Pemuda-pemuda memanjat pohon selama pertemuan para therians, orang-orang yang mengaku mengidentifikasi diri sebagai hewan non-manusia, di sebuah lapangan di Buenos Aires, Argentina, pada Minggu, 22 Februari 2026. (AP Photo/Rodrigo Abd)
Viral di TikTok, remaja Argentina mulai muncul di ruang publik pakai topeng anjing dan kucing sambil bertingkah layaknya hewan. Psikolog pun mulai angkat bicara: ini tren sosial atau tanda masalah kejiwaan?
POPERS.ID | Fenomena “Therian” yang Lagi Viral di Argentina.
Beberapa waktu lalu, suasana di salah satu taman kota Buenos Aires mendadak berubah kayak dunia lain. Di antara orang-orang yang lagi santai, ada sekelompok remaja yang lari, melompat, dan merangkak layaknya hewan. Ada yang pakai topeng anjing, ada yang dandan kayak kucing, bahkan ada juga yang naik ke pohon pura-pura jadi rubah.
Salah satunya adalah Sofía, remaja yang datang dengan topeng beagle super realistis. Ia berlari di rumput sambil bertumpu di empat kaki. Di dekatnya, Aguara, 15 tahun, melompat-lompat di arena kecil kayak anjing ras Belgian Malinois yang lagi latihan.
Mereka bukan cosplay biasa, tapi bagian dari komunitas yang disebut “therian” orang-orang yang merasa dirinya terhubung secara spiritual, mental, atau psikologis dengan hewan.
Dan ternyata, tren ini lagi meledak banget di Argentina. Di TikTok, tagar #therian udah tembus lebih dari 2 juta postingan, dan engagement tertinggi datang justru dari anak muda Argentina.
Pemuda-pemuda berjalan melalui sebuah taman selama pertemuan para therians, orang-orang yang mengaku mengidentifikasi diri sebagai hewan non-manusia, di Buenos Aires, Argentina, pada Minggu, 22 Februari 2026. (AP Photo/Rodrigo Abd)
Dari Iseng Jadi Komunitas Serius
Buat Aguara, jadi therian bukan berarti kehilangan sisi manusianya. “Aku bangun kayak orang normal, hidup kayak orang normal juga. Cuma kadang, aku pengin jadi anjing aja,” katanya santai saat diwawancara media lokal.
Remaja ini bahkan udah punya 125 ribu followers di TikTok, dan sering ngadain “kopdar” bareng anggota “pack”-nya alias kelompok therian di Buenos Aires.
Di pertemuan terakhir, ada juga Aru, 16 tahun, yang datang pakai topeng anjing laut. Ia bilang dirinya bagian dari kelompok “otherpaw” yaitu mereka yang suka pakai topeng atau ekor hewan cuma buat seru-seruan. “Bukan berarti kami bener-bener ngerasa jadi hewan. Kadang ini cuma cara buat berekspresi dan main bareng teman-teman,” jelasnya.
Menurut Aru, tren ini bisa berkembang di Argentina karena suasananya cukup bebas. “Di sini anak muda punya ruang buat eksplor diri tanpa takut di-judge,” katanya.
Antara Ekspresi Diri dan Kekhawatiran Orang Tua
Seorang pemuda mengenakan topeng anjing selama pertemuan para therians, orang-orang yang mengaku mengidentifikasi diri sebagai hewan non-manusia, di Buenos Aires, Argentina, pada Minggu, 22 Februari 2026. (AP Photo/Rodrigo Abd)
Walau terlihat seperti tren harmless, beberapa orang tua mulai khawatir. Mereka takut anak-anaknya jadi kehilangan batas antara dunia nyata dan fantasi.
Débora Pedace, seorang psikolog di Buenos Aires, bilang fenomena ini memang bisa menimbulkan reaksi campur aduk dari lucu, bingung, sampai marah. “Secara psikologis, ini bentuk identifikasi simbolik dengan hewan. Baru bisa disebut gangguan kalau seseorang benar-benar percaya dirinya adalah hewan dan mulai bertingkah ekstrem sampai menyakiti diri atau orang lain,” jelasnya.
Pedace menambahkan, penting buat orang tua nggak langsung menghakimi, tapi mencoba memahami dulu motivasi anak di balik perilaku itu. Banyak remaja, katanya, cuma cari tempat buat merasa diterima dan bebas berekspresi.
Jadi, Ini Tren Unik atau Alarm Bahaya?
Sebuah topeng hewan tergeletak di lantai selama pertemuan para therians, orang-orang yang mengaku mengidentifikasi diri sebagai hewan non-manusia, di Buenos Aires, Argentina, pada Minggu, 22 Februari 2026. (AP Photo/Rodrigo Abd)
Fenomena therian di Argentina ini bisa dibilang bagian dari gelombang baru ekspresi diri di era digital. Sama kayak cosplay, fandom, atau subkultur online lainnya semuanya lahir dari rasa ingin terhubung dan diterima.
Tapi tentu, batas antara ekspresi dan pelarian diri tetap harus dijaga. Selama masih dalam konteks aman, nggak merugikan diri sendiri atau orang lain, tren ini bisa dilihat sebagai bentuk kreativitas anak muda zaman sekarang.
Namun kalau udah sampai tahap kehilangan realitas dan menolak identitas manusia, di situ baru perlu pendampingan serius.
Untuk sekarang, satu hal yang jelas: dunia makin luas, dan cara anak muda berekspresi juga makin beragam. Entah kamu setuju atau nggak, tren therian di Argentina ini sukses bikin semua orang dari orang tua sampai psikolog mikir dua kali soal arti identitas di zaman digital.