Fenomena flexing bikin banyak orang rela ngutang. Masalah mindset doang, atau tanda hati lagi “bermasalah”?. (Ilustrasi: AI)
BOGOR, POPERS.ID – Pernah ngerasa harus keliatan “wah” biar dianggap sukses? Di era social media, standar hidup kayak makin naik: outfit branded, nongkrong di café hits, gadget terbaru. Masalahnya, nggak semua kondisi finansial bisa ngikutin.
Akhirnya? Banyak yang ambil jalan pintas: ngutang demi gaya hidup.
Nah, ini sebenernya cuma soal mental (mindset & self-control), atau ada problem yang lebih dalam spiritual?
Gaya Hidup vs Realita Finansial
Fenomena klasik: besar pasak daripada tiang. Pengeluaran lebih gede dari pemasukan. Dan yang lebih mengkhawatirkan, utang bukan lagi buat kebutuhan darurat, tapi buat gengsi.
Padahal dalam Islam, utang itu bukan hal ringan.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Jiwa seorang mukmin itu tergantung dengan utangnya sampai utangnya dilunasi.” (HR. Tirmidzi)
Maknanya? Utang bisa jadi beban serius, bahkan sampai urusan akhirat.
Ini Masalah Mental…
Kalau dilihat secara psikologis, kebiasaan ini sering dipicu oleh:
FOMO (Fear of Missing Out)
Butuh validasi sosial
Kurangnya self-control
Mindset instan (pengen cepat keliatan sukses)
Di sini jelas: ada masalah dalam cara pandang terhadap uang dan identitas diri. Hidup jadi ajang pembuktian, bukan lagi kebutuhan.
…Atau Masalah Spiritual?
Lebih dalam lagi, ini juga bisa jadi tanda hati lagi “geser”.
Dari yang harusnya qana’ah (merasa cukup), jadi selalu merasa kurang.
Allah SWT berfirman:
وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros itu adalah saudara setan.” (QS. Al-Isra: 26–27)
Penjelasan singkat: Ayat ini bukan cuma soal boros, tapi juga mindset. Ketika kita memaksakan gaya hidup lewat utang, itu bisa masuk kategori israf (berlebihan) yang dilarang.
Utang dalam Fiqih Islam
Dalam fiqih muamalah, utang (qardh) itu boleh (halal), tapi ada batasannya:
Ada kebutuhan yang jelas
Ada niat dan kemampuan untuk membayar
Tidak untuk hal maksiat atau berlebihan
Kaidah fiqih menyebut: “Al-ashlu fil mu’amalat al-ibahah illa an yadulla dalil ‘ala tahrimiha.” (Hukum asal muamalah itu boleh, kecuali ada dalil yang melarang)
Nah, ketika utang dipakai buat gaya hidup yang berlebihan dan berpotensi mudarat, sebagian ulama menilai hukumnya bisa makruh bahkan mendekati haram—tergantung dampaknya.
Bahaya yang Sering Diremehkan
Ngutang demi gaya hidup itu bukan cuma soal uang. Dampaknya bisa ke mana-mana:
Stres & tekanan hidup
Hubungan rusak karena utang
Hilangnya keberkahan rezeki
Beban akhirat kalau tidak dilunasi
Dan yang paling bahaya: jadi kebiasaan tanpa sadar.
Relevansi Zaman Sekarang
Di era digital, flexing itu real. Dari Instagram sampai TikTok, semua orang kayak “hidup sempurna”.
Padahal? Bisa jadi itu hasil cicilan 😅
Makanya penting banget buat anak muda sekarang:
Jangan ukur hidup dari feed orang lain
Jangan kejar “image” sampai ngorbanin ketenangan
Financial awareness = bagian dari iman juga
Solusi: Reset Mindset & Iman
1. Dari sisi mental:
Bedain kebutuhan vs keinginan
Stop compare hidup
Hidup sesuai kemampuan (live within your means)
2. Dari sisi spiritual:
Latih qana’ah
Perbanyak syukur
Ingat hisab (pertanggungjawaban di akhirat)
Penutup
Ngutang demi gaya hidup bukan cuma soal gengsi. Ini bisa jadi alarm: ada yang perlu dibenahi baik dari sisi mental maupun spiritual.
Karena pada akhirnya, hidup yang tenang itu bukan soal seberapa “keren” kita terlihat… tapi seberapa ringan beban yang kita bawa di dunia dan di akhirat.
Sekarang coba tanya ke diri sendiri: Lo pengen keliatan kaya… atau beneran hidup tenang?