Connect with us

Ramadan di Dunia Digital: Gimana Jaga Hati di Tengah Scroll Medsos?

Tausyiah

Ramadan di Dunia Digital: Gimana Jaga Hati di Tengah Scroll Medsos?

(Foto ilustrasi: AI)

Ramadan bukan cuma soal menahan lapar dan haus. Di era digital, umat Muslim juga diajak menahan diri dari “puasa digital” atau digital fasting agar hati tetap bersih di tengah banjir konten media sosial.

BOGOR, POPERS.ID | Ramadan Bukan Cuma Puasa Perut, Tapi Juga Puasa Hati.

Ramadan selalu identik dengan ibadah, refleksi diri, dan upaya menjadi pribadi yang lebih baik. Tapi di zaman sekarang, ada satu “godaan” baru yang sering luput dari perhatian: media sosial.

Scroll TikTok, Instagram, atau X (Twitter) mungkin terasa biasa saja. Tapi tanpa sadar, kebiasaan ini bisa menghabiskan waktu berjam-jam dan membuat hati dipenuhi berbagai emosi: iri, marah, pamer, bahkan debat yang nggak ada ujungnya.

Karena itu, semakin banyak orang mulai mengenal konsep digital fasting atau puasa digital. Intinya sederhana: membatasi konsumsi media sosial agar hati dan pikiran tetap jernih selama Ramadan.

Ramadan sejatinya bukan cuma soal menahan lapar dan haus, tapi juga menjaga hati, pikiran, dan perilaku.

Al-Qur’an Mengingatkan untuk Menjaga Diri

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT mengingatkan manusia untuk menjaga diri dari hal-hal yang bisa menjerumuskan.

Allah SWT berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Artinya:

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.”
(QS. Al-Isra: 36)

Ayat ini relevan banget dengan kehidupan digital saat ini. Banyak orang dengan mudah menyebarkan informasi yang belum tentu benar, ikut komentar kasar, atau ikut arus viral tanpa berpikir panjang.

Padahal, mata yang melihat, telinga yang mendengar, dan hati yang merespons semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.

Media Sosial Bisa Jadi Ladang Pahala atau Dosa

Media sosial sebenarnya netral. Ia bisa menjadi ladang pahala, tapi juga bisa menjadi sumber dosa.

Tergantung bagaimana kita menggunakannya.

Misalnya:

  • Menyebarkan dakwah → pahala
  • Membagikan ilmu → pahala
  • Menghibur tanpa merugikan → pahala

Sebaliknya:

  • Ghibah digital
  • Hoaks
  • Hate speech
  • Pamer berlebihan

Hal-hal ini justru bisa mengurangi nilai ibadah Ramadan.

Rasulullah Sudah Mengingatkan Soal Puasa yang Sia-sia

Rasulullah SAW pernah mengingatkan bahwa tidak semua orang yang berpuasa benar-benar mendapatkan pahala penuh.

Rasulullah SAW bersabda:

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَالْعَطَشُ

Artinya:

“Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan haus.”
(HR. Ibnu Majah, dinilai sahih oleh sebagian ulama)

Hadis ini sering dimaknai bahwa puasa tidak hanya menahan makan dan minum, tapi juga menahan diri dari perilaku yang merusak nilai puasa, termasuk perkataan buruk, emosi berlebihan, atau hal-hal yang mengotori hati.

Di era digital, hal ini bisa terjadi lewat komentar negatif, debat kusir di kolom komentar, atau konsumsi konten yang tidak bermanfaat.

Digital Fasting: Puasa Media Sosial Selama Ramadan

Konsep digital fasting sebenarnya sederhana: mengurangi atau membatasi penggunaan media sosial agar lebih fokus pada ibadah dan kehidupan nyata.

Beberapa cara yang bisa dicoba antara lain:

1. Batasi waktu scroll
Misalnya hanya 30 menit atau 1 jam sehari.

2. Unfollow akun yang memicu emosi negatif
Akun yang bikin iri, marah, atau toxic sebaiknya dihindari.

3. Ganti waktu scroll dengan ibadah
Misalnya membaca Al-Qur’an, dzikir, atau membaca buku.

4. Gunakan media sosial untuk hal baik
Seperti berbagi inspirasi Ramadan, ayat Al-Qur’an, atau konten edukatif.

Ramadan Momentum untuk Self-Awareness

Ramadan adalah waktu terbaik untuk self-awareness atau kesadaran diri.

Bukan hanya bertanya:

“Sudah berapa kali saya khatam Qur’an?”

Tapi juga bertanya:

  • Apakah hati saya lebih tenang?
  • Apakah saya lebih sabar?
  • Apakah waktu saya lebih bermanfaat?

Di era digital, menjaga hati memang tidak mudah. Tapi justru di situlah tantangannya.

Karena Ramadan bukan hanya soal menahan lapar, tapi juga melatih hati agar lebih bersih dan lebih dekat kepada Allah.

Dan mungkin, salah satu cara sederhana memulainya adalah dengan berhenti sejenak dari scroll yang tidak perlu.

[popred-salam syiar]

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Tausyiah

BLACKPINK New Album & World Tour 2025 #blackpink #blinks #worldtourdeadline
RESAH HATI EPS 4 #resahhati #contentreligi #syiar #tebarkebaikan
RASULULLAH & PARA SAHABAT Eps 3

Facebook

Culture

To Top