Bendera Israel berkibar di puncak bukit dekat Garis Alfa yang memisahkan Dataran Tinggi Golan yang dikuasai Israel dari Suriah, di kota Majdal Shams, Jumat, 13 Desember 2024. (Foto: AP/Matias Delacroix)
JAKARTA | Gengs, ada kabar yang lagi rame banget nih dari PBB. Baru-baru ini, mereka ngerilis laporan yang nyebut ada banyak banget perusahaan gede—dari tech sampai pariwisata—yang diduga punya andil dalam tragedi kemanusiaan di Gaza, Palestina.
Laporan itu judulnya “From Economy of Occupation to Economy of Genocide”, disusun sama Pelapor Khusus PBB urusan HAM di wilayah Palestina, Francesca Albanese. Isinya nyentil keras banget tentang gimana dunia usaha ikut ngebiayain dan nyokong sistem penjajahan Israel, bukan cuma secara teknologi doang, tapi juga modal, investasi, bahkan infrastruktur.
“Ini bukan cuma soal cuan, tapi soal tanggung jawab atas nyawa dan hak hidup orang-orang Palestina,” tulis laporan itu.
1. Big Tech Turut Campur?
Foto: shutterstock
Nama-nama kayak Google, Amazon, Microsoft, IBM, dan Palantir masuk list PBB. Mereka dituding bantu pasok teknologi buat sistem pengawasan dan militer Israel.
IBM kabarnya kelola database biometrik warga Palestina barengan otoritas imigrasi Israel.
Google & Amazon kontrak bareng senilai USD 1,2 miliar buat cloud system yang nyokong aktivitas militer.
Microsoft udah kerja bareng militer Israel sejak awal 2000-an.
Palantir dituding nyuplai software buat intelijen militer dan pemetaan target.
2. Perusahaan Senjata: Dari F-35 Sampai Buldoser Tempur
Perusahaan senjata kayak Lockheed Martin dan Leonardo S.p.A juga disorot. Mereka jadi supplier utama pesawat tempur kayak F-16 dan F-35 yang digunakan buat nge-bomb Gaza sejak Oktober 2023.
Sementara Caterpillar Inc. disebut-sebut supply buldoser militer yang dipakai buat ngancurin bangunan, termasuk rumah warga sipil, RS, dan masjid.
3. Energi dan Alat Berat Juga Kena Sorotan
Beberapa perusahaan energi kayak Chevron, Glencore, BP, dan Drummond Company dilaporkan support suplai energi buat operasi militer Israel.
Alat berat? Ada HD Hyundai, Doosan, dan Volvo yang diduga nyumbang alat penghancur buat ratain pemukiman Palestina. Mesin-mesin mereka dipakai sejak awal 2000-an buat hancurin rumah, kebun zaitun, sampai lahan pertanian.
4. Booking.com & Airbnb di Tengah Konflik
Foto: askarim/shutterstock
Dua platform besar ini ternyata masuk juga, guys. Booking.com dan Airbnb dilaporkan pasang iklan properti yang ada di pemukiman ilegal Israel.
Airbnb misalnya, dilaporkan meningkatin listing dari 139 jadi 350 properti antara 2016 ke 2025, dan diduga dapet komisi sampe 23%.
Bahkan, ada kasus di Tekoa, di mana Airbnb bantu promosi komunitas pemukim Yahudi dengan narasi ‘hangat & penuh kasih’, padahal realitanya ada kekerasan ke desa tetangga Tuqu.
5. Investor Global Juga Ikut Main
Perusahaan investasi dan bank besar kayak BNP Paribas dan Barclays dilaporkan beli obligasi pemerintah Israel buat biayain anggaran militernya.
Yang lebih ngeri, investor gede macam BlackRock, Vanguard, dan Allianz PIMCO disebut-sebut naro miliaran dolar ke obligasi dan saham perusahaan yang terlibat konflik ini. Jadi, bukan cuma produk yang terlibat, tapi juga aliran duit yang bikin mesin perang tetep jalan.
“Entitas-entitas keuangan ini adalah tulang punggung sistem pendudukan dan genosida,” tegas laporan itu.
6. So, What’s Next?
Walaupun laporan ini belum sampai tahap sanksi hukum, tapi tekanan internasional udah mulai kerasa. PBB ngingetin soal pentingnya akuntabilitas sektor swasta, apalagi dalam kasus pelanggaran HAM berat.
Bisa aja nih ke depan muncul gerakan boikot konsumen, atau investor etis mulai cabut dari perusahaan-perusahaan yang kena sebut.
✍️ Catatan Akhir:
Kasus ini buka mata banyak orang soal gimana korporasi global bisa terlibat—langsung atau enggak langsung—dalam tragedi kemanusiaan. Dan ini jadi warning buat publik buat lebih kritis sama produk, brand, dan ke mana aliran duit kita lari.