Economic & Business

Bioskop Sepi Pas Ramadan? Ternyata Ini Penyebab Okupansinya Drop Parah

Published on

(Foto ilustrasi karikatur: AI)

Fenomena musiman Ramadan bikin okupansi bioskop terjun bebas hingga 50 persen akibat pergeseran jam nonton dan minimnya film blockbuster.

JAKARTA | Efek bulan suci Ramadan ternyata nggak cuma kerasa di meja makan pas buka puasa, tapi juga berimbas ke layar lebar. Buat kamu yang akhir-akhir ini ngerasa studio bioskop lebih lowong dari biasanya, tebakan kamu benar. Industri bioskop tanah air lagi ngalamin penurunan jumlah penonton yang cukup signifikan selama bulan puasa ini.

Pola Musiman yang Selalu Berulang

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI), Suprayitno, mengonfirmasi kalau fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Menurut beliau, penurunan okupansi kursi bioskop sudah jadi semacam tradisi tahunan setiap kali memasuki bulan Ramadan.

“Sebenarnya seperti biasa ya, setiap bulan Ramadan okupansi pasti menurun. Itu sudah jadi pola tahunan,” ujar Suprayitno pada Kamis (4/3/2026).

Nggak tanggung-tanggung, penurunan jumlah penonton kali ini tercatat bisa mencapai angka 50 persen kalau dibandingin sama bulan-bulan reguler. Artinya, setengah kursi yang biasanya terisi penuh, sekarang dibiarkan kosong selama periode tertentu.

Kenapa Film Baru Pada Ngumpet?

Selain faktor masyarakat yang lebih fokus ibadah, ada alasan strategis di balik layar. Para distributor film atau filmmaker biasanya milih buat hold dulu film-film besar (blockbuster) mereka. Mereka lebih sreg merilis film jagoan setelah lebaran tiba demi menghindari risiko rugi karena sepi penonton.

Minimnya pilihan film menarik di bioskop otomatis bikin daya tarik orang buat mampir ke mall jadi berkurang, terutama pas jam-jam siang atau sore hari.

Pergeseran Jam Primetime: Dari Ngabuburit ke Post-Tarawih

Berdasarkan data operasional, waktu ngabuburit yang biasanya ramai justru jadi periode paling sepi karena berbarengan sama jam pulang kantor dan persiapan buka puasa. Sebaliknya, grafik penonton baru mulai naik tajam setelah waktu berbuka sampai selesai salat tarawih.

“Secara keseluruhan memang jam sore dan malam lebih ramai, mau Ramadan atau tidak. Karena kalau jam awal itu kan jam kerja dan sekolah,” jelas Suprayitno.

Strategi Efisiensi Pengelola Bioskop

Menghadapi situasi yang challenging ini, beberapa pengelola bioskop nggak tinggal diam. Buat menjaga biaya operasional tetap aman, mereka ngelakuin langkah efisiensi. Caranya adalah dengan membatasi jumlah studio yang dibuka pada siang hari. Jadi, jangan heran kalau pilihan jam tayang di aplikasi favorit kamu terasa lebih sedikit pas siang hari.

Langkah ini diambil karena jumlah penonton yang memang nggak sebanding dengan biaya listrik dan operasional kalau semua layar dipaksakan tayang.

Tetap Jadi Opsi Hiburan Paling Aman

Meski lagi sepi-sepinya, Suprayitno tetap optimis kalau bioskop masih jadi pilihan utama masyarakat buat cari hiburan yang simpel dan nggak ribet. Selama ada film yang dianggap relatable atau menarik, orang tetap bakal datang meski frekuensinya nggak sepadat bulan biasa.

Bioskop dianggap sebagai tempat “pelarian” yang nyaman buat nunggu waktu atau sekadar quality time bareng teman-teman setelah seharian beraktivitas.

Apakah kamu salah satu yang lebih suka nonton pas bulan Ramadan karena nggak perlu antre panjang?

source: cnbcindonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Exit mobile version