Israel melakukan pelanggaran gencatan senjata hingga 875 kali selama masa jeda konflik mulai berlaku pada 10 Oktober lalu (Foto: AP)
Laporan terbaru dari Gaza nunjukin Israel udah langgar gencatan senjata sampai 875 kali sejak 10 Oktober. Nggak cuma serang warga sipil, tapi juga hambat masuknya bantuan kemanusiaan yang bikin krisis makin parah.
JAKARTA | Israel Langgar Gencatan Senjata Gaza 875 Kali: Ini Fakta Lengkapnya.
Israel lagi-lagi dituding melanggar gencatan senjata di Jalur Gaza dan jumlahnya bukan main. Menurut laporan Kantor Media Pemerintah Gaza, pasukan Israel udah melakukan 875 pelanggaran sejak masa jeda konflik diberlakukan pada 10 Oktober lalu. Dampaknya? Ratusan warga sipil tewas, ribuan luka-luka, dan krisis kemanusiaan makin menggila.
Selama periode yang seharusnya jadi momen tenang itu, 411 warga Palestina dilaporkan tewas dan 1.112 orang luka-luka akibat serangan militer Israel. Pemerintah Gaza bahkan merinci bentuk-bentuk pelanggarannya:
265 insiden penembakan langsung ke warga sipil,
49 serangan ke permukiman,
421 tembakan artileri, dan
150 penghancuran rumah warga.
Angka itu menunjukkan kalau “gencatan senjata” yang diumumkan sebenarnya cuma berlaku sepihak.
Gencatan Senjata yang Nggak Benar-Benar Gencatan
Laporan itu juga nyorotin kalau Israel bukan cuma nyerang, tapi juga ngeblokir masuknya bantuan kemanusiaan. Dari 42.800 truk bantuan yang seharusnya diizinkan masuk ke Gaza, cuma 17.819 truk yang akhirnya bisa lewat.
“Rata-rata cuma 244 truk per hari dari 600 yang disepakati. Itu artinya tingkat kepatuhan Israel nggak sampai 41 persen,” tulis Kantor Media Pemerintah Gaza, dikutip dari Anadolu, Rabu (24/12/2025).
Yang lebih parah lagi, soal pasokan bahan bakar. Dari 3.650 truk bahan bakar yang seharusnya dikirim, cuma 394 truk yang diizinkan masuk alias rata-rata lima truk per hari dari 50 yang dijanjikan. Dengan kata lain, Israel cuma nurutin 10 persen dari kesepakatan.
Dampak Langsung: Rumah Sakit & Fasilitas Vital Lumpuh
Keterbatasan bahan bakar ini bikin banyak fasilitas di Gaza hampir total berhenti beroperasi. Rumah sakit, toko roti, tempat penyimpanan air, sampai sistem sanitasi lumpuh karena nggak punya energi buat jalanin mesin dan alat-alat vital.
“Ini menyebabkan rumah sakit, toko roti, serta fasilitas air dan sanitasi hampir sepenuhnya berhenti beroperasi,” lanjut pernyataan dari Pemerintah Gaza.
Selain itu, Israel juga nolak izin masuk tenda, karavan, dan material tempat tinggal yang seharusnya bisa dipakai buat korban perang. Akibatnya, banyak warga Gaza masih hidup di reruntuhan bangunan yang nggak layak huni dan itu makin fatal waktu badai musim dingin datang.
Sebanyak 46 bangunan rusak total dan 15 warga Palestina tewas karena gedung-gedung itu ambruk diterjang hujan dan angin kencang.
Gaza Mendesak Dunia Bergerak
Kantor Media Pemerintah Gaza mendesak agar arus bantuan dan bahan bakar dibuka tanpa hambatan, termasuk izin masuk untuk tempat tinggal darurat. Mereka minta dunia internasional bantu menekan Israel biar mematuhi perjanjian yang udah disepakati, supaya krisis kemanusiaan nggak makin jadi bencana besar.
Catatan Hitam Sejak 2023
Serangan Israel ke Jalur Gaza udah berlangsung sejak Oktober 2023 dan belum menunjukkan tanda-tanda berhenti. Data terakhir menyebut hampir 71.000 warga Palestina tewas, sebagian besar perempuan dan anak-anak, sementara lebih dari 171.000 orang luka-luka.
Dengan situasi kayak gini, “gencatan senjata” kayaknya cuma nama tanpa makna. Bagi warga Gaza, tiap hari masih jadi pertarungan buat bertahan hidup di tengah reruntuhan.