Pengantar Presiden Prabowo pada Sidang Kabinet Paripurna, Kantor Presiden, 22 Januari 2025
JAKARTA | Presiden Prabowo Subianto lagi ngebut biar ekonomi Indonesia tumbuh 8%. Tapi, keputusan buat potong APBN Rp306 triliun bikin banyak yang was-was. Pemotongan ini diatur lewat Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2025, yang nyuruh menteri dan lembaga negara buat ngurangin belanja yang nggak penting.
Ekonom dari UI, Telisa Aulia Falianty, bilang kalau potongan anggaran ini salah sasaran, bisa bahaya. Misalnya, kalau belanja modal yang penting malah dikurangin buat program yang dampaknya kecil dalam jangka pendek. Dia kasih contoh, program makan bergizi gratis (MBG) efeknya butuh waktu, beda sama perjalanan dinas yang langsung gerakin sektor transportasi dan hotel.
“Kalau salah alokasi, pertumbuhan ekonominya malah bisa terhambat. Awal-awal kelihatan kontraktif, efek positifnya nunggu lama,” ujar Telisa.
Di sisi lain, ekonom Indef, Esther Sri Astuti, dukung ide efisiensi anggaran, asal dialokasikan buat hal yang impactful jangka panjang kayak swasembada pangan dan energi. “Jangan cuma buat program temporer. Fokus ke yang bikin ekonomi lebih sustain,” katanya.
Pemerintah juga diminta bikin indikator jelas buat ngevaluasi kebijakan ini. Kalau belanja modal dikorbankan, dampaknya bisa bikin pertumbuhan ekonomi melambat.
Oh iya, kebijakan ini nggak ngaruh ke belanja pegawai dan bantuan sosial, ya. Tapi, tetap aja bikin orang-orang nunggu gimana hasilnya nanti di akhir tahun 2025.