International News

Iran Tutup Pintu Diplomasi, Siap Lawan AS dalam Perang Panjang

Published on

Iran menutup pintu diplomasi terhadap Amerika Serikat terkait perang yang berlangsung di Timur Tengah (Foto ilustrasi: AI)

Ketegangan Iran vs AS makin panas. Teheran menyatakan tidak ada lagi ruang diplomasi setelah serangan militer yang menewaskan lebih dari 1.200 orang sejak akhir Februari 2026.

JAKARTA | Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat makin memanas. Pemerintah Iran kini secara terbuka menyatakan tidak melihat peluang diplomasi dengan Washington di tengah perang yang masih berlangsung.

Penasihat kebijakan luar negeri di kantor pemimpin tertinggi Iran, Kamal Kharazi, mengatakan situasi saat ini sudah melewati fase negosiasi.

“Saya tidak melihat ruang lagi untuk diplomasi,” kata Kharazi dalam wawancara dengan CNN, dikutip Selasa, 10 Maret 2026.

Pernyataan itu muncul setelah Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan militer ke Iran sejak 28 Februari 2026. Serangan tersebut dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.200 orang.

Menurut Kharazi, Iran menilai langkah Washington sebagai bentuk pengkhianatan dalam hubungan diplomatik yang sebelumnya masih berjalan. Ia menyebut serangan Amerika terjadi ketika kedua negara sedang membahas isu nuklir.

Iran mencatat dua momen yang dianggap sebagai bentuk pengkhianatan tersebut. Pertama terjadi pada 22 Juni 2025, sekitar sepuluh hari setelah serangan Israel ke Iran, saat proses perundingan nuklir masih berlangsung. Kedua, serangan terbaru Amerika Serikat pada 2026 juga terjadi ketika pembicaraan nuklir kembali digelar.

Pemerintah Iran menilai kondisi ini membuat jalur diplomasi semakin sulit untuk dilanjutkan.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, sebelumnya juga menegaskan bahwa negaranya siap menghadapi konflik jangka panjang dengan Amerika Serikat dan Israel. Ia menyatakan militer Iran sudah berada dalam posisi siap menghadapi eskalasi yang lebih luas.

Araghchi bahkan menuding Washington sedang merancang serangan lanjutan terhadap fasilitas minyak dan instalasi nuklir Iran. Menurutnya, langkah tersebut bertujuan menekan dampak ekonomi global, termasuk potensi lonjakan inflasi akibat konflik di Timur Tengah.

Meski demikian, Teheran menegaskan tidak akan mundur. Pemerintah Iran menyatakan siap merespons setiap bentuk eskalasi yang datang dari Amerika Serikat maupun Israel.

Konflik yang terus meningkat ini juga mulai mengguncang pasar global, terutama sektor energi, karena kawasan Timur Tengah merupakan salah satu pusat produksi minyak dunia. Para analis menilai jika konflik terus melebar, dampaknya bisa memicu ketidakstabilan ekonomi internasional dalam jangka panjang.

source: inews

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Exit mobile version