Science and Technology
Scroll Ampe Pegel Cuma Liat Konten Sampah? Fenomena ‘AI Slop’ Lagi Jajah Sosmed Kita!

Fenomena AI Slop bikin timeline media sosial penuh konten sampah yang menipu. Dari balita berjenggot sampai narasi palsu, netizen mulai gerah dan suarakan perlawanan lewat gerakan anti-AI brain rot.
POPERS.ID | Pernah nggak sih lo lagi asik scrolling Facebook atau Instagram, terus nemu foto bocah kelaparan tapi anehnya mereka punya jenggot tebal? Atau mungkin video kucing “operasi” perut yang kelihatan sangat fake tapi dapet jutaan likes? Kalau iya, selamat, lo baru aja kena zoning di wilayah AI Slop.

Istilah “Slop” ini lagi jadi omongan hangat di kalangan anak muda global. Singkatnya, ini adalah konten sampah hasil generatif AI yang dibuat asal-asalan, tanpa kualitas, tapi entah gimana caranya selalu nangkring di algoritma kita.
Semua ini bermula dari keresahan Théodore, seorang mahasiswa umur 20 tahun asal Paris. Dia ngerasa dunia internet makin nggak masuk akal. Suatu hari, dia liat foto dua anak kecil di pinggir jalan lagi bawa kue ulang tahun di tengah hujan deras. Masalahnya, anak-anak itu punya jenggot, satu tangannya hilang, dan anatomi kakinya berantakan.

Anehnya? Foto itu viral dengan hampir satu juta likes dan emoji hati dari orang-orang yang tertipu.
Karena geregetan, Théodore bikin akun di X (Twitter) namanya “Insane AI Slop”. Dia mulai nge-spill konten-konten absurd ini buat jadi bahan bercandaan sekaligus edukasi. Hasilnya? Dalam waktu singkat, dia punya 133.000 followers yang ngerasa punya keresahan yang sama: “Kenapa sosmed kita isinya jadi begini?”
Jawabannya simpel: Uang dan Algoritma.
Para kreator konten nakal ini tahu kalau tema-tema seperti agama, militer, atau kemiskinan (misalnya anak Afrika bikin patung dari sampah) itu gampang bikin orang trenyuh. Mereka tinggal minta AI bikin gambar “wholesome” palsu, posting, dan nunggu engagement masuk.
Di YouTube, situasinya makin parah. Riset dari perusahaan AI Kapwing nyebutin kalau 20% konten yang disodorin ke akun baru adalah “low-quality AI video”. Bahkan, ada satu channel dari India bernama Bandar Apna Dost yang dapet 2,07 miliar views dari konten ginian, dengan estimasi penghasilan mencapai $4 juta per tahun!
Pas kita lagi pusing sama konten sampah, para petinggi tech justru makin semangat. CEO Meta, Mark Zuckerberg, bilang kalau sosmed sekarang masuk fase ketiga di mana AI bakal jadi mesin utama buat bikin konten. Meta malah ngerilis berbagai tools supaya orang makin gampang bikin konten AI.

CEO YouTube, Neal Mohan, juga setuju kalau AI itu kayak Photoshop zaman dulu sebuah revolusi. Meski dia sadar ada masalah “low-quality content”, YouTube lebih milih buat nggak terlalu kaku soal apa yang boleh dan nggak boleh viral.
Masalahnya bukan cuma soal gambar jelek. Para ahli, kayak Alessandro Galeazzi dari University of Padova, khawatir banget sama efek “Brain Rot”. Karena kita terus-terusan disuapin konten sampah yang nggak butuh mikir, daya konsentrasi kita makin menurun.
Lebih serem lagi, AI slop dipakai buat politik. Contohnya, pas ada kejadian di Venezuela, muncul video AI orang-orang nangis sambil berterima kasih ke Amerika Serikat yang ternyata palsu. Ini jelas bahaya karena banyak orang sekarang cuma dapet berita dari sosmed.
Untungnya, nggak semua orang mau diem aja. Sekarang lagi ada gerakan “People Power” di kolom komentar. Sering banget ditemukan komentar kayak, “Angkat tangan kalau lo udah muak sama sampah AI ini!” yang jumlah likes-nya jauh lebih banyak daripada postingan aslinya.
Pinterest bahkan udah mulai kasih opsi buat opt-out (ngumpetin) konten AI, meskipun sistemnya masih bergantung pada kejujuran pengunggahnya.
Tapi bagi Théodore, perjuangan ini terasa berat. Dia ngerasa AI slop udah nggak bisa dihentikan karena perusahaan besar lebih mentingin scrolling time user daripada kualitas konten. “Gue nggak benci AI, gue cuma benci polusi digital yang dibikin cuma demi views instan,” pungkasnya.
source: bbc/Joe TidyCyber correspondent, BBC World Service
Bye-bye drama revisi slide semalaman, fitur baru di sidebar PowerPoint ini siap jadi partner diskusi plus...
Indonesia ternyata punya pusat pendidikan tertua di dunia yang sudah eksis jauh sebelum University of Oxford...
BOGOR, POPERS.ID | Kabar gembira buat para Apple user di tanah air! Setelah melalui masa penantian...
Jangan sampai kehilangan akses chatting, yuk cek apakah perangkat kamu masuk dalam daftar HP yang terdampak...
Meski terdengar meyakinkan dan punya referensi, studi terbaru BMJ Open ungkap risiko besar pakai chatbot buat...

