Ilustrasi. Pemerintah Indonesia baru saja meresmikan aturan main baru buat kamu yang hobi main media sosial, terutama buat adik-adik atau anak di bawah umur. (Foto ilustrasi: AI)
Pemerintah resmi ketok palu aturan batas usia sosmed lewat PP Tunas. Cek 7 poin risiko yang wajib dipahami biar nggak kena blokir.
JAKARTA, POPERS.ID | Pemerintah Indonesia baru saja meresmikan aturan main baru buat kamu yang hobi main media sosial, terutama buat adik-adik atau anak di bawah umur. Lewat PP Nomor 17 Tahun 2025 atau yang lebih beken disebut PP Tunas, sekarang nggak bisa sembarangan lagi bikin akun TikTok, Instagram, atau YouTube.
Aturan yang sah sejak Maret 2025 ini bikin platform raksasa harus makin ketat soal siapa saja yang boleh sign up. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) sekarang lagi kebut aturan turunannya supaya platform kayak IG dan TikTok punya standar yang jelas soal batas usia.
Komdigi Lagi Godok Aturan Teknis
Direktur Jenderal Pengawasan Ruang Digital Komdigi, Alexander Sabar, ngejelasin kalau mereka lagi nyusun dua senjata utama: Rancangan Peraturan Menteri (RPM) dan Rancangan Keputusan Menteri (RKM).
Bedanya apa? RPM bakal ngatur soal hukuman atau sanksi administratif kalau ada platform yang bandel. Sedangkan RKM itu isinya lebih ke panduan teknis buat perusahaan sosmed soal cara mereka menilai risiko di platform mereka sendiri.
Pemerintah juga nggak menutup mata. Mereka sudah dengerin 362 masukan dari akademisi, asosiasi usaha, sampai organisasi masyarakat sipil lewat konsultasi publik yang baru ditutup Januari 2026 kemarin. Semua masukan ini lagi dipilah mana yang paling pas buat diterapin di Indonesia.
Perhatikan 7 Hal Ini: Risiko yang Jadi Incaran Pemerintah
Dalam proses penyusunan aturan ini, Komdigi pakai metode Delphi Study yang ngumpulin para ahli buat memetakan bahaya apa saja yang mengintai anak-anak di dunia maya. Ada 7 aspek risiko utama yang jadi fokus penilaian:
Risiko Konten: Jangan sampai anak-anak terpapar konten dewasa, kekerasan, atau hoaks.
Risiko Kontak: Melindungi anak dari orang asing yang punya niat jahat (predator online).
Eksploitasi: Mencegah anak dimanfaatkan secara komersial atau seksual di platform digital.
Perlindungan Data Pribadi: Data anak nggak boleh bocor atau diperjualbelikan sembarangan.
Adiksi: Mengatur biar nggak kecanduan scrolling sampai lupa waktu.
Kesehatan Mental: Menjaga dari risiko cyberbullying yang bikin mental down.
Kesehatan Fisik: Dampak kurang gerak atau radiasi layar yang berlebihan.
Apa Dampaknya Buat Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE)?
Nantinya, platform kayak TikTok dan Instagram wajib melakukan self-assessment atau penilaian mandiri. Mereka harus jujur soal fitur mereka sendiri. Kalau ternyata fitur mereka dianggap punya profil risiko tinggi buat anak, mereka wajib bikin langkah mitigasi atau pencegahan yang konkret.
Bukan cuma itu, pemerintah juga lagi nyiapin aturan soal denda. Jadi, kalau ada platform yang masih membiarkan anak di bawah umur akses konten berbahaya tanpa filter yang bener, siap-siap saja kena denda administratif yang bakal masuk ke kas negara.
Langkah selanjutnya, Komdigi bakal melakukan harmonisasi aturan ini dengan Kementerian Hukum sebelum akhirnya resmi dijalankan secara total di seluruh Indonesia. Jadi, buat para orang tua dan pengguna muda, yuk mulai lebih aware sama batasan usia di media sosial.