Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa kepada awak media usai Konferensi Pers APBN KiTa edisi Februari 2026, Jakarta, Senin (23/2/2026).(KOMPAS.com/DEBRINATA RIZKY)
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bereaksi keras atas ulah alumni LPDP yang viral dengan pernyataan kontroversial soal paspor Inggris anaknya. Simak konsekuensi berat yang menanti!
JAKARTA | Baru-baru ini media sosial lagi panas-panasnya sama ulah seorang alumni beasiswa LPDP, Dwi Sasetyaningtyas. Bukannya bagi-bagi inspirasi, dia malah bikin warganet geleng-geleng kepala karena konten ‘unboxing’ paspor Inggris anaknya. Tapi, yang bikin heboh bukan cuma paspornya, melainkan kalimatnya: “Cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan.”
Wah, langsung deh netizen kompak nyerbu. Masalahnya, Dwi ini kan sekolahnya pakai uang negara, guys! Terus, suaminya, Arya Pamungkas, juga awardee LPDP. Public speaking-nya Menteri Keuangan sekaligus bos LPDP, Purbaya Yudhi Sadewa, langsung keluar. Dengan nada yang bisa dibilang kesel setengah mati, dia ngasih wejangan yang keras banget.
“Itu Duit Pajak dan Utang, Bro!”
Dalam konferensi pers APBNKITA edisi Februari 2026 yang ditayangkan di YouTube Kemenkeu, Purbaya ga main-main ngomongnya. Dia ngingetin semua penerima beasiswa LPDP, jangan sampai lupa daratan.
“Guys, itu uang yang dipake buat sekolahin kalian tuh asalnya dari pajak masyarakat, bahkan sebagian dari utang negara yang kita sisihin buat ngejamin SDM kita tumbuh,” tegas Purbaya di Jakarta, Senin (23/2/2026) .
Bayangin aja, kita bayar pajak, pemerintah kadang utang, tujuannya mulia: buat nyekolahin anak-anak bangsa lewat LPDP. Eh, pas udah jadi, malah ngomong kayak gitu. Pasti sakit hati banget, ya?
Purbaya juga berpesan dengan gaya yang sangat manusiawi. Beliau bilang, kalau emang ga suka sama negara, gapapa. Tapi tolong lah, jangan sampe menghina-hina Indonesia di depan publik.
“Saya harap ke depan, teman-teman yang dapet pinjaman LPDP (beasiswa), ya kalau misal enggak seneng ya terserah. Tapi jangan menghina-hina negara kita, deh. Enggak usah kayak gitu,” ucapnya dengan nada tegas tapi mirip kayak omongan orang tua ke anaknya sendiri .
Dua Kali Salah: Kena Blacklist Permanen!
Akibat perbuatannya, Purbaya bergerak cepat. Bukan cuma dicabut, tapi pasangan suami istri ini kena sanksi berat.
Blacklist Seumur Hidup Purbaya memastikan bahwa Dwi dan Arya masuk daftar hitam di semua lingkungan pemerintahan. Artinya, mereka berdua udah ga bakal bisa kerja di instansi pemerintah RI selamanya. Bayangin, udah sekolah dibiayain negara, eh malah ditutup jalannya buat karir di sektor publik .
Balikin Duit Plus Bunga! Yang paling bikin nyesek, Arya (suaminya) yang ternyata belum menuntaskan kewajiban pengabdian sepulang sekolah, diminta mengembalikan seluruh dana beasiswa yang pernah dia terima. Bukan cuma pokoknya, tapi plus bunga! “Termasuk bunganya, loh. Kan uang itu kalau saya taruh di bank juga ada bunganya. Jadi harus dikembalikan dengan treatment yang fair,” kata Purbaya .
Kenapa Bisa Separah Itu?
Buat yang belum ngerti, begini ceritanya. Dwi ini bikin video ngebuka paket dari Home Office Inggris yang isinya paspor anaknya. Di video itu dia ngomong, “I know the world seems unfair, tapi cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan, kita usahakan anak-anak dengan paspor kuat WNA itu.”.
Nah, masalahnya Dwi ini alumni LPDP S2 yang udah lulus dan katanya udah menyelesaikan masa pengabdian. Tapi, publik marak karena ucapannya dianggap ngeremehin paspor Indonesia. Sementara suaminya, Arya, malah lebih bermasalah karena ternyata belum ngelunasin kewajiban kontribusi ke Indonesia pasca studi PhD-nya di Belanda .
FYI, aturan LPDP itu jelas: penerima beasiswa wajib balik dan kontribusi di Indonesia selama dua kali masa studi plus satu tahun (rumusnya 2N+1). Kalau studi S2 dua tahun, ya wajib ngabdi empat tahun tambah satu tahun. Nah, Arya diduga melanggar ini.
Pelajaran Buat Kita Semua
Kejadian ini jadi tamparan keras buat para awardee dan alumni LPDP. Jangan pernah lupa, sekolah gratis sampai ke luar negeri itu adalah investasi negara yang dibayar pakai keringet rakyat.
Purbaya menutup pesannya dengan simpel: “Enggak apa-apa kalau enggak patriotis, tapi jangan menghina negara.” .
Pesan moralnya: kalau dapet kesempatan emas, jangan cuma diinget tapi juga dihormati. Jangan sampai karena satu kalimat viral, masa depan hancur dan nama baik keluarga tercoreng. Apalagi sampe harus balikin duit plus bunga, auto boncos, kan?