Memasuki puasa Ramadan, ada negara yang menetapkan jam kerja hanya lima jam per hari. (Foto: AI/Ilustrasi)
Beberapa negara mayoritas Muslim, termasuk Uni Emirat Arab dan Qatar, resmi memangkas jam kerja selama Ramadan biar umat Islam bisa ibadah lebih tenang.
JAKARTA | Menjelang Ramadan, topik jam kerja singkat selalu jadi perbincangan seru. Banyak negara mayoritas Muslim yang secara resmi mengurangi jam kerja biar masyarakatnya bisa fokus ibadah tanpa kehilangan produktivitas. Bahkan, ada yang cuma kerja 5 jam sehari selama bulan puasa.
Kebijakan ini umumnya udah diatur dalam undang-undang ketenagakerjaan. Tapi di beberapa negara dengan populasi Muslim minoritas, aturan soal jam kerja lebih fleksibel dan tergantung kebijakan masing-masing perusahaan.
Uni Emirat Arab: Semua Karyawan Dapat Pengurangan Jam
Di Uni Emirat Arab (UEA), pemerintah tiap tahun menetapkan aturan pengurangan jam kerja selama Ramadan. Gak cuma buat pegawai Muslim, tapi juga buat non-Muslim. Biasanya jam kerja dipangkas dua jam lebih pendek dari jadwal normal, berlaku buat sektor publik dan swasta. Jadi, semua pekerja bisa pulang lebih cepat dan punya waktu buat berbuka atau istirahat.
Arab Saudi sampai Oman: Regulasi Resmi Setiap Tahun
Kalau ngomongin Ramadan, tentu gak lepas dari Arab Saudi. Di sana, pemerintah udah punya aturan jelas soal jam kerja selama bulan suci. Pegawai negeri biasanya cuma kerja 6 jam sehari, sementara perusahaan swasta menyesuaikan dengan aturan ketenagakerjaan nasional.
Negara tetangga kayak Qatar, Kuwait, Bahrain, dan Oman juga punya kebijakan serupa. Bahkan di Qatar, jam kerja Ramadan bisa turun jadi 5 jam per hari. Tujuannya? Supaya energi dan fokus tetap terjaga selama berpuasa.
India dan Negara Barat: Fleksibel Tapi Tetap Support
Berbeda sama Timur Tengah, di India gak ada aturan nasional soal jam kerja Ramadan. Tapi di daerah dengan banyak Muslim, beberapa kantor kasih fleksibilitas, misalnya datang lebih pagi biar bisa pulang sebelum waktu berbuka.
Sementara di negara Barat seperti Amerika Serikat dan Kanada, banyak perusahaan yang mulai menerapkan sistem work from home (WFH), jam kerja fleksibel, sampai ruang khusus buat salat selama Ramadan.
Di Britania Raya dan Jerman, perusahaan multinasional juga aktif bikin kebijakan yang lebih inklusif. Mereka sadar bahwa keberagaman budaya dan agama itu bagian penting dari lingkungan kerja modern.
Prancis: Sekular tapi Tetap Adaptif
Walau Prancis punya kebijakan sekular yang ketat (Ramadan bukan hari libur nasional), beberapa kantor tetap kasih tambahan waktu istirahat buat karyawan Muslim saat berbuka. Walaupun gak resmi diatur, tapi bentuk empatinya terasa banget.
Kebijakan pengurangan jam kerja saat Ramadan nunjukin gimana negara dan perusahaan bisa beradaptasi dengan kebutuhan spiritual masyarakat. Selain menjaga produktivitas, aturan ini juga bentuk dukungan buat menjaga keseimbangan antara kerja, ibadah, dan kesehatan mental.
Ramadan bukan cuma tentang menahan lapar, tapi juga soal bagaimana sistem kerja bisa lebih manusiawi. Karena pada akhirnya, karyawan yang tenang ibadahnya, pasti juga maksimal kerjanya.