Connect with us

Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia

Inspiring Story

Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia

photo: Pranata (1959) Ki Hadjar Dewantara : Perintis perdjuangan kemerdekaan Indonesia, Balai Pustaka. (Wikimedia Commons)

JAKARTA | Siapa yang nggak kenal Ki Hajar Dewantara? Tokoh kelahiran 2 Mei 1889 ini dijuluki Bapak Pendidikan Indonesia karena jasanya memajukan dunia pendidikan. Tapi, kamu pasti nggak nyangka kalau pria yang hari lahirnya diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional ini ternyata cuma lulusan SD dan pernah drop out kuliah! Kok bisa?

Masa Kecil & Sekolah yang Nggak Gampang
Ki Hajar Dewantara (nama asli Soewardi Soeryaningrat) lahir dari keluarga bangsawan Jawa, tapi hidupnya nggak selalu glamour . Keluarganya sempat jatuh miskin, sehingga dia nggak bisa menikmati pendidikan elite ala anak priyayi zaman kolonial. Alih-alih masuk sekolah tinggi (HBS) atau kuliah di Belanda, dia hanya bisa bersekolah di Europese Lagere School (ELS)—setara SD zaman sekarang!

Meski terdengar “rendah,” ELS waktu itu adalah sekolah elit yang sulit dimasuki anak pribumi. Penerimaan anak pribumi bahkan dibatasi, harus bersaing ketat dengan anak Belanda. Soewardi masuk ELS usia 7 tahun (1896) dan lulus setelah 6 tahun. Tapi, perjuangannya belum selesai.

Kuliah di STOVIA & Harus Mundur
Setelah ELS, Soewardi melanjutkan ke School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA), sekolah kedokteran bergengsi yang setara universitas. Tapi, perjalanan kuliahnya nggak mulus. Dia sering sakit-sakitan, sampai beasiswanya dicabut karena bolos. Akhirnya, pada 1909, Soewardi drop out dari STOVIA.

Alih-alih putus asa, dia nekat kerja serabutan: buruh pabrik gula di Probolinggo, staf perusahaan obat, hingga jadi wartawan. Pengalaman ini justru bikin dia paham realitas rakyat jelata, yang kelak jadi dasar pemikirannya soal pendidikan.

Pemikiran yang Lebih Hebat dari Ijazah
Tahun 1922, Soewardi mendirikan Taman Siswa di Yogyakarta, sekolah alternatif yang membuka akses pendidikan untuk semua golongan—termasuk rakyat biasa. Saat itu, sistem pendidikan Belanda masih diskriminatif, hanya untuk kalangan tertentu.

Konsep pendidikannya masih relevan sampai sekarang, seperti:

  • Ing Ngarsa Sung Tuladha: Guru harus jadi teladan.
  • Ing Madya Mangun Karsa: Guru harus membangun semangat belajar.
  • Tut Wuri Handayani: Guru harus memberi dorongan positif.

Legacy yang Abadi
Meski tanpa ijazah tinggi, Ki Hajar Dewantara diangkat jadi Pahlawan Nasional pada 1959. Hari lahirnya, 2 Mei, dirayakan sebagai Hari Pendidikan Nasional lewat SK Presiden No.316/1959. Kisah hidupnya jadi bukti bahwa kesuksesan nggak selalu diukur dari gelar, tapi dari kontribusi nyata untuk bangsa.

Fakta Viral:

Pemikiran Revolusioner: Taman Siswa jadi awal pendidikan inklusif di Indonesia.

SD Saja? ELS (setara SD) adalah sekolah tertinggi yang dia lulusi!

Drop Out STOVIA: Harus mundur karena sering sakit dan kehilangan beasiswa.

Kerja Serabutan: Pernah jadi buruh pabrik, staf perusahaan, hingga wartawan.

Kisah Ki Hajar Dewantara ini jadi pengingat bahwa pendidikan bukan sekadar ijazah, tapi tentang semangat belajar dan berbagi ilmu. Kamu setuju? 💡✨

source cnbcindonesia

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Inspiring Story

BLACKPINK New Album & World Tour 2025 #blackpink #blinks #worldtourdeadline
RESAH HATI EPS 4 #resahhati #contentreligi #syiar #tebarkebaikan
RASULULLAH & PARA SAHABAT Eps 3

Facebook

Culture

To Top