Ini Kami
Bukan Cuma Adu Pesona, Enam Wakil Jakarta Utara Bawa Gagasan Fresh untuk Jakarta

Enam wakil Jakarta Utara tampil di Preliminary Session Abang None DKI Jakarta 2026 dengan gagasan tentang UMKM, kuliner Betawi, kesehatan anak, olahraga, digitalisasi, hingga masa depan Jakarta.
JAKARTA, POPERS.ID | Siapa bilang ajang Abang None Jakarta cuma soal penampilan dan adu pesona?
Preliminary Session Abang None DKI Jakarta 2026 justru memperlihatkan sisi lain yang nggak kalah menarik. Enam anak muda wakil Jakarta Utara datang membawa gagasan dan cara pandang mereka sendiri tentang masa depan Jakarta.
Preliminary Session digelar pada Sabtu, 5 September 2026 pukul 19.00 WIB di Main Lobby Lippo Mall Nusantara. Tahapan ini menjadi salah satu momen penting bagi para finalis Abang None DKI Jakarta 2026 untuk menunjukkan kemampuan, karakter, wawasan, serta gagasan yang mereka bawa.

Jakarta Utara mengirimkan tiga pasangan terbaiknya. Mereka adalah Abang Jakarta Utara 2026 Farhan Pratama Susilo nomor 25 dan None Jakarta Utara 2026 Azzahra Nureyna Cintani nomor 24.
Kemudian ada Wakil 1 Abang Thierry Jaeden Napitupulu nomor 07 dan Wakil 1 None Celta Amadea Saputra nomor 22. Satu pasangan lainnya adalah Wakil 2 Abang Aria Bati Azzurro nomor 01 dan Wakil 2 None Made Isyana Lui Pratisi nomor 06.
Dinilai 10 Juri dari Berbagai Bidang

Para finalis harus melewati penilaian dari 10 dewan juri dengan latar belakang kompetensi yang beragam. Joshua Simandjuntak hadir dari bidang industri kreatif. Ayu Dyah Pasha menilai dari bidang etiket dan kepribadian. Poppy Dharsono mewakili bidang tata busana, sementara Beky Mardhani dari bidang kebudayaan Betawi.
Ada juga Kamapradipta Ismoyo dari bidang hubungan internasional dan Yustinus Prastowo yang menjadi Ketua Dewan Juri dari bidang perekonomian. Suharini Eliawati mewakili bidang pemerintahan. Fifi Aleyda Yahya dari bidang public speaking dan bahasa asing. Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim, M.Psi. dari bidang psikologi, serta Hariyadi Sukamdani dari bidang pariwisata. Preliminary Session ini juga dihadiri Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi DKI Jakarta, Andhika Permata.
Dengan latar belakang juri yang lintas bidang, para finalis jelas nggak cukup hanya tampil menarik. Wawasan, kepribadian, kemampuan komunikasi, pemahaman budaya, sampai cara mereka melihat masa depan Jakarta ikut menjadi perhatian.
Bang Aria Bawa Teknologi dan Kuliner Betawi
Salah satu gagasan menarik datang dari Bang Aria. Finalis nomor 01 ini merupakan mahasiswa semester 5 Fakultas Ilmu Administrasi Niaga Universitas Indonesia. Dunia public speaking juga bukan hal baru bagi Aria.
Sejak usia belasan tahun, ia aktif mengikuti berbagai kompetisi public speaking dan English public speaking di tingkat nasional maupun internasional. Sejumlah prestasi pun berhasil diraihnya.
Namun kali ini, Bang Aria nggak hanya datang membawa kemampuan berbicara. Ia membawa Beta-Go, konsep vending machine yang menghadirkan kuliner Betawi sekaligus membuka peluang pasar lebih luas bagi UMKM.
Gagasan tersebut mempertemukan teknologi dengan kekayaan budaya lokal. Kuliner Betawi dibuat lebih dekat dengan generasi muda, sementara pelaku UMKM mendapatkan alternatif akses pemasaran lewat konsep yang lebih modern. Teknologi ketemu budaya lokal, UMKM ikut punya ruang untuk berkembang.
Bang Farhan Soroti Kesehatan Anak dan Stunting
Bang Farhan membawa perhatian pada isu yang dekat dengan masa depan generasi muda, yaitu kesehatan anak dan stunting. Mahasiswa kedokteran ini menjadikan isu tersebut sebagai bagian dari gagasan yang ia bawa untuk Jakarta.
Perspektif Bang Farhan melihat pembangunan kota nggak hanya soal infrastruktur. Ada kualitas generasi yang juga perlu menjadi perhatian karena mereka akan menjadi bagian dari masa depan Jakarta. Bang Farhan juga memiliki pengalaman sebagai Paskibraka. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan dirinya dalam membangun disiplin dan rasa tanggung jawab.
Bang Jaeden Ingin Olahraga Jakarta Terus Maju
Kalau bicara Jakarta dan olahraga, Bang Jaeden punya alasan personal untuk ikut bersuara. Finalis nomor 07 ini merupakan mahasiswa Teknik Mesin Universitas Indonesia sekaligus fans berat Persija. Kecintaannya terhadap olahraga Jakarta kemudian ia bawa dalam gagasannya untuk mendorong kemajuan olahraga DKI Jakarta.
Bagi Bang Jaeden, olahraga bukan cuma soal pertandingan dan prestasi. Olahraga juga menjadi bagian dari identitas Jakarta serta ruang bagi anak muda untuk tumbuh, berprestasi, dan membangun rasa memiliki terhadap kotanya.
Non Cinta Bawa Program Sejuta Cinta untuk Jakarta
Non Cinta hadir dengan pendekatan yang lebih emosional lewat program bertajuk Sejuta Cinta untuk Jakarta. Lewat program tersebut, ia membawa pesan bahwa mencintai Jakarta nggak cukup hanya dengan merasa bangga menjadi warga atau bagian dari kota ini.
Rasa cinta terhadap Jakarta juga perlu diterjemahkan dalam bentuk kepedulian dan kontribusi nyata. Nama programnya memang sederhana, tetapi pesannya cukup kuat. Kalau jutaan orang punya rasa cinta yang sama terhadap Jakarta, perubahan yang bisa tercipta tentu menjadi sesuatu yang menarik untuk dibayangkan.
Non Celta Melihat Jakarta Lewat Perspektif Digital
Berbeda dengan peserta lainnya, Non Celta membawa perspektif dari dunia teknologi dan bisnis. Finalis nomor 22 sekaligus alumnus SBM ITB ini kini berkarier sebagai Brand Manager di salah satu perusahaan telekomunikasi terkemuka di Indonesia.
Latar belakang tersebut menjadi bekal bagi Non Celta ketika mengangkat gagasan mengenai digitalisasi kota Jakarta. Menurut perspektif yang ia bawa, Jakarta perlu terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi agar menjadi kota yang semakin terkoneksi, modern, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat yang terus berubah.
Bagi generasi baru, digitalisasi bukan lagi sekadar tren. Teknologi sudah menjadi bagian dari cara mereka melihat masa depan sebuah kota.
Non Isyana, Dari Bali Hijrah ke Jakarta
Cerita menarik juga datang dari Non Isyana, finalis nomor 06. Gadis asal Bali dan alumnus Universitas Indonesia ini memilih hijrah ke Jakarta. Dari sana, ia mengenal lebih dekat dinamika ibu kota dan membawa perspektifnya sendiri untuk Jakarta.
Non Isyana juga memiliki latar belakang keluarga yang dekat dengan dunia pageant. Ia merupakan putri Eka Cipta, Puteri Indonesia 2001 Runner Up 2. Namun, Non Isyana nggak sekadar membawa nama keluarga.
Ia hadir dengan program dan gagasannya sendiri untuk Jakarta. Hal itu menunjukkan bahwa setiap generasi memiliki cara berbeda untuk memberikan kontribusi bagi kota yang mereka pilih sebagai tempat tumbuh dan berkembang.
Enam Anak Muda, Enam Cara Melihat Jakarta

Enam wakil Jakarta Utara ini datang dari latar belakang yang berbeda. Ada mahasiswa kedokteran, mahasiswa teknik, mahasiswa administrasi niaga, profesional muda, hingga sosok dengan pengalaman di dunia public speaking dan pageant.
Gagasan yang mereka bawa pun beragam. Mulai dari UMKM dan kuliner Betawi, kesehatan anak, olahraga, kepedulian terhadap Jakarta, digitalisasi, hingga program-program untuk kota. Hal itulah yang membuat Preliminary Session Abang None DKI Jakarta 2026 terasa lebih dari sekadar ajang adu penampilan.

Menjadi Abang None bukan hanya soal siapa yang paling siap memakai selempang. Ada karakter, wawasan, kemampuan berbicara, serta gagasan yang ikut menjadi bagian dari perjalanan para finalis. Kini, enam wakil Jakarta Utara melanjutkan perjuangan mereka ke tahap berikutnya.
Selempang memang menjadi tujuan. Namun, gagasan yang mereka bawa bisa menjadi bagian dari cerita yang lebih besar tentang bagaimana generasi muda ingin melihat Jakarta di masa depan. [AW/popers.id)


