Iran tak percaya dengan Amerika Serikat lagi di tengah rencana perundingan damai konflik yang telah berlangsung sejak 28 Februari (Ilustrasi: AI)
Rencana negosiasi damai AS–Iran kembali mencuat, tapi Teheran tegas menolak percaya pada Washington setelah dua kali gagal soal nuklir.
BOGOR, POPERS.ID | Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran belum menunjukkan tanda mereda. Di tengah rencana perundingan damai yang disebut akan berlangsung pekan ini, Iran justru menunjukkan sikap dingin dan penuh curiga terhadap langkah Washington.
Presiden AS, Donald Trump, mengungkapkan bahwa delegasi Amerika akan segera bertemu dengan perwakilan Iran untuk membahas upaya mengakhiri konflik yang sudah berjalan sejak 28 Februari.
Namun, laporan dari portal Axios menyebut situasinya tidak semulus yang disampaikan. Mengutip sejumlah pejabat Iran, pemerintah Teheran sudah memberi sinyal ke negara-negara mediator bahwa mereka tidak lagi percaya pada AS, terutama karena pengalaman buruk di masa lalu.
Negosiasi soal program nuklir antara kedua negara sebelumnya sudah gagal dua kali dan justru berujung konflik, masing-masing pada Juni 2025 dan konflik yang masih berlangsung di 2026.
Sikap Iran terlihat tegas. “Kami tidak akan tertipu lagi,” ujar seorang pejabat Iran, Rabu (25/3/2026).
Iran juga dikabarkan sudah menyampaikan kekhawatiran mereka ke Pakistan, Mesir, dan Turki. Peningkatan kehadiran militer AS di kawasan dinilai semakin memperkuat kecurigaan bahwa tawaran damai dari Trump hanya strategi politik, bukan niat serius.
Di sisi lain, Trump mengklaim tim negosiasi AS akan diisi oleh nama-nama penting, seperti Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Wakil Presiden JD Vance, utusan khusus Steve Witkoff, serta penasihat Jared Kushner.
Trump juga menyebut kelanjutan negosiasi pekan ini sebagai tanda bahwa Iran punya niat serius untuk mencari jalan keluar konflik.
Tapi pernyataan itu langsung dibantah dari Teheran. Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa sampai saat ini belum ada pembicaraan resmi dengan AS.
Pernyataan Trump pun dinilai hanya upaya untuk menenangkan pasar global yang sedang bergejolak, bukan cerminan kondisi sebenarnya di lapangan.
Situasi ini membuat peluang damai antara AS dan Iran masih jauh dari kata pasti.