Anggota DPD RI Alfiansyah Komeng alias Komeng bareng Denny Chandra nongkrong bareng komunitas pelawak PASKI (Persatuan Seniman Komedi Indonesia) Depok dalam acara Sosialisasi Empat Pilar MPR RI. (Foto: Ist)
Komeng bareng Denny Chandra ngobrol santai tapi berisi soal pentingnya generasi muda ngerti dan ngejalanin nilai Empat Pilar Kebangsaan biar Indonesia tetap solid di tengah perbedaan.
POPERS.ID | Suasana di Warung Kopi Simpang Sentul, Depok, Jumat pagi 12 Desember 2025 Warung Kopi Simpang Sentul jam 07.00 WIB itu terasa beda. Hangat, penuh tawa, tapi juga bikin mikir. Di tengah aroma kopi yang khas, anggota DPD RI Alfiansyah Komeng alias Komeng bareng Denny Chandra nongkrong bareng komunitas pelawak PASKI (Persatuan Seniman Komedi Indonesia) Depok dalam acara Sosialisasi Empat Pilar MPR RI.
Meski dikemas santai, acara ini jauh dari kata kosong. Topik utamanya berat tapi dibikin ringan: Empat Pilar Kebangsaan Indonesia, Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Empat hal ini jadi fondasi utama buat menjaga persatuan dan keberagaman bangsa.
“Empat pilar ini tuh kayak tiang rumah Indonesia. Kalau satu aja rapuh, bisa ambruk semua. Makanya anak muda harus paham, jaga, dan hidupin nilai-nilainya,” kata Komeng sambil tetap selipin gaya khasnya yang kocak tapi kena.
Ngobrol Serius Tapi Santai
Komeng nggak sekadar ngomong soal nasionalisme, tapi juga nyambungin makna Bhinneka Tunggal Ika ke kehidupan anak muda zaman sekarang yang hidup di dunia penuh perbedaan budaya, pandangan, dan gaya hidup.
(Foto: Ist)
Sementara itu, Denny Chandra yang juga hadir sebagai narasumber menekankan pentingnya cara penyampaian yang relevan dan fun biar pesan kebangsaan bisa nyampe ke generasi muda.
“Anak muda sekarang tuh nggak bisa dikasih ceramah doang. Harus diajak lewat hal-hal yang relate: konten, film pendek, stand up, atau komunitas kreatif. Biar nilai kebangsaan itu hidup, bukan cuma dihafalin,” jelas Denny, disambut tepuk tangan dari peserta.
Diskusi Seru & Real Banget
(Foto: Ist)
Sesi tanya jawab jadi bagian paling hidup malam itu. Tiga peserta dari komunitas PASKI lempar pertanyaan yang semuanya relevan banget sama kehidupan sekarang.
Rizal, misalnya, nanya soal gimana caranya jaga semangat kebangsaan di tengah derasnya pengaruh media sosial. Komeng langsung jawab dengan gaya nyentil khasnya: “Medos itu kayak pisau, bisa buat motong sayur, bisa juga nyakitin orang. Tergantung siapa yang pakai. Jadi isi medsos itu dengan hal positif, yang nyatuin, bukan yang misahin.”
Sinta lalu angkat isu soal perpecahan di kalangan anak muda karena beda pandangan politik. Denny nyaut santai, “Beda itu wajar, asal jangan bawa benci. Justru dari perbedaan itu kita bisa saling belajar. Bhinneka Tunggal Ika itu bukan slogan kosong, tapi cara hidup.”
Terakhir, Heri nanya apakah Pancasila masih relevan di era modern. Komeng menjawab ringan tapi dalam, “Selama kita masih hidup bareng orang lain, Pancasila itu tetap relevan. Itu pedoman buat adil, toleran, dan gotong royong. Bukan barang jadul, tapi panduan hidup.”
Momen Penutup yang Hangat
Acara ditutup dengan penyerahan piagam penghargaan buat Komeng sebagai narasumber utama. Suasana jadi makin hangat dengan tepuk tangan dan tawa khas para pelawak yang hadir.
Lewat acara kayak gini, semangat kebangsaan bisa terus tumbuh, bukan cuma di dunia politik, tapi juga di kalangan komunitas kreatif dan anak muda.
Empat Pilar Kebangsaan bukan teori yang cuma dibaca di buku tapi nilai yang mesti dijalani tiap hari, biar Indonesia tetap kuat, solid, dan berwarna. [popred]