Keputusan pemerintah longgarkan aturan produk halal untuk barang-barang asal AS menuai kritik tajam dari ekonom. Dinilai bisa ganggu industri halal nasional dan lemahkan posisi Indonesia di mata global.
JAKARTA | Keputusan pemerintah Indonesia buat ngasih kelonggaran sertifikasi halal ke produk-produk asal Amerika Serikat (AS) ternyata bikin banyak pihak kaget termasuk para ekonom. Salah satunya dari Center for Sharia Economic Development (CSED) INDEF, Abdul Hakam Naja, yang nyebut langkah ini “aneh dan berisiko besar” buat industri halal dalam negeri.
Abdul bilang, isi kesepakatan dagang Indonesia–AS yang tertuang dalam dokumen Agreement on Reciprocal Tariff (ART) itu kayak “ngebuka pintu lebar-lebar” buat produk luar tanpa pertimbangan matang. “Ini bukan cuma soal birokrasi halal, tapi juga soal kedaulatan ekonomi kita,” tegasnya, Minggu (22/2/2026).
Menurut dia, keputusan pemerintah ini sama aja kayak “mengorbankan” konsumen Muslim di Indonesia. “Kalau produk dari AS nggak wajib sertifikasi halal, ya berarti secara default harus dianggap non-halal dong. Minimal, kasih label jelas di toko atau supermarket biar masyarakat nggak salah beli,” lanjutnya.
Abdul menilai kesepakatan ini nyentuh wilayah yang super sensitif. Soalnya, industri halal dan ekonomi syariah di Indonesia lagi tumbuh kenceng. Tapi kebijakan ini malah bisa ngerem laju perkembangan yang baru mulai naik daun.
“Harusnya pemerintah ngelindungin industri halal lokal kayak Amerika juga ngejaga industrinya. Apalagi kita punya target gede jadi pusat ekonomi syariah global tahun 2029,” ujarnya.
Dia juga nyaranin pemerintah buat manfaatin keputusan Mahkamah Agung AS yang ngebatalkan kebijakan tarif resiprokal alias tarif Trump sebagai momen buat evaluasi ulang isi perjanjian itu. “Negosiasi ulang aja. Hapus semua poin yang bisa ngerugiin kepentingan nasional dan kedaulatan ekonomi kita,” tambahnya.
Nah, dalam isi dokumen ART sendiri, pemerintah Indonesia sepakat buat ngasih pengecualian sertifikasi halal bagi beberapa produk dari AS. Mulai dari barang-barang manufaktur, kosmetik, sampai perangkat medis.
Berdasarkan Article 2.9 berjudul “Halal for Manufactured Goods”, disebutkan kalau pelonggaran ini dimaksudkan buat mempermudah arus masuk barang-barang dari AS tanpa “drama” birokrasi pelabelan halal yang ribet.
Kalimatnya bahkan jelas banget: “Indonesia akan membebaskan produk AS dari setiap sertifikasi halal dan persyaratan pelabelan halal.”
Selain itu, bahan, wadah, dan alat transportasi yang dipakai buat produk manufaktur juga ikut bebas dari kewajiban label halal, kecuali untuk kategori makanan, minuman, kosmetik, dan farmasi.
Dengan kata lain, selama produknya bukan kategori yang dikonsumsi langsung atau dipakai di tubuh, pemerintah nggak bakal mewajibkan sertifikasi halal. Bahkan, Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) diminta buat otomatis mengakui sertifikasi halal dari lembaga di AS.
Padahal, kalau dilihat dari sisi konsumen, hal ini bisa bikin masyarakat bingung ngebedain mana yang halal, mana yang nggak. Sementara dari sisi industri, kebijakan ini berpotensi nyerang sektor manufaktur halal yang baru aja mulai bangkit di dalam negeri.
Kritik kayak yang dilontarkan Abdul Hakam ini menunjukkan satu hal penting: jangan sampai niat pemerintah buat “mempermudah perdagangan” malah jadi bumerang yang ngerugiin ekonomi sendiri. Karena kalau produk asing bisa bebas aturan halal, industri lokal yang lagi tumbuh bisa kehilangan daya saing dan pada akhirnya, yang rugi tetap kita sendiri.