BOGOR, POPERS.ID | Perkenalan yang Tidak Disengaja
Perkenalan kami dengan Mohammad Natsir bukanlah dalam artian fisik, melainkan dalam pemikiran dan itu tidak terjadi melalui buku tebal di perpustakaan atau kuliah sejarah yang sistematis. Ia datang dari tempat yang tak terduga: sebuah paragraf kecil di buku sejarah ketika kami di SMA yang terasa begitu biasa, tanpa narasi heroik yang menonjol. Namun segalanya berubah ketika kabar kepulangannya pada 6 Februari 1993 terbaca dalam surat kabar cetak. Saat itu muncul perasaan ‘ditipu’ oleh sejarah yang selama ini tertulis.
Takdir kemudian menuntun ke pesantren pertanian Darul Fallah, di mana kami sering menghabiskan waktu membaca Capita Selecta, Fiqhud Da’wah, Nationalism and Revolution in Indonesia, dan tulisan Natsir yang tersebar di majalah. Di sanalah kepingan puzzle itu menyatu. Sejarah memang sering kali bergantung pada siapa yang menuliskannya, dan dalam banyak narasi resmi, porsi Natsir mungkin sengaja atau tidak terabaikan dalam tulisan yang terlalu tipis. Namun sebagaimana air yang selalu menemukan jalan ke muara, kebenaran akan selalu muncul ke permukaan.
Ada satu doa Nabi Ibrahim sebagaimana diabadikan dalam Al-Qur’an: “Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang yang datang kemudian.” (QS. Asy-Syu’ara: 84). Natsir tidak perlu memohon pengakuan dari sejarah sebab pengabdiannya telah berbicara lebih keras dari teks manapun yang mencoba mengecilkannya.
Mengapa Bangsa dan Peradaban Runtuh?
Sebelum berbicara tentang persatuan, Natsir terlebih dahulu mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar: mengapa sebuah bangsa dan peradaban bisa runtuh? Baginya, keruntuhan tidak pernah datang tiba-tiba. Ia selalu bermula dari dalam dari kerusakan nilai, rapuhnya ikatan moral, dan tercerabutnya manusia dari akar spiritualnya.
Dalam Fiqhud Da’wah, Natsir menulis bahwa dakwah dalam arti amar ma’ruf nahyi munkar adalah “syarat mutlak bagi kesempurnaan dan keselamatan hidup masyarakat.” Ini bukan sekadar kalimat fiqih ini adalah teori keruntuhan peradaban. Ketika suatu masyarakat berhenti mengoreksi dirinya sendiri, ketika kemunkaran dibiarkan merajalela, maka di situlah benih kehancuran ditaburkan. Natsir mengingatkan pula ayat yang menggugah: “Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu.” (QS. Al-Anfal: 25) bahwa diam menyaksikan kezaliman bukan pilihan yang aman bagi siapapun.
Bagi Natsir, keruntuhan tidak lahir dari satu sebab. Ia adalah akumulasi dan dari keseluruhan pemikirannya tentang hal tersebut, ada tiga racun yang paling mematikan.
Pertama, dikotomi ilmu dan iman. Natsir menolak keras pemisahan antara ilmu agama dan ilmu umum. Manusia yang cerdas secara intelektual namun kehilangan kompas moral adalah ancaman, bukan aset.
Kedua, penyakit ananiyah – egoisme. Perpecahan bangsa hampir selalu berawal dari kepentingan pribadi yang mengalahkan kepentingan bersama. Dalam Mempersatukan Umat, Natsir mendesak para pemimpin untuk memberantas bibit tafarruq perpecahan yang bersumber dari ananiyah ini. Dalam pandangannya, ananiyah bukan sekadar sifat buruk individual; ia adalah racun struktural yang menghancurkan ukhuwah.
Ketiga, terputusnya dakwah dari kekuasaan. Natsir percaya bahwa kebaikan memerlukan perlindungan struktural. Ketika kekuasaan politik dikuasai mereka yang tak peduli pada nilai moral, dakwah akan terhimpit dan peradaban akan tergerus. Inilah yang mendorong Natsir terjun ke politik praktis bukan karena haus kekuasaan, tetapi karena ia memahami bahwa kekuasaan adalah alat untuk melindungi kebenaran.
Mosi Integral: Persatuan Bukan Sekadar Slogan
Natsir tidak hanya berteori. Pada 3 April 1950, ia berdiri di hadapan sidang parlemen RIS dan menyampaikan Mosi Integral gagasan untuk melebur 16 negara bagian kembali menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mosi itu menjadi fondasi kembalinya Indonesia ke bentuk negara kesatuan. Ini bukan sekadar manuver politik; ini adalah puncak dari keyakinan teologis dan filosofis yang telah ia bangun bertahun-tahun: bahwa persatuan adalah kewajiban, bukan pilihan.
Bagi Natsir, persatuan yang sejati hanya bisa lahir dari ukhuwah imaniyah persaudaraan yang berakar pada keimanan kepada Allah, bukan sekadar koalisi kepentingan sementara. Ia juga mengingatkan bahwa rekonsiliasi harus dimulai dari para pemimpin: “tanpa gembar-gembor, hubungan antara pribadi para pemimpin harus diperbaiki dan dipelihara.” Dari sana kepercayaan bisa tumbuh, dan dari kepercayaan baru bisa lahir persatuan yang substantif. Persatuan versi Natsir juga inklusif namun berprinsip ia tidak mengorbankan nilai demi harmoni semu, karena baginya, “kalau kita belum bisa mengerjakan semua, jangan kita tinggalkan semua.”
Dari Natsir untuk Indonesia Hari Ini
Membaca Natsir hari ini terasa seperti membaca catatan medis seorang dokter yang ditulis puluhan tahun lalu, lalu kita buka kembali dan mendapati bahwa penyakitnya masih sama bahkan lebih parah. Disintegrasi Indonesia bukan lagi hanya soal gerakan separatis atau ancaman fisik terhadap wilayah. Disintegrasi yang lebih berbahaya terjadi dari dalam: perpecahan nilai, krisis kepercayaan pada institusi, dan polarisasi masyarakat yang kini dipelihara oleh algoritma media sosial.
Frasa-frasa tentang persatuan rajin diucapkan di podium, sementara praktik ananiyah egoisme kelompok dan kepentingan partisan justru menjadi arus utama dalam budaya politik kita. Di bidang pendidikan, dikotomi yang Natsir lawan di era kolonial kini hadir dalam wajah baru: sistem yang menghasilkan lulusan bergelar tinggi namun miskin integritas, generasi yang fasih berbicara tentang hak namun buta tentang kewajiban. Natsir berbicara tentang hukum sosial yang universal bahwa masyarakat yang kehilangan mekanisme koreksi diri akan hancur dari dalam, tanpa perlu musuh dari luar.
Epilog: Warisan yang Belum Selesai
Seperti yang diungkapkan George McTurnan Kahin, penulis Nationalism and Revolution in Indonesia, dalam buku *Mohammad Natsir: 70 Tahun Kenang-kenangan Kehidupan dan Perjuangan* (1978) Natsir adalah sosok dengan integritas luar biasa, kesederhanaan ekstrem, dan visi kenegarawanan. Kahin saat itu bahkan menyebutnya sebagai “the last giants among Indonesia’s nationalist and revolutionary political leaders”.
Natsir mengajarkan bahwa persatuan sejati tidak berarti diam. Persatuan justru membutuhkan keberanian berkata tidak ketika yang lain berkata ya demi kenyamanan. Dan akar keruntuhan bangsa mana pun selalu bermula dari momen ketika keberanian semacam itu mulai hilang.
Dan momen paling personal adalah ketika anak perempuan kami yang saat itu baru kuliah bertanya, “Buku apa yang direkomendasikan untuk aku baca?” Tanpa ragu kami sodorkan Capita Selecta. Mungkin itulah cara paling sederhana untuk memahami doa Ibrahim bahwa menjadi buah tutur yang baik bagi generasi berikutnya dimulai dari buku yang kita pilihkan untuk mereka.
Warisan Natsir belum selesai. Ia menitipkannya kepada kita bukan untuk dipajang di museum sejarah, melainkan untuk diperjuangkan di ruang-ruang nyata kehidupan berbangsa hari ini. Sebab sebagaimana doa Ibrahim yang dikabulkan Allah, nama yang diukir oleh pengabdian yang tulus akan terus diucapkan oleh generasi yang datang jauh melampaui paragraf-paragraf kecil yang pernah mencoba meringkasnya. [source retizen/Abu Shaffa]
Penulis adalah Alumni Pesantren Pertanian Darul Fallah