menanggung dampak kesehatan paling berat, padahal kontribusi emisi mereka sangat kecil. Dalam 10 tahun terakhir, angka kematian akibat cuaca ekstrem di wilayah ini melonjak hingga 15 kali lipat dibanding daerah yang lebih aman.
Pertanyaannya sekarang: seberapa jauh pemanasan global sudah merusak sistem kehidupan manusia? Dan seberapa besar ancaman ke kesehatan fisik dan mental kita ke depan?
Suhu Ekstrem dan Polusi, Ancaman Nyata di Depan Mata
Panas ekstrem sekarang bukan lagi hal biasa. Ini sudah jadi ancaman serius.
Laporan Lancet Countdown 2024 mencatat, dalam periode 2019–2023, rata-rata manusia mengalami tambahan 46 hari panas ekstrem yang berbahaya dibanding kondisi tanpa perubahan iklim.
Kelompok lansia jadi yang paling rentan. Pada 2023, kematian akibat panas pada usia di atas 65 tahun naik 167% dibanding periode 1990–1999.
Secara global, sekitar 37% kematian akibat panas berkaitan langsung dengan perubahan iklim yang disebabkan aktivitas manusia.
Di Inggris, suhu bahkan sempat diprediksi tembus 40°C. Angka ini sekarang 10 kali lebih mungkin terjadi dibanding era sebelum revolusi industri.
Masalahnya nggak cuma panas. Udara yang kita hirup juga makin berbahaya.
Di China, polusi udara menyebabkan lebih dari satu juta kematian pada 2012. Secara global, antara 2018–2022, sekitar 3,8 miliar orang terpapar PM10 di atas batas aman, naik 31% dibanding periode 2003–2007.
Laporan The Lancet juga mencatat, emisi bahan bakar fosil menyumbang 2,09 juta dari total 6,4 juta kematian akibat polusi PM2.5 pada 2021.
Dampaknya bukan cuma ke paru-paru. Polusi udara juga berpengaruh ke fungsi kognitif manusia.
Kondisi ini bikin satu hal jadi jelas: menjaga kesehatan sekarang bukan cuma soal gaya hidup, tapi juga soal menyelamatkan bumi tempat kita hidup.