Ini Kami

Lestari Tradisi: Bandung 1990, Panggung Pop Sunda Kembali Bergemuruh dengan Doel Sumbang hingga Dira Sugandi

Published on

Lestari Tradisi
BANDUNG, POPERS.ID — Lestari Tradisi: Bandung 1990 menghadirkan musik, tari, kuliner, dan kerajinan khas Sunda dalam satu perayaan di Bumi Sangkuriang, Bandung. Digelar oleh Titimangsa bersama Bakti Budaya Djarum Foundation, acara ini mempertemukan seniman lokal, sanggar, dan masyarakat dalam suasana pesta rakyat Siap bernostalgia sekaligus menikmati pertunjukan budaya?.

Lestari Tradisi: Bandung 1990 membawa pengunjung menengok kembali masa ketika seni tradisi bertemu budaya populer dan ikut melahirkan Pop Sunda. Bandung pada akhir 1980-an hingga 1990-an menjadi salah satu pusat geliat tersebut, dengan popularitas Tari Jaipong karya Gugum Gumbira dan lagu-lagu berbahasa Sunda yang menembus panggung nasional.

Lestari Tradisi: Bandung 1990 juga menyuguhkan deretan penampilan yang menarik perhatian. Doel Sumbang, Nining Meida, Bungsu Bandung, Candil, Dewi Gita, Yukie Pas Band, Dira Sugandi, Saung Angklung Udjo, Jugala Jaipongan, dan SambaSunda termasuk dalam daftar seniman yang dijadwalkan tampil.

Lestari Tradisi

Lestari Tradisi: Bandung 1990 dirancang agar pengunjung tak hanya menonton, tetapi ikut merasakan suasana perayaan budaya. Sejak siang, area bazar menghadirkan kuliner seperti kupat tahu, surabi, mi kocok, cuanki, dan es campur, serta kerajinan khas Sunda. Ada pula unjuk bakat dari sanggar dan seniman lokal.

Malam puncak dimulai pukul 19.30 WIB, dipandu Sule, Ceu Popon, dan Ohang. Salah satu momen yang dinantikan adalah kolaborasi Saung Angklung Udjo dengan Ebith Beat A, disusul penampilan lagu-lagu karya Darso oleh Candil, Yukie Pas Band, Ujang Darso, dan Rehan Darso.

Pagelaran kesenian juga menampilkan Tari Topeng Tarung yang dibawakan Dewi Gita bersama Riyana Rosilawati, serta Jaipongan Tari Alas Grombyang oleh Sanggar Jugala dengan iringan SambaSunda. Selain itu, sejumlah sanggar akan berkompetisi dalam lomba kesenian yang dinilai oleh para praktisi dan tokoh seni.

Pendiri Titimangsa sekaligus produser acara, Happy Salma, mengatakan perayaan ini mengajak masyarakat kembali mengenali akar budaya di tengah kehidupan modern. Menurutnya, karya yang bernilai tidak harus viral untuk tetap penting dan relevan.

Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation, berharap acara ini menjadi ruang bagi masyarakat untuk berkumpul, menikmati kesenian, dan merayakan kekayaan budaya Indonesia.

Tiket dijual seharga Rp200.000 melalui situs tiket.titimangsa.com. Pengunjung disarankan mengenakan pakaian atau aksesori bernuansa tradisi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Exit mobile version