Economic & Business
Jerat #WHVAustralia: Influencer Cuma Pamer Gaji Gede, Bikin Netizen Terjebak?

Konten ‘A Day in My Life’ kerja di Australia bikin ngiler. Tapi di balik bayangan gaji miliaran, ada cerita susah cari kerja, jam kerja gila-gilaan, sampai jadi korban penipuan. Ini realita WHV yang gak di-spill influencer.
JAKARTA | Gue tuh dulu apoteker di Indo. Tapi, seperti banyak anak muda, gue kepo banget sama konten-konten Work and Holiday Visa (WHV) Australia di TikTok dan Instagram. Potongan hidup mereka keren banget, kerja di farm atau pabrik, terus bilang gampang ngumpulin 1 MILIAR rupiah dalam setahun. Ya ampun, di Indo butuh bertahun-tahun buat dapet segitu! Akhirnya, gue terbang ke Perth awal tahun lalu dengan mimpi menggebu.
Ternyata? Realita WHV itu jauh dari highlight reel di sosmed. Kerja pertama gue cuma sebagai cleaner, terus housekeeping, lalu retail. Capek banget, bro. Fisik dan mental remuk, apalagi kalau double job. Apakah mungkin dapet 1 miliar? Mungkin. Tapi bayarannya mahal: kurang tidur, no social life, dan kesehatan yang dikorbankan. Tubuh kita kan butuh istirahat, gak bisa dipaksa terus-terusan.
Konten “A Day in My Life” yang Gak Cerita “A Night of My Struggle”

Catherine sebut aja gitu cuma satu dari banyak korban narasi indah influencer WHV. Mereka suka banget bikin konten “A Day in My Life” kerja di kebun atau pabrik daging, sambil bilang kerjanya mudah dan gak perlu Inggris lancar. Yang mereka gak tunjukin? Beban kerja yang heavy, living cost yang tinggi, dan rasa sepi di perantauan.

Yang lebih ngeri, risiko kecelakaan kerja nyata banget. ABC Indonesia aja menemukan setidaknya sembilan peserta WHV asal Indonesia meninggal dalam perjalanan kerja dalam beberapa tahun terakhir. Ini sisi gelap yang gak pernah masuk feed.
Gara-Gara Pengen Cepat Kaya, Akhirnya Tertipu Miliaran

Narasi “gaji gede” bikin orang ngotot mau ke Australia, sampai-sampai nekat cari jalan pintas yang berujung penipuan. Seperti Anwar (bukan nama sebenarnya). Dia terpaksa gadaikan sawah orang tuanya buat bayar Rp 45 juta ke seorang calo yang janji bisa kasi Surat Dukungan WHV (SDUWHV). Hasilnya? Dokumen palsu, visa ditolak, mimpi hancur, dan sawahnya sulit ditebus lagi.
Ada juga pengalaman Yopan. Sudah empat kali gagal ikut “perang” SDUWHV, dia frustasi dan percaya pada seorang “konsultan” WHV di Instagram, Sufiya, dengan bayaran Rp 25 juta. Katanya ada orang dalam imigrasi. Tapi ujung-ujungnya, alasan berbelit dan uang cuma kembali sebagian. Sufiya membantah menipu dan menyebut uang itu untuk biaya operasional.

(photo source: ABC Australia-Indonesia)
Influencer yang Cari Cuan vs. yang Cari Aman

Gak semua influencer WHV jahat sih. Masih ada yang jujur, kayak Mekarisa Asharina. Dia nyesel liat kebanyakan konten WHV cuma “berorientasi uang” dan pakai clickbait. “Yang dikritisi adalah ketika yang disampaikan itu misleading… orang bakal salah paham,” ujarnya. Meski follower-nya gak sebanyak influencer besar, Mekarisa memilih untuk speak up dan kasih informasi yang benar, setidaknya buat satu-dua orang yang mendengar.
Pakar Bilang: Pemerintah dan Influencer Harus Lebih Tanggung Jawab

Monika Winarnita, pakar dari University of Melbourne, bilang influencer harusnya kasih cerita yang berimbang. Jangan cuma soal gaji, tapi juga soal insecurity kerja, upah minimum, jam kerja panjang, dan kelelahan fisik. Dia akui aturan soal influencer di Indonesia masih “abu-abu”, tapi pemerintah kedua negara perlu edukasi lebih gencar soal hak pekerja dan realita hidup di Australia.
Kementerian Kominfo RI lewat Dirjen Alexander Sabar juga angkat bicara. Mereka paham maraknya konten yang mengglorifikasi kerja di Australia dan mengakui konten semacam ini “berpotensi menyesatkan”. Kominfo aktif awasi konten berdasarkan UU ITE, tapi masyarakat juga diminta waspada dan kritis.
Juru bicara Departemen Dalam Negeri Australia menegaskan, peserta WHV punya hak kerja yang sama dengan warga Australia. Mereka juga sarankan cari info dari sumber terpercaya seperti situs Tourism Australia.
Jadi, Ambil Apa dari Cerita Ini?
Catherine, yang sekarang masih di Perth, cuma berharap satu hal: “Mungkin coba kasih sisi lain… that it’s okay kalau kamu WHV dan kamu gak ngumpulin 1 miliar rupiah, enggak apa-apa.”
Impian kerja di Australia itu sah-sah aja. Tapi jangan sampai tergiur highlight di sosmed doang. Cari informasi dari berbagai sumber, siapin mental buat kerja keras, dan yang paling penting: JANGAN PERCAYA BEGITU AJA SAMA CALO ATAU JANJI-JANJI MANIS DI INTERNET. Perjuangan dapetin SDUWHV itu berat, tapi lebih baik susah di awal daripada nyesel dan rugi miliaran di kemudian hari.
Intinya: WHV bukan get-rich-quick scheme. It’s a life experience, with all its ups and downs yang brutal. Pastikan kamu siap dengan keduanya.
source: abc australia-indonesia


