Connect with us

Ramadan Tanpa Drama: Saatnya Nahan Emosi di Dunia yang Gampang Bikin Kepancing

Tausyiah

Ramadan Tanpa Drama: Saatnya Nahan Emosi di Dunia yang Gampang Bikin Kepancing

(Foto Ilustrasi: AI)

Bukan cuma nahan lapar dan haus, Ramadan juga ngajarin kita buat ngerem emosi di tengah dunia digital yang serba nyinyir dan cepat bikin panas. Yuk, belajar sabar beneran tahun ini!

BOGOR, POPERS.ID | Ramadan Bukan Sekadar Nahan Lapar, tapi Juga Nahan Ego.

Di bulan Ramadan, banyak orang fokus buat nahan lapar dan haus. Tapi sering lupa: yang paling berat justru nahan emosi. Apalagi di era sekarang era yang serba triggering. Scroll dikit di medsos, langsung ketemu komentar pedas.

Buka grup WhatsApp, isinya debat politik, gosip seleb, sampai sindiran halus tapi nyelekit. Di dunia nyata? Macet, antrean panjang, rekan kerja yang baperan semuanya bisa jadi pemicu.

Padahal, Ramadan itu bukan cuma ritual, tapi momen buat latihan sabar. Bukan cuma sabar nunggu adzan magrib, tapi juga sabar buat nggak ikut panas di dunia yang makin gampang nyulut emosi.

Menahan Emosi Itu Juga Ibadah

Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

“Puasa itu bukan hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga dari perkataan kotor dan perbuatan sia-sia.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Artinya, kalau kita masih hobi ngegas di kolom komentar atau nyebar gosip pas lagi puasa, berarti kita belum nangkep makna puasa yang sesungguhnya.

Allah juga ngasih pengingat dalam firman-Nya:

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“(Yaitu) orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”
(QS. Ali Imran)

Jadi, orang yang bisa nahan marah itu bukan lemah. Justru di mata Allah, mereka lah yang paling kuat.

Dunia Digital: Ujian Sabar yang Sesungguhnya

Sekarang, trigger itu datangnya dari mana aja. Kadang cuma dari emoji, caption nyindir, atau komentar anonim yang nggak jelas juntrungannya. Dunia digital bisa jadi ladang pahala, tapi juga bisa jadi ujian besar kalau kita nggak hati-hati.

Makanya, Ramadan ini coba ubah pola:

  • Stop komentar negatif di medsos.
  • Unfollow akun yang tiap hari bikin emosi naik.
  • Ganti doomscrolling dengan baca Al-Qur’an atau konten positif.

Seperti sabda Rasulullah ﷺ:

“Orang kuat bukanlah yang menang dalam gulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Ramadan: Waktu Upgrade Diri Jadi Lebih Tenang

Ramadan bukan ajang jadi “manusia suci” dalam sebulan. Tapi ini momen buat latihan slow down, lebih peka, dan ngerti perasaan orang lain. Saat dunia makin bising, kita belajar untuk lebih hening. Saat disindir, kita belajar untuk diam dan nggak bales.

Karena ujung dari Ramadan bukan cuma sahur on time dan buka bareng teman, tapi hati yang lebih sabar dan pikiran yang lebih jernih.

Ramadan Tanpa Drama, Bukan Mustahil

Kalau lapar bisa ditahan, marah juga pasti bisa dikontrol. Dunia boleh ramai dan penuh trigger, tapi hati kita bisa tetap tenang asal niatnya bener.

Jadi, yuk jadikan Ramadan tahun ini sebagai latihan nyata buat jadi pribadi yang lebih sabar, bukan cuma di perut, tapi juga di hati dan jari. Karena puasa sejati bukan cuma soal menahan diri dari makan dan minum, tapi juga dari marah dan nyinyir yang nggak perlu.

Wallahu a’lam bish-shawab.

[popred-salamsyiar]

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Tausyiah

BLACKPINK New Album & World Tour 2025 #blackpink #blinks #worldtourdeadline
RESAH HATI EPS 4 #resahhati #contentreligi #syiar #tebarkebaikan
RASULULLAH & PARA SAHABAT Eps 3

Facebook

Culture

To Top