BOGOR | Dalam perjalanan hidup, setiap insan mendambakan kemuliaan. Namun, di manakah letak kemuliaan sejati? Apakah ia terletak pada harta benda yang melimpah, jabatan yang tinggi, atau popularitas yang mendunia? Namun, tahukah kita bahwa semua itu sebenarnya bergantung pada hubungan kita dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala? Imam Yahya bin Mu’adz rahimahullah, seorang ulama besar, memberikan nasihat yang sangat mendalam tentang hal ini. Beliau berkata:
“Sesuai dengan kadar rasa takutmu kepada Allah begitulah rasa hormat makhluk kepadamu. Sesuai kadar cintamu kepada Allah begitulah rasa cinta makhluk kepadamu. Sesuai kadar kesibukanmu untuk Allah begitulah kesibukan makhluk untuk menunaikan urusanmu.”(Sifatush Shofwah, 2/29)
Nasihat ini menyimpan kunci rahasia untuk meraih kemuliaan, baik di mata Allah maupun di mata manusia. Mari kita telaah lebih lanjut:
1. Rasa Takut kepada Allah pondasi kemuliaan yang hakikiImam Yahya bin Mu’adz menyatakan bahwa “Sesuai dengan kadar rasa takutmu kepada Allah begitulah rasa hormat makhluk kepadamu.”
Rasa takut kepada Allah (khasyyah) adalah tanda ketakwaan. Ketika seseorang memiliki rasa takut yang tinggi kepada Allah, ia akan senantiasa menjaga dirinya dari perbuatan maksiat dan berusaha untuk selalu berbuat baik. Orang yang bertakwa akan senantiasa menjaga lisan, perbuatan, dan hatinya. Ia akan bersikap jujur, amanah, adil, dan penuh kasih sayang Sikap ini akan membuat orang lain menghormatinya, karena mereka melihat ketulusan dan ketakwaan dalam dirinya.
2. Cinta kepada Allah adalah sumber cinta dari sesama
Imam Yahya bin Mu’adz juga berkata, “Sesuai kadar cintamu kepada Allah begitulah rasa cinta makhluk kepadamu.”
Cinta kepada Allah adalah puncak dari keimanan dan sumber segala kebaikan. Ketika seseorang mencintai Allah dengan sepenuh hati, ia akan mencintai segala sesuatu yang dicintai oleh Allah, termasuk berbuat baik kepada sesama makhluk. Cinta ini akan terpancar dari sikap dan perilakunya, sehingga orang lain pun akan mencintainya, mudah memaafkan, menolong, dan berbuat baik kepada orang lain tanpa pamrih.
Sebaliknya, jika hati kita kosong dari cinta kepada Allah, maka yang akan muncul adalah sifat-sifat tercela seperti egois, iri, dan dengki. Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)
3. Kesibukan untuk Allah Jalan menuju sukses dunia dan akhirat
Terakhir, Imam Yahya bin Mu’adz menyatakan, “Sesuai kadar kesibukanmu untuk Allah begitulah kesibukan makhluk untuk menunaikan urusanmu.”
Menekankan pentingnya menyibukkan diri dalam ketaatan kepada Allah. Ketika kita fokus pada ibadah, menuntut ilmu, berdakwah, dan amal shalih lainnya, maka Allah akan memudahkan urusan kita di dunia dan akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)
Pesan Utama: Hubungan dengan Allah adalah Kunci
Nasihat Imam Yahya bin Mu’adz ini mengajarkan bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hubungan kita dengan sesama makhluk bergantung pada hubungan kita dengan Allah. Jika kita ingin dihormati, dicintai, dan dibantu oleh orang lain, kuncinya adalah memperbaiki dan meningkatkan kualitas hubungan kita dengan Allah.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an: “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya).” (QS. At-Talaq: 2-3)
Dengan demikian, semua tergantung pada sikap kita kepada Allah. Jika kita mendekat kepada-Nya, dunia dan seisinya akan mendekat kepada kita. Namun, jika kita menjauh dari-Nya, kita akan merasa sendiri dan kesulitan dalam menghadapi kehidupan. Nasihat Imam Yahya bin Mu’adz ini seharusnya menjadi renungan bagi kita semua. Sudahkah kita menjadikan takwa sebagai landasan hidup? Sudahkah cinta kepada Allah memenuhi relung hati kita? Dan sudahkah kita menyibukkan diri dalam ketaatan kepada-Nya?
Marilah kita berusaha untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita. Isilah hati kita dengan cinta kepada Allah dan sibukkanlah diri kita dengan amal shalih. dengan demikian, kita meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Aamiin.
Referensi: Al-Qur’an, Ibn al-Jauzi, Sifatush Shofwah, 2/29.