Connect with us

CROCODILE TEARS: Batas Tipis Antara Kasih Sayang dan Kendali Emosi

Movie News

CROCODILE TEARS: Batas Tipis Antara Kasih Sayang dan Kendali Emosi

Suasana Press Conference & Press Screening film “Crocodile Tears”. (Foto: EH/popers.id)

Mengangkat relasi ibu dan anak yang tidak biasa, film ini siap memberikan pengalaman menonton yang emosional dan membekas.

BOGOR, POPERS.ID | Pernah nggak sih kalian ngerasa ada hubungan keluarga yang malah bikin nggak nyaman? Film CROCODILE TEARS siap mengupas relasi ibu dan anak yang out of the box dan penuh lapisan psikologis. Film ini baru saja diperkenalkan lewat jumpa pers bersama para pemain dan tim kreatif seperti Marissa Anita, Yusuf Mahardika, Zulfa Maharani, sutradara Tumpal Tampubolon, serta produser Mandy Marahimin.

Perjalanan film ini terbilang cukup panjang. Naskahnya mulai dibahas sejak akhir 2017 dan baru masuk tahap produksi beberapa tahun kemudian. Sutradara Tumpal Tampubolon mengungkapkan bahwa proses panjang ini sangat dibutuhkan agar cerita terasa matang dan sampai ke penonton. Menurutnya, setiap adegan harus punya alasan dan makna yang jelas. Hubungan antar karakter juga tidak bisa ditampilkan sembarangan, melainkan harus terasa jujur dan detail.

Menariknya, proyek ini mendapat dukungan pendanaan internasional dari Prancis, Jerman, hingga Singapura. Produser Mandy Marahimin menyebut dukungan tersebut menjadi bukti bahwa cerita lokal memiliki daya tarik global. Mandy percaya kisah keluarga yang intim ini bisa diterima secara luas karena isu tentang cinta, kontrol, dan relasi orang tua dan anak adalah hal yang universal.

Sorotan utama dalam film ini datang dari Marissa Anita yang memerankan sosok ibu dengan karakter yang kompleks. Marissa mengaku bahwa peran ini memberikan tantangan emosional tersendiri baginya. Karakter ini bukan sekadar ibu biasa, melainkan memiliki cinta yang besar namun dibarengi luka dan ketakutan yang membuat caranya mencintai menjadi tidak sehat. Marissa harus menyelami sisi rapuh sekaligus dominan dari karakter tersebut agar terasa nyata saat disaksikan di layar.

Secara garis besar, CROCODILE TEARS menyorot hubungan ibu dan anak laki-lakinya yang sudah berusia 20-an tahun. Sayangnya, relasi keduanya jauh dari kata normal. Sang ibu digambarkan terlalu posesif, protektif, bahkan menunjukkan kedekatan fisik yang dianggap tidak wajar. Mulai dari ciuman berlebihan hingga tidur dalam satu kasur, semua digambarkan tanpa jawaban pasti. Penonton justru dipaksa untuk menilai sendiri: apakah ini bentuk kasih sayang, trauma, rasa takut kehilangan, atau justru sebuah manipulasi emosional?

Judul CROCODILE TEARS sendiri bukan tanpa alasan. Para pemain bahkan sempat melakukan observasi langsung ke taman buaya untuk memahami gerak dan naluri hewan tersebut sebagai referensi karakter. Buaya di dalam film ini menjadi simbol sosok yang tampak tenang dan melindungi, namun diam-diam bisa menjadi ancaman bagi orang terdekatnya.

Dengan tempo yang lambat dan penuh dengan simbol, CROCODILE TEARS memang bukan tontonan yang ringan. Namun, bagi kalian yang menyukai drama psikologis dan suka menebak makna di balik adegan, film ini menawarkan pengalaman menonton yang bikin gelisah sekaligus sulit dilupakan. Film ini melempar satu pertanyaan besar kepada penonton: di mana batas kasih sayang orang tua, dan kapan cinta tersebut berubah menjadi kendali? [EH]

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Movie News

BLACKPINK New Album & World Tour 2025 #blackpink #blinks #worldtourdeadline
RESAH HATI EPS 4 #resahhati #contentreligi #syiar #tebarkebaikan
RASULULLAH & PARA SAHABAT Eps 3

Facebook

Culture

To Top