Presiden Prabowo Subianto baru aja terbitin aturan ketat soal tanah nganggur. Mulai dari lahan tambang, perkebunan, hingga perumahan mewah yang dibiarin kosong, negara berhak nyita! Simak detailnya biar kamu nggak kena dampaknya.
JAKARTA | Gue ada kabar penting nih buat kamu yang punya tanah luas atau lagi ikutin isu properti dan investasi. Presiden kita, Prabowo Subianto, baru aja keluarin aturan baru yang super tegas. Intinya: tanah dan kawasan yang dibiarin nganggur atau ‘telantar’ bakal kena sita oleh negara. No joke!
Aturan ini bernama Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 48 Tahun 2025. PP ini udah resmi berlaku sejak 6 November 2025 lalu. Salinannya baru aja beredar dan ramai jadi perbincangan.
Kenapa Aturan Ini Dikeluarin?
Intinya, pemerintah ngeliat banyak banget tanah di Indonesia yang udah dapet izin, udah punya hak, tapi malah dibiarin kosong melompong. Cuma numpuk ilalang, nggak ada aktivitas apa-apa. Ini dianggep masalah besar.
Di dalam aturannya, pemerintah bilang tanah itu modal dasar buat bikin rakyat sejahtera. Kalau dibiarin telantar, ya percuma. Cita-cita buat meningkatkan kemakmuran rakyat jadi nggak optimal. Penelantaran tanah juga bikin program pembangunan macet, mengancam ketahanan pangan, nutup akses ekonomi buat masyarakat kecil, terutama petani.
Jadi, aturan ini dibuat buat nertibin dan ngedayagunain tanah-tanah nganggur itu biar bener-bener kepake buat kesejahteraan bersama.
Tanah dan Kawasan Apa Saja yang Bisa Kena Sita?
Nah, ini bagian yang harus dicermatin. Nggak semua tanah, tapi yang punya izin/konsesi tertentu dan nggak digarap. Kawasan yang jadi target utama itu:
Kawasan pertambangan.
Kawasan perkebunan.
Kawasan industri.
Kawasan pariwisata.
Kawasan perumahan atau pemukiman skala besar/terpadu (perumahan mewah yang dibangun tapi kosong, maybe).
Kawasan lain yang dasarnya izin usaha terkait tanah dan ruang.
Pokoknya, kalau kamu punya izin usaha buat kawasan-kawasan di atas, kamu WAJIB ngusahain, pake, dan manfaatin lahan itu. Kalo nggak? Ya siap-siap aja itu lahan jadi objek penertiban alias beresiko disita.
Gimana Caranya Biar Nggak Dicap ‘Telantar’?
Aturannya jelas. Pemegang izin harus aktif ngusahain lahannya dan WAJIB lapor secara berkala ke pemerintah tentang perkembangan pengusahaannya. Jadi nggak bisa cuma pegang izin doang trus tidur nyenyak.
Tanah dianggep ‘telantar’ dan bisa kena sita kalo dengan SENGAJA nggak diusahain, nggak dipake, atau nggak dimanfaatin dalam jangka waktu tertentu sejak izinnya keluar.
Untuk Hak Guna Bangunan (HGB), Hak Pakai, dan Hak Pengelolaan umum: Batas waktunya 2 tahun. Kalo udah 2 tahun lebih masih dibiarin kosong, itu bisa kena proses.
Untuk Hak Guna Usaha (HGU): Sama, batasnya 2 tahun sejak haknya diterbitin.
Tanah dengan Dasar Penguasaan Atas Tanah (DPAT): Juga 2 tahun.
Eits, Tapi Ada Pengecualiannya Juga!
Nggak semua tanah bisa seenaknya disita. Beberapa jenis tanah ini dikecualikan:
Tanah Hak Milik (SHM) kamu di perkampungan. Ini relatif aman karena dikuasai masyarakat langsung. TAPI, ada catatan: kalo tanah hak milik itu dikuasai orang lain terus-terusan selama 20 tahun tanpa ada hubungan hukum sama si pemilik sah, ya itu kasus lain.
Tanah Hak Pengelolaan masyarakat adat.
Tanah Hak Pengelolaan yang jadi Aset Bank Tanah.
Tanah di Batam yang dikelola Badan Pengusahaan Batam.
Tanah di Ibu Kota Nusantara (IKN) yang dikelola Otorita IKN.
Dampak dan Yang Perlu Diperhatiin
Aturan ini jelas bakal bikin gebrakan. Buat pemegang konsesi tambang atau perkebunan yang sengaja hoarding tanah tapi nggak digarap, ini warning keras. Buat developer perumahan yang lambat bangun atau sengaja nahan lahan buat spekulasi harga, juga kena.
Di sisi lain, ini bisa jadi angin segar biar tanah-tanah produktif yang selama ini nganggur bisa kepake buat kepentingan yang lebih luas. Tujuannya baik sih, biar aset negara nggak mubazir dan akhirnya bisa menyejahterakan rakyat.
Sekarang tinggal nunggu eksekusinya di lapangan kayak gimana. Yang pasti, aturan main udah jelas. Buat yang punya lahan, yuk segera dicek dan dimanfaatin sebelum terlambat!