Papan iklan film Bollywood ’83’, yang didasarkan pada kemenangan piala dunia kriket pertama India pada tahun 1983, di Mumbai pada 24 Desember 2021. (AFP via Getty Images/INDRANIL MUKHERJEE)
Bukti nyata Bollywood salip Hollywood lewat integrasi AI masif mulai dari produksi film fantasi hingga dubbing otomatis yang bikin biaya makin miring.
BOGOR, POPERS.ID | Industri film India alias Bollywood ternyata sudah curi start jauh di depan Hollywood soal urusan teknologi. Bukan cuma buat pemanis, mereka sudah mulai pakai Artificial Intelligence (AI) buat proses produksi film secara end-to-end.
Saat ini, studio-studio besar di India sudah berani bereksperimen menciptakan film yang sepenuhnya digarap oleh AI. Mulai dari urusan dubbing ke berbagai bahasa hingga memotong ulang ending film-film klasik biar makin laku dijual lagi ke penonton masa kini.
Hemat Budget dan Waktu Produksi
Gak main-main, penggunaan AI ini punya dampak besar ke urusan kantong. Menurut Rahul Regulapati, pimpinan studio AI Collective, teknologi ini sukses memangkas biaya produksi secara signifikan.
“AI memangkas biaya produksi hingga seperlima dari biaya pembuatan film tradisional, terutama untuk genre berat seperti mitologi dan fantasi,” ungkap Rahul.
Selain hemat biaya, waktu produksi juga diklaim bisa dipangkas sampai seperempat dari durasi normal. Hal ini bikin rumah produksi di sana makin produktif buat rilis konten baru.
Kolaborasi Bareng Raksasa Teknologi
Ambisi India ini juga narik perhatian pemain besar dunia. Google, Microsoft, hingga Nvidia dilaporkan sudah mulai ambil langkah buat kerja sama dengan sineas lokal. Bahkan, ada satu rumah produksi besar yang lagi nge-review seluruh koleksi film lamanya buat di-remaster dan dirilis ulang pakai sentuhan AI.
Dominic Lees, peneliti film dan AI dari Universitas Reading, menilai kalau level adopsi AI di India ini unik banget. Kalau strategi ini berhasil total, India diprediksi bakal jadi pusat pergeseran industri film berbasis AI di level global.
Kontras dengan Kondisi Hollywood
Pemandangan ini beda banget sama yang terjadi di Amerika Serikat. Meskipun AS adalah “markas” pengembangan teknologi AI, studio di Hollywood justru masih ngerem penggunaan teknologi ini.
Hambatan utamanya ada pada:
Kontrak Serikat Pekerja: Aturan ketat yang melindungi hak-hak kreatif.
Isu Lapangan Kerja: Kekhawatiran besar kalau AI bakal menggeser peran kru dan aktor manusia di industri kreatif.
Meski AS dan Inggris sempat bereksperimen lewat film animasi AI di 2024 dan proyek The Wizard of Oz versi imersif tahun lalu, langkah mereka belum se-agresif dan se-masif apa yang dilakukan Bollywood sekarang. India secara de facto sudah selangkah lebih maju dalam normalisasi AI di layar lebar.