Imam At-Tirmidzi adalah sosok ulama besar yang punya peran penting dalam ilmu hadis. Kecerdasannya luar biasa, dan banyak Muslim meneladani kisah hidupnya. Bersama Imam Bukhari, Imam Muslim, dan lainnya, ia menjadi salah satu periwayat hadis terkemuka. Tapi, di balik ilmunya yang luas, perjalanan hidupnya penuh tantangan. Bahkan, di akhir hayatnya, ia mengalami kebutaan.
Perjalanan Ilmu Sang Imam
Imam At-Tirmidzi lahir pada tahun 209 H di Tirmiz, sebuah kota di wilayah Uzbekistan saat ini. Nama lengkapnya cukup panjang: Imam Al-Hafiz Abu Isa Muhammad bin Isa bin Saurah bin Musa bin Ad-Dahhak As-Sulami At-Tirmidzi. Sejak usia 20 tahun, ia sudah aktif mencari ilmu, terutama dalam bidang hadis.
Perjalanan menuntut ilmunya membawanya ke banyak negeri, seperti Hijaz, Irak, dan Khurasan. Di sana, ia belajar dari para ulama besar, termasuk Imam Bukhari, Imam Muslim, dan Imam Abu Daud. Kepintarannya luar biasa, ia bisa menghafal hadis dengan cepat dan mencatatnya dengan sangat rapi. Tak heran, banyak hadis yang ia pelajari kemudian dibukukan dalam karya-karyanya.
Kehilangan Penglihatan
Sepanjang hidupnya, Imam At-Tirmidzi dikenal sebagai sosok yang tekun dan tawadhu’. Namun, di akhir usianya, ia mengalami kebutaan. Meski begitu, semangatnya dalam menyebarkan ilmu tak pernah padam. Murid-muridnya tetap mencatat dan meriwayatkan hadis darinya.
Wafatnya Imam At-Tirmidzi
Setelah hidup penuh perjuangan di dunia ilmu, Imam At-Tirmidzi wafat di kota kelahirannya, Tirmiz, pada 13 Rajab 279 H dalam usia 70 tahun. Karya-karyanya tetap menjadi rujukan utama hingga kini, terutama bagi para pencari ilmu hadis.
Karya-Karya Imam At-Tirmidzi
Imam At-Tirmidzi meninggalkan banyak karya berharga. Beberapa di antaranya yang terkenal adalah:
Kitab Al-Jami’ (lebih dikenal sebagai Sunan At-Tirmidzi)
Kitab Al-‘Ilal
Kitab Asy-Syama’il An-Nabawiyyah
Kitab Tasmiyyatu Ashhabi Rasulillah
Kitab At-Tarikh
Kitab Az-Zuhd
Kitab-kitab ini masih dipelajari hingga kini oleh para ulama dan pecinta ilmu hadis. Kisah hidupnya menjadi inspirasi bagi banyak orang, membuktikan bahwa perjuangan dalam ilmu adalah warisan yang tak ternilai.