National News

Siap-Siap! PP Tunas Gaspol Maret 2026, Inovasi Platform Bakal Mati Gaya?

Published on

Foto: Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid saat ditemui usai rapat kerja dengan Komisi I DPR RI, di Jakarta, Senin (8/12/2025). (CNBC Indonesia/ Intan Rakhmayanti Dewi)

Pemerintah resmi memberlakukan PP Tunas mulai Maret 2026 untuk memperketat keamanan anak di dunia maya tanpa mematikan kreativitas industri digital.

JAKARTA | Dunia digital Indonesia bakal kedatangan “tamu” baru yang cukup krusial nih. Pemerintah sudah kasih aba-aba kalau PP Tunas Berlaku Maret 2026. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 ini bakal jadi kompas baru buat para pengelola platform digital biar lebih peduli sama keamanan user bocil alias anak-anak di bawah umur.

Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi), Meutya Hafid, sudah confirm kalau implementasi aturan ini tinggal menghitung hari. Sekarang, pihak kementerian lagi sibuk harmonisasi aturan pelaksana dalam bentuk Peraturan Menteri di Kemenkum. Jadi, ini bukan sekadar wacana lagi, tapi sudah on track.

Platform Digital Wajib Standby dan Comply

Meutya Hafid mengingatkan para penyedia platform atau tech giants buat segera berbenah. Menurutnya, sosialisasi sudah dilakukan jauh-jauh hari, jadi nggak ada alasan buat kaget atau nggak siap pas Maret nanti.

“Insya Allah bulan depan. Kita harapkan para platform juga sudah menyiapkan diri. Kami rasanya sudah cukup menyampaikan bahwa ini akan mulai Maret,” ujar Meutya pas ditemui media, Jumat malam (27/2/2026).

Pemerintah sadar banget kalau aturan ini nggak bakal maksimal kalau cuma jalan searah. Butuh willingness dari para pemilik platform buat bener-bener comply alias patuh sama aturan main perlindungan anak di ranah digital ini. Tujuannya simpel tapi deep: bikin internet jadi tempat yang aman buat tumbuh kembang anak-anak Indonesia.

Inovasi Terhambat? Meutya Hafid: Perlindungan Anak Itu Justru Inovasi

Nah, isu yang lagi hangat dibahas adalah kekhawatiran dari pelaku industri. Ketua Umum idEA, Hilmi Adrianto, sempat curhat kalau aturan ini bisa jadi beban berat buat platform. Ada ketakutan kalau regulasi yang terlalu ketat malah bikin ekonomi digital Indonesia jadi lemot dan menghambat inovasi.

Tapi, Meutya Hafid punya pandangan yang beda dan cukup tegas soal ini. Beliau menepis anggapan kalau perlindungan anak itu musuh dari inovasi.

“Nggak ada inovasi dan nggak ada ekonomi digital yang menargetkan kejahatan terhadap anak. Jadi kalau dia terdampak kepada pelindungan anak, ya itu udah kita hitung sebagai inovasi yang layak kita ambil sebagai sebuah negara,” tegas Meutya.

Intinya, kalau sebuah progres ekonomi harus mengorbankan keamanan anak, maka pemerintah lebih memilih buat pasang badan buat perlindungan anak. Lagipula, Meutya menyebut belum ada bukti konkret dari negara lain yang menerapkan aturan serupa kalau ekonomi digital mereka jadi jeblok gara-gara proteksi anak.

Detail Klasifikasi Bakal Segera Rilis

Buat kalian yang penasaran soal teknisnya, mulai dari klasifikasi platform, tata laksana, sampai interval waktu pelaksanaannya, Komdigi bakal rilis detailnya dalam waktu dekat.

Pemerintah juga nggak menutup mata sama masukan dari para pelaku usaha. Meutya bilang kalau mereka bakal tetap hati-hati dalam menentukan klasifikasi biar semuanya fair. Masukan dari asosiasi kayak idEA tetap ditampung buat bahan pertimbangan biar transisi ke PP Tunas ini berjalan mulus tanpa drama yang berarti.

Jadi, buat para stakeholder ekonomi digital, kuncinya satu: adaptasi. Karena per Maret 2026, cara main di dunia digital Indonesia resmi punya standar keamanan baru yang lebih “ramah bocah”.

source: cnbcindonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Exit mobile version