Socio-Cultural

Borong Lambo Tapi Jalan Cuma Satu? Spill Alasan Negara Kaya Ini Mendadak Bangkrut!

Published on

Ilustrasi: AI

Kisah tragis Nauru, negara terkaya di dunia yang jatuh miskin akibat gaya hidup mewah, borong supercar Lamborghini, dan krisis pengelolaan sumber daya alam fosfat.

BOGOR, POPERS.ID | Pernah bayangin nggak ada sebuah negara yang saking kayanya, penduduknya hobi banget beli Lamborghini dan Ferrari padahal jalanan aspal di sana cuma ada satu? Ini bukan plot film Hollywood, tapi nyata terjadi di Nauru, sebuah pulau kecil di kawasan Oseania. Dulu sempat jadi salah satu negara paling tajir melintir di dunia, sekarang Nauru justru harus berjuang dari kebangkrutan.

Berawal dari Harta Karun Fosfat

Semua bermula dari fosfat. Bahan baku pupuk yang super berharga ini ditemukan melimpah di Nauru sejak awal tahun 1900-an. Awalnya, kekayaan ini dikelola pihak asing, tapi setelah merdeka di tahun 1968, Nauru ambil alih semua tambang itu. Hasilnya? Booming ekonomi yang gila-gilaan.

Bahkan pada tahun 1982, pendapatan per kapita Nauru tercatat mengalahkan negara-negara Arab penghasil minyak. Predikatnya nggak main-main: negara demokrasi terkecil sekaligus terkaya di dunia.

Era Gila Konsumsi: Supercar dan Fasilitas Serba Gratis

Karena uang yang masuk nggak berseri, gaya hidup penduduknya berubah drastis. Ada cerita ikonik tentang seorang kepala polisi yang beli Lamborghini, padahal batas kecepatan di jalanan pulau itu cuma 40 km/jam. Belum lagi deretan Ferrari, Cadillac, hingga Land Rover yang diimpor masuk ke pulau mungil ini.

Pemerintahnya juga sangat loyal sama rakyat. Semua layanan penting dikasih gratis tis! Mulai dari sekolah, dokter gigi, transportasi, sampai koran. Kalau ada warga yang sakit dan nggak bisa ditangani di RS lokal, mereka bakal diterbangkan ke Australia dengan biaya penuh dari negara. Kuliah di luar negeri pun tinggal berangkat karena semua ditanggung pemerintah.

Realita Pahit di Balik Kemewahan

Sayangnya, party ini nggak bertahan selamanya. Memasuki tahun 1990-an, cadangan fosfat mulai menipis karena dieksploitasi terus-menerus. Masalah jadi makin runyam karena praktik korupsi dan pengelolaan keuangan yang buruk.

YouTuber Ruhi Çenet yang berkunjung ke sana tahun 2024 kemarin bahkan masih melihat sisa-sisa “kegilaan konsumsi” itu. Banyak mobil mewah yang dulu dibanggakan kini cuma jadi bangkai berkarat di pinggir jalan. Benar-benar jadi pengingat kalau kekayaan alam itu ada batasnya.

Dari Surga Pajak ke Pusat Pengungsi

Waktu uangnya habis, Nauru sempat nekat cari cara instan buat dapat cuan. Mereka sempat jadi tax haven atau surga pajak yang menjual lisensi bank dan paspor. Kabarnya, uang mafia Rusia senilai sekitar Rp1.127 triliun sempat mengalir lewat bank-bank di sana cuma dalam setahun. Hal ini bikin Amerika Serikat melabeli Nauru sebagai negara pencucian uang pada 2002.

Kini, Nauru bertahan lewat bantuan finansial dari Australia. Sebagai imbalannya, pulau kecil ini dijadikan pusat penempatan bagi para pencari suaka yang mau masuk ke Australia. Sebuah plot twist yang cukup tragis buat negara yang dulunya punya pendapatan per kapita tertinggi di dunia.

source article: cnbcindonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Exit mobile version