Masjid Raya Taman Yasmin Luncurkan GEMAS: Gerakan Nyata Selamatkan 12 Anak Stunting di Cilendek Timur. (Sumber foto: DKM Masjid Raya Yasmin)
Masjid Raya Taman Yasmin meluncurkan program GEMAS untuk membantu 12 balita stunting di Cilendek Timur, Bogor, melalui kolaborasi masjid, kelurahan, dan puskesmas.
BOGOR, POPERS.ID | Di tengah padatnya kawasan perkotaan Cilendek Timur, masih ada 12 balita yang harus berjuang menghadapi keterbatasan gizi dan minimnya akses informasi pengasuhan yang tepat. Mereka bukan sekadar data statistik, melainkan anak-anak yang masa depannya terancam sejak dini.
Melihat kondisi tersebut, Masjid Raya Taman Yasmin memilih untuk bergerak. Pada Selasa, 12 Mei 2026, masjid ini resmi meluncurkan GEMAS atau Gerakan Masjid Atasi Stunting. Program ini hadir bukan sebagai kegiatan seremonial, melainkan aksi nyata yang menempatkan masjid sebagai bagian dari solusi persoalan sosial di masyarakat.
Stunting Bukan Sekadar Anak Pendek
Masalah stunting masih menjadi tantangan serius. Dampaknya tidak hanya terlihat dari tinggi badan anak, tetapi juga memengaruhi perkembangan otak, daya tahan tubuh, hingga produktivitas saat dewasa nanti.
Dampak ekonomi yang ditimbulkan juga tidak kecil. Kerugian negara akibat stunting diperkirakan bisa mencapai 2–3 persen dari PDB nasional karena berkurangnya kualitas sumber daya manusia di masa depan.
Data Kementerian Kesehatan tahun 2024 menunjukkan prevalensi stunting di Jawa Barat masih berada di angka 20,2 persen, lebih tinggi dibanding rata-rata nasional. Sementara di Kota Bogor, tercatat ada 1.491 anak yang mengalami stunting.
Cilendek Timur dan Tantangan di Balik Kota
Banyak orang menganggap stunting hanya terjadi di wilayah terpencil. Namun, kondisi di Cilendek Timur menunjukkan kenyataan yang berbeda.
Kelurahan dengan jumlah penduduk sekitar 19.413 jiwa ini berada di kawasan perkotaan dengan akses infrastruktur yang cukup baik. Tantangan utamanya justru berada pada aspek sosial dan ekonomi masyarakat.
Penelitian IPB dan PLAN International pada 2003 yang masih relevan hingga kini mencatat bahwa Cilendek Timur pernah menjadi wilayah dengan konsentrasi penduduk miskin tertinggi di Bogor Barat. Sebagian besar kepala keluarga bekerja sebagai buruh dan tingkat pendidikan orang tua didominasi lulusan sekolah dasar.
Kondisi tersebut membuat akses informasi terkait gizi, ASI eksklusif, MPASI, hingga pola asuh anak menjadi terbatas. Akibatnya, anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan terdampak.
GEMAS Hadir dengan Kolaborasi Tiga Pilar
Program GEMAS dibangun melalui kolaborasi antara tiga pihak yang memiliki peran berbeda namun saling melengkapi.
DKM Masjid Raya Taman Yasmin bertugas sebagai penggerak dan pusat koordinasi program. Kelurahan Cilendek Timur menyediakan data serta dukungan kader di lapangan. Sementara Puskesmas Gang Kelor bertanggung jawab pada pendampingan medis dan pemantauan kondisi gizi anak.
“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Masjid punya kepercayaan masyarakat, kelurahan punya data, dan puskesmas punya kompetensi medis. Tiga-tiganya harus jalan beriringan,” ujar salah satu pengurus DKM saat peluncuran program.
Kolaborasi ini memastikan setiap pihak bekerja sesuai perannya tanpa saling mengambil tugas satu sama lain.
Empat Langkah Nyata GEMAS
Untuk memastikan program berjalan efektif, GEMAS memiliki empat kegiatan utama yang langsung menyasar 12 anak dan keluarganya.
Pertama, pemberian makanan tambahan atau PMT dengan memanfaatkan bahan pangan lokal seperti telur, ikan teri, tempe, kacang hijau, dan sayuran hijau. Seluruh menu disusun berdasarkan pedoman “Isi Piringku” dari Kementerian Kesehatan dan diberikan dengan pendampingan kader puskesmas.
Kedua, tausiyah singkat bagi para ibu. Materi yang diberikan berfokus pada penguatan mental dan spiritual agar orang tua tetap kuat dalam mendampingi tumbuh kembang anak di tengah berbagai keterbatasan.
Ketiga, edukasi gizi dan tumbuh kembang anak yang dipandu tenaga kesehatan dari Puskesmas Gang Kelor. Materinya mencakup cara membaca KMS, pengolahan MPASI berbahan lokal, tanda-tanda stunting, hingga pentingnya sanitasi dan kebiasaan hidup bersih. Kegiatan ini juga dilengkapi demo memasak dan buku saku bergambar.
Keempat, kunjungan rumah secara rutin oleh tim gabungan dari masjid, kelurahan, dan puskesmas. Kegiatan ini dilakukan untuk memastikan edukasi yang diberikan benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sekaligus memantau kondisi lingkungan keluarga.
Pendekatan inilah yang membuat GEMAS berbeda. Program ini tidak hanya berfokus pada pemberian makanan, tetapi juga edukasi serta pendampingan emosional dan spiritual bagi keluarga.
Target 12 Anak Bebas Stunting dalam 12 Bulan
Program GEMAS memiliki target yang jelas dan terukur. Dalam satu tahun pertama, sebanyak 12 anak sasaran diharapkan mampu mencapai kurva pertumbuhan normal sesuai standar WHO.
Seluruh proses pemantauan akan dilakukan bersama Puskesmas Gang Kelor untuk memastikan perkembangan anak berjalan sesuai target.
Lebih jauh lagi, program ini diharapkan menjadi langkah awal menuju Cilendek Timur Nol Stunting dan mendukung terwujudnya Bogor BEST atau Bogor Bebas Stunting.
Bisa Ditiru Masjid Lain di Indonesia
GEMAS dirancang agar bisa direplikasi oleh masjid-masjid lain di berbagai daerah.
Langkahnya dimulai dengan mengidentifikasi anak stunting di lingkungan sekitar melalui data kelurahan atau posyandu. Setelah itu, masjid dapat menjalin kerja sama dengan puskesmas setempat dan menjalankan empat pilar utama GEMAS sesuai kemampuan masing-masing.
Tidak harus langsung sempurna. Yang terpenting adalah memulai dan konsisten menjalankannya.
Sebab setiap masjid yang berhasil membantu lima hingga sepuluh anak keluar dari kondisi stunting berarti ikut menyelamatkan masa depan satu generasi di lingkungannya sendiri.
Masyarakat juga dapat berpartisipasi dengan berbagai cara, mulai dari berdonasi untuk kebutuhan PMT, menjadi relawan pendamping saat sesi edukasi, hingga menyebarkan informasi program kepada pengurus masjid di sekitar tempat tinggal.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
“Barangsiapa memudahkan urusan orang yang sedang kesulitan, niscaya Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan di akhirat.”
Dari Cilendek Timur untuk Indonesia, GEMAS hadir membawa harapan bahwa pencegahan stunting bukan hanya tugas pemerintah atau tenaga kesehatan, tetapi tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.
Satu masjid, satu wilayah, satu generasi yang diselamatkan. (abusyaffa)