Mahasiswa Marketing Communication Batch 27 Excellent Class LSPR menghadirkan Hearticulate, proyek Community Development yang mengajak Gen Z mengenali, menerima, dan mengekspresikan emosi lewat seni dan mindfulness. (Photo: Eny Handayanih/popers.id)
Mahasiswa LSPR menghadirkan Hearticulate, ruang aman bagi generasi muda untuk mengenali, menerima, dan menyalurkan emosi lewat seni serta mindfulness. Psikolog menilai cara ini penting untuk menjaga kesehatan mental.
JAKARTA, POPERS.ID | Banyak anak muda masih memilih memendam perasaan daripada menceritakannya kepada orang lain. Rasa takut dihakimi, tidak didengar, atau dianggap berlebihan menjadi alasan yang sering membuat generasi muda enggan mengungkapkan emosi. Padahal, kebiasaan menekan perasaan dalam waktu lama bisa berdampak pada kesehatan mental.
Melihat kondisi tersebut, mahasiswa Marketing Communication Batch 27 Excellent Class LSPR Institute of Communication and Business menghadirkan Hearticulate melalui proyek Community Development bertajuk “Speak Your Heart Through Art”.
(Photo: Eny Handayanih/popers.id)
Acara yang berlangsung di SMESCO Startup Hub, Jakarta Selatan, pada Sabtu (11/7/2026) itu menjadi safe space bagi peserta untuk belajar mengenali, menerima, dan mengekspresikan emosi dengan cara yang lebih sehat melalui seni dan praktik mindfulness.
Ketua Pelaksana Hearticulate, Marina Bintang Feliza, mengatakan banyak orang sebenarnya ingin bercerita, tetapi belum menemukan ruang yang membuat mereka merasa aman untuk didengar.
Menurut Marina, Hearticulate hadir sebagai ruang yang memungkinkan setiap orang mengekspresikan emosi dan perasaannya secara positif tanpa harus memendam semuanya sendirian. Ia berharap semakin banyak orang berani mengenali serta mengomunikasikan perasaan mereka dengan cara yang sehat.
Berbeda dari seminar kesehatan mental pada umumnya, Hearticulate mengajak peserta memahami emosi melalui pengalaman langsung. Bersama UNIQ Mind Creates, peserta mengikuti berbagai aktivitas berbasis seni yang dipadukan dengan mindfulness agar proses refleksi diri terasa lebih menyenangkan dan mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Peserta dapat menjelajahi lima zona interaktif, yaitu Dial Your Feelings, Smash Your Stress, Clay and Play, Hit the Beads, dan Speak in Blooms. Seluruh aktivitas dirancang untuk membantu peserta mengenali kondisi emosional, menyalurkan stres secara positif, serta meningkatkan kesadaran diri.
Hearticulate juga menghadirkan talkshow bertajuk “How to Deal with Emotional Suppression” yang membahas dampak memendam emosi terlalu lama. Diskusi tersebut menghadirkan psikolog Imelda Konghohiro, M.Psi., kreator Mental Health Doodles Irwan (Wantji), serta Founder UNIQ Mind Creates Anetta Audrey, S.Psi.
Anetta Audrey menjelaskan bahwa tidak semua orang mampu mengungkapkan perasaan melalui kata-kata. Karena itu, seni bisa menjadi bahasa alternatif yang membantu seseorang mengekspresikan emosi dengan lebih jujur.
Menurutnya, apa yang dituangkan melalui gambar atau karya sering kali mencerminkan perasaan yang sebenarnya. Seni juga dapat menjadi media untuk memahami sekaligus mengelola emosi dengan lebih baik.
Selain itu, peserta mengikuti sesi Art Journaling yang diawali dengan guided breathwork bersama Mira Madjid, Founder Bodhicitta Circle. Melalui latihan pernapasan dan proses kreatif tersebut, peserta diajak lebih rileks sebelum menuangkan emosi ke dalam karya seni.
Dosen mata kuliah Community Development LSPR, Melvin Bonardo Simanjuntak, menilai Hearticulate menjadi bukti bahwa mahasiswa komunikasi tidak hanya belajar menyusun strategi kampanye di ruang kelas. Mereka juga mampu menghadirkan program yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Seminar kesehatan mental pada umumnya, Hearticulate mengajak peserta belajar memahami emosi melalui pengalaman langsung. (Photo: Eny Handayanih/popers.id)
Menurutnya, pendekatan komunikasi yang dipadukan dengan seni dapat menjadi media edukasi yang lebih dekat dengan kehidupan generasi muda.
Tak hanya mengangkat isu kesehatan mental, Hearticulate juga menerapkan konsep sustainable event melalui kolaborasi dengan Waste4Change untuk pengelolaan sampah selama acara. Panitia turut menyalurkan 20 persen hasil penjualan tiket sebagai donasi serta mengadakan kegiatan sosial bersama warga binaan lansia di Panti Sosial Bina Insani (PSBI) Bangun Daya 2 Cipayung.
Melalui Hearticulate, mahasiswa LSPR ingin menunjukkan bahwa menjaga kesehatan mental tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Mengenali emosi, berani mengungkapkan perasaan, dan memiliki ruang yang aman untuk didengar merupakan langkah sederhana yang dapat membantu seseorang membangun hubungan yang lebih sehat dengan diri sendiri maupun orang lain.
(Photo: Eny Handayanih/popers.id)
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap isu kesehatan mental, Hearticulate menunjukkan bahwa seni bukan hanya sarana berkarya. Seni juga bisa menjadi media edukasi, refleksi diri, dan jembatan untuk membangun generasi muda yang lebih sadar akan pentingnya kesehatan emosional. [EH]