Penasihat Korps Garda Revousi Islam Iran (IRGC) Ibrahim Jabari mengatakan penutupan Selat Hormuz bisa memukul perekonomian global, termasuk AS (Foto: AP)
Iran blokir total Selat Hormuz dan serang 10 tanker minyak, klaim AS haus energi sementara harga minyak dunia terancam tembus 200 dolar AS.
JAKARTA | Situasi di kawasan Teluk Persia makin nggak santai. Iran baru saja mengambil langkah ekstrem dengan menutup total Selat Hormuz. Nggak cuma blokir jalan, militer Iran bahkan dilaporkan meluncurkan serangan rudal ke sedikitnya 10 kapal tanker minyak yang mencoba nekat menerobos jalur tersebut.
Keputusan berani ini diambil bukan tanpa alasan. Penasihat Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Ibrahim Jabari, secara blak-blakan menyemprot Amerika Serikat. Menurutnya, AS adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas panasnya tensi di sana karena dianggap terlalu haus akan sumber daya energi.
“AS Rakus Minyak!”
Jabari menegaskan bahwa penutupan ini adalah pesan serius untuk Washington. Ia menyebut AS sebagai negara yang rakus minyak dan terus memicu eskalasi di kawasan tersebut.
“Kasih tahu mereka, sekarang Selat Hormuz resmi kami tutup. Nggak akan ada satu pun kapal yang boleh lewat,” tegas Jabari lewat pernyataan resminya yang dikutip dari Fars pada Rabu (4/3/2026).
Langkah Iran ini diprediksi bakal bikin dompet warga dunia menjerit. Jabari memperkirakan kalau pemblokiran jalur laut strategis ini terus berlanjut, harga minyak dunia bisa meroket sampai 200 dolar AS per barel. Angka ini jelas jadi ancaman nyata buat stabilitas ekonomi global, terutama buat negara-negara besar yang ketergantungan energinya tinggi.
Jalur Vital yang Lagi “Sakit”
Buat yang belum familiar, Selat Hormuz itu ibarat urat nadi buat distribusi energi dunia. Jalur sempit ini menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Secara geografis, sisi utara selat ini dikuasai Iran, sedangkan sisi selatannya berbatasan dengan Uni Emirat Arab (UEA) dan Oman.
Hampir sebagian besar pasokan minyak mentah dan Liquefied Natural Gas (LNG) dunia harus lewat sini. Jadi, kalau jalur ini macet atau sengaja ditutup, supply chain energi global otomatis langsung lumpuh.
Dampak Instan: Biaya Logistik Meledak
Efek domino dari penutupan ini sudah mulai terasa. Melansir laporan dari Al Jazeera, sumber dari pelabuhan Irak menyebutkan kalau biaya pengiriman laut ke wilayah mereka naik drastis sampai 60 persen. Kenaikan gila-gilaan ini terjadi karena premi asuransi kapal yang melambung tinggi akibat risiko keamanan.
Saat ini, ada sekitar tujuh kapal tanker minyak yang terjebak di perairan Irak. Mereka nggak bisa bergerak dan cuma bisa menunggu kepastian kapan Selat Hormuz bakal dibuka lagi. Kondisi ini dikhawatirkan bakal memicu krisis energi global yang lebih parah dan memperlebar risiko perang terbuka di Timur Tengah.