Economic & Business

Rupiah Jebol Rp17.000! Efek Domino Perang Timur Tengah Mulai Hantam Ekonomi RI

Published on

Waadaw nilai tukar rupiah tembus Rp17.019 per dolar AS. (Foto ilustrasi: AI)

Nilai tukar rupiah tembus Rp17.019 per dolar AS pada perdagangan 9 Maret 2026. Eskalasi konflik Timur Tengah dan lonjakan harga minyak dunia disebut jadi pemicu utama gejolak pasar keuangan Indonesia.

JAKARTA, POPERS.ID | Rupiah Tembus Rp17.000, Pasar Keuangan RI Langsung Gonjang-Ganjing.

Pasar keuangan Indonesia langsung bergejolak pada perdagangan Senin, 9 Maret 2026. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menembus level psikologis Rp17.000 per dolar AS.

Pada pembukaan perdagangan, rupiah tercatat berada di posisi Rp17.019 per dolar AS. Angka ini melemah sekitar 0,56 persen dibandingkan penutupan akhir pekan lalu yang berada di level Rp16.925 per dolar AS.

Pelemahan ini langsung memicu kekhawatiran pelaku pasar karena level Rp17.000 dianggap sebagai batas psikologis penting bagi stabilitas rupiah.

Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu Utama

Pengamat pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan, tekanan terhadap rupiah berasal dari kombinasi faktor global dan domestik.

Salah satu pemicu terbesar adalah perkembangan politik di Iran. Terpilihnya Muqtaba Khamenei sebagai pemimpin baru Iran menggantikan Ayatullah Ali Khamenei membuat pasar global bereaksi keras.

Menurut Ibrahim, sosok Muqtaba Khamenei dinilai lebih fundamentalis. Kondisi ini berpotensi memperpanjang konflik geopolitik di Timur Tengah.

Situasi semakin panas setelah pernyataan keras dari Donald Trump yang menyebut akan mengganti rezim di Iran. Ketegangan tersebut membuat risiko konflik regional meningkat tajam.

Ancaman Penutupan Selat Hormuz

Eskalasi konflik juga memicu kekhawatiran terhadap jalur energi global, terutama Selat Hormuz. Jalur ini merupakan salah satu rute utama distribusi minyak dunia.

Jika jalur tersebut terganggu atau bahkan ditutup, dampaknya bisa sangat besar terhadap harga energi global.

Beberapa analis bahkan memperkirakan harga minyak mentah bisa melonjak hingga 200 dolar AS per barel jika krisis Timur Tengah tidak menemukan solusi dalam waktu satu bulan.

Saat ini saja, harga minyak dunia sudah naik ke kisaran 117 dolar AS per barel.

Lonjakan tersebut mengingatkan banyak pihak pada krisis ekonomi global tahun 2008 yang dipicu oleh gangguan besar pada sektor energi.

Risiko Defisit Anggaran Indonesia

Selain faktor global, pasar juga mencermati tekanan dari sisi domestik.

Harga minyak dunia yang jauh di atas asumsi pemerintah menjadi perhatian serius. Pemerintah sebelumnya menggunakan asumsi harga minyak sekitar 92 dolar AS per barel dalam perhitungan anggaran.

Jika harga minyak terus bertahan tinggi, pemerintah kemungkinan harus melakukan penyesuaian anggaran besar.

Ibrahim menyebut potensi defisit anggaran Indonesia bisa melebar hingga sekitar 3,6 persen.

Kondisi ini berpotensi memaksa pemerintah melakukan realokasi belanja negara, termasuk kemungkinan mengurangi anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Sentimen Politik Ikut Pengaruhi Investor

Selain faktor ekonomi, sentimen politik juga ikut mempengaruhi psikologi investor.

Sejumlah wacana terkait kemungkinan Indonesia keluar dari beberapa komitmen internasional jika konflik Palestina tidak menemukan solusi turut menambah ketidakpastian di pasar.

Ketidakpastian geopolitik dan kebijakan tersebut membuat investor global lebih berhati-hati menempatkan dana di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

IHSG Ikut Tertekan

Tekanan di pasar keuangan tidak hanya terjadi pada nilai tukar rupiah.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga langsung melemah pada pembukaan perdagangan hari ini.

IHSG dibuka turun 211,38 poin atau sekitar 2,79 persen ke posisi 7.374,31.

Penurunan ini mencerminkan reaksi investor terhadap meningkatnya risiko global serta kekhawatiran terhadap dampak ekonomi dari konflik Timur Tengah.

Kondisi ini membuat pasar keuangan Indonesia memasuki pekan perdagangan dengan sentimen yang cukup berat. Jika eskalasi geopolitik terus meningkat, tekanan terhadap rupiah dan pasar saham berpotensi berlanjut.

source: inews

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Exit mobile version