PBB resmi mengategorikan sebagian wilayah di Jalur Gaza dalam kondisi kelaparan. (photo: AP)
Laporan terbaru IPC dari PBB konfirmasi status kelaparan di Gaza Utara setelah hampir 2 tahun perang dan blokade bantuan Israel. Sekjen PBB sebut ini kejahatan yang tak bisa dibiarkan dan harus ada yang bertanggung jawab.
GAZA | Guys, berita duka banget dateng dari Gaza. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) akhirnya secara resmi, like, officially, netapin status KELAPARAN buat sebagian wilayah di sana. Pengumuman ini keluar hari Jumat (22/8/2025) dan jadi pukulan telak buat kemanusiaan kita semua.
Ini bukan lagi soal “krisis pangan” atau “rawan pangan”, tapi bener-bener famine level paling parah.
Laporan PBB Jadi Bukti Nggak Terbantahkan
Jadi, ada lembaga inisiatif PBB namanya IPC (Klasifikasi Fase Keamanan Pangan Terpadu) yang ngeluarin laporan ini. Mereka konfirmasi kalau kelaparan itu udah terjadi di Kegubernuran Gaza, khususnya di Kota Gaza. Wilayah ini emang jadi target serangan besar Israel belakangan ini.
Kenapa bisa sampai separah ini?
Jawabannya simpel dan bikin nyesek: ini adalah akumulasi dari perang yang udah jalan hampir 2 tahun, ditambah pemblokadean bantuan yang dilakukan Israel sejak Maret 2025. Bayangin aja, sekitar 2,2 juta manusia di sana sekarang hidup dalam kondisi kekurangan makanan akut. Mereka terisolasi, tanpa akses ke kebutuhan paling dasar.
Bukan Angka, Tapi Nyawa Manusia
Dan dampaknya… speechless. Laporan itu nggak cuma ngomongin data, tapi nyawa.
Ratusan orang, termasuk anak-anak dan lansia, dilaporkan meninggal dunia karena kelaparan dan penyakit yang harusnya bisa dicegah. Yang bikin makin miris, ada laporan hampir 2.000 orang lainnya ditembak mati pas lagi antre makanan di pusat distribusi bantuan.
Mereka cuma berusaha dapetin sepotong roti buat bertahan hidup, guys. Tapi yang mereka dapat malah peluru. Ini adalah tragedi kemanusiaan yang terjadi di depan mata kita.
Sekjen PBB Murka: “Ini Dibuat Manusia, Bukan Bencana Alam!”
Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, sampai nggak nahan emosi. Dia bilang terang-terangan: kelaparan di Gaza ini jelas-jelas “bencana buatan manusia”. It’s man-made, not a natural disaster.
Guterres juga ngasih pesan keras buat Israel.
“Sebagai kekuatan penjajah, Israel punya kewajiban mutlak di bawah hukum internasional, termasuk kewajiban untuk memastikan pasokan makanan dan medis bagi penduduk,” tegas Guterres.
Dengan nada geram, dia menambahkan, “Kita tidak bisa membiarkan situasi ini berlanjut tanpa hukuman. Tidak ada lagi alasan!”
Bantuan Numpuk di Perbatasan, Tapi Diblokir
Suara keras juga datang dari Tom Fletcher, koordinator bantuan darurat PBB. Dia minta semua orang buat baca laporan IPC itu dari awal sampai akhir.
“Bacalah dengan sedih dan marah,” katanya. Dia bilang laporan itu bukan sekadar kata dan angka, melainkan “nama dan nyawa.”
Fletcher nunjuk langsung ke biang keroknya: “Jangan ragu bahwa ini adalah kesaksian yang tak terbantahkan. Ini adalah kelaparan di Gaza. Kelaparan yang sebenernya bisa kita cegah jika kita diizinkan. Namun, makanan menumpuk di perbatasan karena hambatan sistematis oleh Israel.”
Jadi, bantuan itu ada. Truk-truk makanan dan obat-obatan siap masuk, tapi sengaja dihalangi.
Drama Politik di Tengah Penderitaan
Ironisnya, di tengah bukti yang udah jelas banget ini, masih ada aja drama politik.
Presiden AS Donald Trump bulan lalu sempat ngakuin kalau kelaparan di Gaza itu “sangat nyata”.
Tapi, pernyataan ini nabrak banget sama klaim Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang bilang “tidak ada seorang pun yang kelaparan” di wilayah tersebut. Like, which one is it?
Data dan laporan PBB udah ada di depan mata. Sekarang pertanyaannya bukan lagi “apakah ada kelaparan?”, tapi “kapan dunia akan bertindak nyata untuk menghentikan kejahatan ini?”