National News

Pandji Nobar Mens Rea Bareng MUI: Gak Cuma Ketawa, Tapi Belajar Empati

Published on

Komika Pandji Pragiwaksono mengaku sempat menonton bareng MUI terkait pertunjukan Mens Rea. (Foto: iNews.id)

Pandji Pragiwaksono datangi MUI buat bahas materi stand up Mens Rea yang sempat viral, janji bakal lebih aware sama perasaan audiens ke depannya.

JAKARTA | Komika senior Pandji Pragiwaksono baru-baru ini bikin gerakan yang cukup mengejutkan. Alih-alih menghindar dari keriuhan publik soal pertunjukan stand up comedy terbarunya yang bertajuk Mens Rea, Pandji justru langsung tancap gas mendatangi kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Bukan sekadar silaturahmi biasa, Pandji dan pihak MUI ternyata sempat duduk bareng buat nonton ulang rekaman pertunjukan tersebut. Sesi nonton bareng (nobar) ini jadi momen diskusi serius buat membedah materi yang belakangan ini ramai jadi bahan omongan netizen.

Dialog Terbuka dan Evaluasi Karya

Pandji mengakui bahwa dalam pertemuan tersebut, ia mendapatkan banyak masukan berharga. Menurutnya, diskusi ini membuka ruang baginya untuk melihat karyanya dari perspektif yang berbeda. Ia diingatkan bahwa sebagai seorang kreator, proses belajar itu tidak ada habisnya.

“Saya tadi berdialog dan kami sempat menonton pertunjukannya bareng-bareng. Terus sudah gitu sempat ada diskusi dan saya diingatkan bahwa sebagai orang yang berkarya tentu selalu ada ruang untuk jadi lebih baik lagi,” ujar Pandji saat ditemui di lokasi.

Pertemuan ini menjadi jembatan komunikasi agar tidak terjadi salah paham yang berkelanjutan antara seniman dan lembaga keagamaan. Pandji tampak sangat terbuka menerima kritik dan saran yang diberikan oleh para pengurus MUI terkait pemilihan materi komedinya.

Komitmen Jaga Perasaan Audiens

Sebagai seniman yang sudah lama malang melintang di dunia hiburan, Pandji menegaskan bahwa niat utamanya adalah menghibur. Namun, ia menyadari bahwa sebuah karya yang bagus juga harus mempertimbangkan aspek sosial dan perasaan banyak orang.

Pandji berkomitmen untuk melakukan improvement pada materi-materinya ke depan. Ia ingin memastikan bahwa candaan yang dilemparkan tetap bisa dinikmati tanpa harus melukai hati pihak tertentu secara berlebihan.

“Saya punya komitmen, karena saya ingin terus berkarya dan karyanya didesain untuk menghibur sebanyak-banyaknya orang, maka karya itu harus didesain dengan mempertimbangkan perasaan sebanyak-banyaknya orang juga,” tambahnya.

Ia juga sudah memastikan di depan pihak MUI bahwa langkah perbaikan ini adalah janji serius yang akan ia terapkan dalam setiap pertunjukannya di masa mendatang.

Pesan untuk Komika Indonesia

Kejadian ini tidak hanya dijadikan pelajaran pribadi oleh Pandji. Ia berharap rekan-rekan sesama komika di Indonesia bisa mengambil hikmah dari apa yang ia alami. Baginya, kritik bukan berarti akhir dari kreativitas, melainkan bahan bakar untuk tumbuh jadi lebih dewasa dalam berkarya.

Pandji mengajak para komika untuk tetap berani bercerita namun tetap memiliki tanggung jawab moral terhadap konten yang mereka buat. Menurutnya, konsistensi dalam memperbaiki kualitas materi adalah kunci agar ekosistem stand up comedy di Indonesia tetap sehat dan dihargai masyarakat luas.

“Moga-moga ini akan membuat siapa pun komika di Indonesia untuk semakin mantap berkarya, karena tahu bahwa karya ini harus dilakukan dengan perbaikan terus-menerus,” tutup Pandji.

source: inews

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Exit mobile version